Pengrajin Rotan Optimalkan Pasar Lokal

SUKOHARJO—Bisnis kerajinan rotan di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Sukoharjo, diperkirakan terkena dampak penularan virus corona (Covid-19) lantaran mayoritas order berasal dari luar negeri seperti Singapura, Italia, Belanda hingga Argentina.

Bony Eko Wicaksono
redaksi@koransolo.co

Para pengrajin rotan bakal mengoptimalkan pangsa pasar lokal demi menjaga kelangsungan hidup.
Mayoritas buyer berasal dari beberapa negara yang jumlah kasus penularan virus corona cukup tinggi seperti Italia dan Singapura. Biasanya, setiap buyer memesan kerajinan rotan dalam jumlah besar. Sebelum memesan, para buyer bakal mengunjungi pameran kerajinan rotan untuk menyurvei kualitas produk kerajinan rotan.
“Sekarang jumlah buyer yang mengunjungi pameran berkurang drastis. Bahkan, pameran kerajinan rotan yang semua dilaksanakan pada Maret harus ditunda sembari menunggu pencabutan travel warning,” kata seorang pengrajin rotan di Desa Trangsan, Suparji, saat berbincang dengan Koran Solo, Jumat (28/2).
Saat ini belum ada penurunan permintaan order kerajinan rotan dari luar negeri. Namun, Suparji pesimistis kondisi ini bisa bertahan lama. Para buyer diperkirakan mengurangi jumlah order sebagai imbas penyebaran virus corona.
Pengurus klaster rotan ini menyampaikan bakal mengoptimalkan pangsa pasar lokal untuk mengantisipasi anjloknya order dari pasar luar negeri. Potensi pangsa pasar lokal kerajinan rotan dinilai cukup menjanjikan yang berasal dari hotel, restoran dan cafe. “Hampir 90 persen produk kerajinan rotan diekspor ke luar negeri. Pangsa pasar lokal juga cukup menjanjikan. Justru pangsa pasar lokal tak terpengaruh virus corona,” ujar dia.
Kedatangan Konsumen
Selama ini, permintaan order kerajinan rotan dari dalam negeri berlipat ganda sejak pelaksanaan Grebeg Penjalin pada 2017. Agenda budaya tahunan ini mampu mendongkrak permintaan order lokal yang lesu sejak beberapa tahun terakhir.
Di Soloraya, lanjutnya, para pemilik restoran, cafe dan pengelola hotel kerap mendatangi para pengrajin rotan untuk memesan meja, kursi maupun aksesori yang terbuat dari rotan. Bahkan, tak sedikit warga yang mendatangi lokasi pembuatan rotan sembari memesan satu set meja dan kursi. “Saya juga sering mengikuti pameran produk kerajinan rotan di berbagai daerah. Banyak juga masyarakat yang memesan produk kerajinan rotan saat pameran,” tutur Suparji.
Sementara itu, ketua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Trangsan, Suryanto, mengungkapkan bisnis kerajinan rotan kian kompetitif di era global. Industri rotan bisa tetap eksis karena menjaga kualitas bahan baku yakni rotan alami. Saat ini, industri rotan harus bersaing ketat dengan kerajinan rotan sintetis asal Tiongkok di pasar domestik.
Pengurus klaster rotan kerap mengedukasi para pengrajin untuk berinovasi dalam membuat kerajinan rotan. “Skill dan kemampuan pengrajin ditingkatkan baik dari aspek kualitas produk, promosi, hingga pemasaran. Mau tak mau mereka harus mengikuti perkembangan teknologi dan persaingan bisnis. Edukasi dilakukan terus menerus agar kerajinan rotan tak monoton dan terkesan tua,” kata dia.