RATUSAN TON PUPUK PALSU DIPRODUKSI DI WONOGIRI Bupati: Saya Kecolongan!

WONOGIRI—Bupati Wonogiri Joko Sutopo (Jekek) mengaku kecolongan terkait beroperasinya pabrik pupuk palsu di wilayah yang dipimpinnya.
Rudi Hartono
redaksi@koransolo.co

Ia meminta maaf karena terlambat mengetahui informasi itu sehingga banyak petani yang tertipu. Dia berjanji akan mengevaluasi kegiatan yang berhubungan dengan pertanian dan distribusi pupuk di Wonogiri.
“Kami punya 2.249 poktan, 290 gapoktan, dan 291 kios pupuk lengkap [kios resmi yang ditunjuk sebagai penyalur pupuk bersubsidi kepada petani). Hingga sekarang kami tidak pernah mendapat aduan dan tidak pernah menemukan pupuk yang diduga palsu. Petani pun belum pernah melapor kepada kami.”
Bersambung ke Hal. 7 Kol. 1
“Maka dengan ini kami menyampaikan permohonan maaf karena sebenarnya kami dengan jajaran Polri, TNI, dan semua elemen sangat sinergi [dalam pengawasan distribusi pupuk],” ujar Bupati saat ditemui Koran Solo, Kamis (27/2).
Bupati menambahkan, temuan Polda ini menjadi evaluasi bagi pihaknya agar ke depan bisa melakukan pertemuan rutin dengan kelompok tani. “Di satu sisi upaya edukasi kepada petani berjalan baik, tetapi saya harus matur kami masih kecolongan dengan ditemukannya proses produksi pupuk palsu di Pracimantoro. Untuk itu ke depan akan kami lakukan evaluasi secara berkala, termasuk pertemuan rutin dengan poktan dan gapoktan,” tambahnya.
Dia tak memungkiri masih ada peluang pupuk palsu beredar. Hal itu karena kuota pupuk bersubsidi yang ditetapkan tak sesuai kebutuhan petani. Saat petani kekurangan pupuk, mereka mencari pupuk non-subsidi. Celah itu lah yang dimanfaatkan pelaku.
Salah satu tersangka, Teguh, mengaku memproduksi pupuk palsu dua bulan lalu. Dia memproduksi jika ada order. Orderan bervariasi dari 10 ton hingga belasan ton.
Sebelumnya, aparat Polda Jawa Tengah (Jateng) membongkar kasus produksi pupuk diduga palsu di tujuh pabrik di dua daerah, yakni Wonogiri dan Gunung Kidul, DIY, Rabu (26/2) sore. Polisi menangkap enam tersangka yang berperan sebagai pemilik pabrik dan petugas pemasaran.
Pupuk palsu yang beredar ke petani di berbagai daerah di Jateng dan Jawa Timur (Jatim) diduga mencapai ratusan ton. Para tersangka adalah Teguh Suparman, 54, warga Belik RT 001/RW 011, Desa Pracimantoro, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri. Ia pemilik satu pabrik di Pracimantoro. Tersangka kedua adalah Farid Giri Saputra, 28, warga Blindas RT 004/RW 005, Desa Pracimantoro yang memiliki tiga pabrik di Pracimantoro.
Tersangka lainnya, Arkhaa Aditia Ristianto, warga Munggur RT 002/RW 002, Ngipak, Karangmojo, Gunung Kidul; Sugito warga Asem Lulang, Sidorejo, Ponjong, Gunung Kidul; dan Achmad Yani, 44, warga Sidokumpul RT 003/RW 003, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik. Masing-masing dari mereka merupakan pemilik pabrik pupuk palsu di Gunung Kidul. Satu tersangka lain, yakni Suparlan, 47, warga Jaten RT 003/RW 009, Desa Ponjong, Kecamatan Gunung Kidul sebagai petugas yang memasarkan pupuk palsu milik Achmad Yani.
Benda Padat
Mereka dihadirkan dalam jumpa pers di tempat produksi pupuk palsu milik Teguh di Dusun Pule 002/RW 010, Kelurahan Gedong, Pracimantoro, Kamis (27/2) siang. Kegiatan dipimpin Kapolda Jateng, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel bersama Kapolres Wonogiri, AKBP Christian Tobing; Kapolres Klaten, AKBP Wiyono Eko Prasetyo, Dirreskrimsus Polda Jateng, Kombespol Wihastono, Bupati Wonogiri, Joko Sutopo; dan pejabat teras lainnya.
Kapolda kepada wartawan menyebut barang yang diproduksi pelaku adalah benda padat berbentuk butiran menyerupai pupuk SP-36 dan NPK. Mereka memasarkannya dengan memberi merek seperti layaknya pupuk yang diproduksi PT Petrokimia Gresik.
Berdasarkan hasil tes laboratorium terhadap sampel, kandungan zatnya jauh di bawah batas minimal pupuk asli. Hal itu karena bahan-bahan yang digunakan bukan bahan untuk membuat pupuk, tetapi hanya kalsit (bubuk gamping), kaolin, dan arang. Ada juga yang menggunakan kotoran kelelawar.
“Proses produksi di Wonogiri dan Gunung Kidul sudah lama. Kapasitas produksinya sangat besar. Di pabrik milik satu tersangka [Teguh] sini [Gedong, Pracimantoro] saja yang disita 400-an ton pupuk palsu siap edar dan bahan. Daerah pemasarannya lintas daerah lintas provinsi, seperti Solo, Klaten, Karanganyar, Wonosobo, Kebumen, Kediri, dan lainnya,” kata Kapolda.
Dia menceritakan, kasus ini terungkap setelah polisi menerima laporan dari petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sido Maju, Planggu, Trucuk, Klaten yang mencurigai pupuk yang mereka gunakan palsu.
Tak sedikit petani yang menggunakannya mengeluh tanaman padi mereka tak berkembang baik meski sudah dipupuk. Selain itu pupuk yang mereka gunakan meninggalkan warna merah di tangan yang tak hilang setelah beberapa hari pemakaian. Padahal, biasanya setelah tangan dicuci warna merah langsung hilang.
“Selain itu pupuk tak bisa ditebar kalau dicampur urea. Waktu dicampur pupuk malah lengket membentuk gumpalan-gumpalan. Curiga dengan itu petani melapor ke Polres Klaten. Setelah ditelusuri pupuk itu diketahui diproduksi di Gunung Kidul. Setelah dikembangkan lagi ternyata ada juga di Wonogiri,” ulas Kapolda.