Barat Khawatir Penanganan Corona di Indonesia

JAKARTA–Para diplomat Amerika Serikat, Kanada dan Australia meragukan penanganan corona di Indonesia.
Mereka mengingatkan pejabat tinggi pemerintah Indonesia tentang pentingnya melakukan pengujian virus mematikan itu.
Hingga saat ini, belum ada satu pun kasus corona terkonfirmasi ada di wilayah Indonesia. Sementara virus asal Wuhan, Tiongkok ini telah menyebar ke sedikitnya 50 negara di dunia dan nyaris semua negara tetangga Indonesia telah melaporkan adanya kasus corona.
Publik sempat dihebohkan dengan kematian seorang pasien suspect corona di RS Kariadi Semarang, beberapa hari lalu. Namun oleh tim medis dipastikan pasien yang baru pulang bepergian dari Spanyol itu meninggal karena terkena flu babi. Flu babi pernah menghebohkan dunia pada 2010 silam namun saat ini sudah teratasi.
Bersambung ke Hal. 7 Kol. 4
Virus corona memang kian merajalela. Jumlah korban meninggal akibat virus corona secara global sejauh ini melampaui 2.800 orang. Sebanyak 2.744 orang meninggal dunia di wilayah Tiongkok daratan. Dari jumlah itu 2.641 di antaranya meninggal di Provinsi Hubei yang menjadi pusat wabah ini. Total, sudah 82.000 orang dari 50 negara di dunia sudah terinfeksi virus mematikan tersebut.
Sumber diplomatik AS seperti dilansir media Australia, Sydney Morning Herald (SMH), Jumat (28/2), mengungkapkan para duta besar dari sejumlah negara barat– termasuk Dubes AS untuk Indonesia, Joseph Donovan yang belum lama ini selesai bertugas — menyampaikan kekhawatiran mereka kepada Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto dan pejabat-pejabat senior lainnya.
Menurut sumber tersebut, sejumlah poin pembicaraan mengenai wabah corona telah beredar di kalangan komunitas diplomatik di Jakarta.
Poin-poin itu diedarkan para pejabat AS, yang dimaksudkan untuk memastikan para diplomat asing menyampaikan pesan mengenai perlunya Indonesia melakukan lebih banyak upaya untuk mempersiapkan dan melindungi diri dari virus corona dalam pertemuan tertutup dengan pejabat Kesehatan RI.
Pesan yang disampaikan para diplomat AS itu mencakup peringatan bahwa ”kami yakin sangat penting bagi pemerintah Anda untuk secara aktif melakukan deteksi kasus”. Poin lainnya adalah ”banyak rumah sakit tidak memiliki peralatan perlindungan diri, tidak cukupnya tempat tidur isolasi dan transportasi spesimen yang tidak memadai.
Menurut SMH, para diplomat dari kedutaan-kedutaan seperti Australia, AS dan Kanada juga telah bertemu satu sama lain untuk membahas penyebaran virus yang tampaknya tidak menyebar ke Indonesia.
Terkait pemberitaan ini, seorang juru bicara Kedutaan Besar AS di Jakarta seperti diberitakan SMH, tidak membantah mantan Dubes Donovan pernah menyampaikan keprihatinannya mengenai wabah corona kepada Menkes Terawan sebelum dia menyelesaikan tugas diplomatiknya pada 14 Februari lalu.
”Kami secara rutin bertemu dengan pejabat-pejabat pemerintah Indonesia mengenai berbagai topik yang berkaitan dengan hubungan bilateral kami selama lebih dari 70 tahun. Kami tidak membahas secara publik rincian percakapan diplomatik kami. Soal wabah virus corona yang berkembang dengan cepat, sama seperti rekan-rekan Indonesia kami, kami mengamatinya dengan cermat, ”katanya.
”Pemerintah Amerika Serikat memberikan bantuan materi dan teknis kepada Indonesia. Bantuan ini untuk Indonesia dan negara-negara lain di kawasan ini sedang berlangsung,” imbuh juru bicara tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan akan menjadi kesalahan fatal bagi negara manapun yang beranggapan tidak akan terkena virus corona. WHO mengimbau negara-negara bertindak agresif untuk mencegah wabah ini sebelum terlambat alias jangan ada yang ditutup-tutupi.
Direktur Jenderal (Dirjen) WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan negara-negara kaya yang berpikir mereka aman dari virus ini, seharusnya memperkirakan adanya kejutan. “Tidak ada negara yang seharusnya beranggapan tidak akan mendapatkan kasus corona. Itu akan menjadi sebuah kesalahan fatal,” tegas Tedros.
WHO menetapkan wabah virus corona sebagai darurat internasional pada 30 Januari lalu dan mendorong semua negara mulai melakukan pemeriksaan, mempersiapkan bangsal karantina dan kampanye pendidikan publik. ”Virus ini memiliki potensi pandemic. Inilah saatnya untuk mengambil tindakan untuk mencegah penularan dan menyelamatkan banyak nyawa,” kata Tedros. (detik/JIBI)