Jatim Berpotensi Swasembada Bawang Putih

SURABAYA—Provinsi Jawa Timur mempunyai potensi besar menuju swasembada bawang putih lantaran mampu mengembangkan varietas baru, teknologi serta kawasan lahan luas yang cocok untuk budi daya.
Baswarsiati, Peneliti Ahli Utama Bidang Bawang Merah dan Bawang Putih, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, mengatakan Jatim memiliki luas lahan yang sesuai untuk pengembangan tanaman sub tropis ini.
“Bawang putih di negara asalnya memang ditanam di dataran tinggi, tetapi di sini kami sudah uji coba varietas baru di kawasan dengan dataran lebih rendah sekitar 450–600 meter di atas permukaan laut (mdpl),” katanya kepada Bisnis (Grup Media Koran Solo), Selasa (25/2).
Dia menjelaskan saat ini BPTP Jatim sudah mengembangkan tanaman bawang putih di Karangploso Malang. Lokasi tersebut termasuk dataran medium dan hasilnya bawang putih bisa tumbuh bersiung.
“Tanaman ini bisa tumbuh di dataran medium karena faktor varietasnya, dan juga teknologi penanaman yakni menanam pada bulan Mei–Juni, dan memanfaatkan suhu udara dingin sekitar 16–20 derajat pada musim kemarau di bulan Juli–Agustus agar keluar umbinya,” jelasnya.
Adapun Indonesia sudah memilik lima varietas bawang putih yang telah dikembangkan sejak 1984–1990 yakni Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, Lumbu Putih, Sanggah Sembalun, dan Tawangmangu Baru.
Tahun ini, terdapat varietas baru yang siap dilepas yakni Kayu Bawang Putih yang mampu tumbuh di atas dataran 450 mdpl. Varietas baru ini mampu memproduksi 10–12 ton kering panen.
Baswarsiati mengakui biaya produksi tanaman bawang putih saat ini memang masih tinggi yakni sekitar Rp80 juta–Rp100 juta/ha mengingat harga bibitnya juga masih mahal di atas Rp60.000/kg. Sengan upaya pembibitan oleh petani lokal, dia yakin ke depan harga bibit bisa terjangkau.
“Sebetulnya biaya tanam bawang putih dan bawang merah tidak terlalu jauh beda. Meski hasil produksi bentuk siungnya kecil, tidak seperti bawang putih impor, tapi bawang putih lokal kita aromanya lebih kuat. Pemakaian satu siung bawang putih lokal itu setara dengan lima siung bawang impor,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Hadi Sulistyo mengatakan sasaran produksi tanaman bawang putih di Jatim tahun ini ditargetkan mencapai 8.211 ton. Sasaran produksi tahun ini meningkat dibandingkan realisasi 2019 yang hanya 6.935 ton.
“Meski sudah mampu meningkatkan produksi, tetapi memang Jatim masih defisit terhadap komoditas ini. Kalau 2019 produksinya 6.935 ton, tingkat konsumsi masyarakat 62.880 ton, artinya masih defisit 55.927 ton,” ujarnya.
Selama ini kebutuhan bawang putih di Jatim disuplai dari impor Tiongkok. Namun, dia meyakini Jatim bisa swasembada dari lahan yang berpotensi yakni seluas 8.651 ha, lokasinya tersebar di Probolinggo, Pasuruan, Banyuwangi, Malang, Lumajang, Kota Batu, Mojokerto, dan Magetan.
Khusus perluasan lahan tahun ini yang menggunakan APBN yakni di Banyuwangi 170 ha, Malang 250 ha, Probolinggo 75 ha, Batu 50 ha, Bondowoso 1.000 ha dan yang menggunakan APBD yakni Probolinggo 1 ha. Dari rencana tanam 2020 tersebut, maka kebutuhan benih bawang putih adalah 387.000 kg. (Peni Widarti/Bisnis Indonesia/JIBI)