Perajin Cangkul Klaten Sambat Terkendala Pemasaran

KLATEN—Para pandai besi di Klaten meminta bantuan pemasaran produk terutama cangkul. Mereka berharap ada program satu keluarga satu cangkul lokal.
Hal itu disampaikan perwakilan pandai besi asal Dukuh Karangpoh yang berada di Desa Bonyokan, Kecamatan Jatinom dan Desa Padas, Kecamatan Karanganom, Klaten, saat menghadiri kegiatan Ngopi Bareng di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Jumat (28/2). Ada ratusan pande besi di Dukuh Karangpoh yang berada di wilayah perbatasan antara Desa Bonyokan dengan Padas itu. Sebanyak 50 pengrajin tergabung dalam Koperasi Delapan Belas.
Sekretaris Koperasi Delapan Belas, Supriyanto, mengatakan selama ini produksi cangkul pasang surut. Proses produksi para pengrajin mengandalkan pesanan yang datang dari para bakul dan memasarkannya hingga ke luar Pulau Jawa. “Pemasaran menjadi kendala utama kami. Ada musim ramai ada musim sepi order. Yang cenderung lebih panjang itu musim sepi order,” kata Supri saat ditemui wartawan seusai pertemuan.
Saat musim sepi order, pengrajin memproduksi sekitar 50 cangkul per hari. Kondisi berbeda ketika musim ramai orderan datang yang memproduksi hingga ratusan cangkul per hari. Kendala pemasaran itu kian sulit ketika ramainya cangkul impor di pasaran dengan harga jual lebih murah dibandingkan cangkul lokal.
Supri mengatakan ada tiga kelas cangkul yang dibikin pengrajin. Kelas A merupakan cangkul yang dibikin dari baja dengan harga Rp125.000. Kelas B merupakan cangkul kombinasi besi dan baja dengan harga Rp50.000. Kelas C merupakan cangkul yang dibikin berbahan besi dan dijual seharga Rp45.000.
“Kalau cangkul impor yang saya dengar itu harganya sekitar Rp35.000. Sebenarnya kalau [cangkul] produk Tiongkok tidak bisa langsung digunakan karena ujungnya tumpul sehingga harus dibawa ke pandai besi dulu. Kalau produk lokal bisa langsung digunakan. Dari sisi kualitas sebenarnya cangkul lokal tidak kalah,” kata Supri.
Supri berharap ada pemihakan dari pemerintah dengan memberikan bantuan pemasaran cangkul. Dia sepakat ada wacana satu rumah satu cangkul lokal yang mencuat dalam pertemuan para perajin dengan pejabat di Klaten pagi itu. “Paling tidak diawali dari desa kemudian dari kabupaten dulu. Syukur-syukur yang disampaikan bupati satu rumah satu cangkul atau satu PNS satu cangkul bisa terealisasikan. Ini yang menjadi harapan kami para perajin agar lebih maju lagi,” kata dia.
Bupati Klaten, Sri Mulyani, menanggapi usulan satu rumah satu pacul muncul saat kunjungan Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, mengunjungi sentra perajin cangkul di Klaten beberapa waktu lalu. “Saya sepakat juga kalau satu rumah satu cangkul. Cangkul itu alat yang murah dan penting untuk setiap keluarga. Apalagi di Klaten
sebagai daerah pertanian, cangkul
sangat penting,” kata Mulyani.
Disinggung bantuan dari pemkab, Mulyani mengatakan Pemkab segera mengaji formula untuk bantuan kepada para perajin cangkul lokal. “Nanti ada pembahasan untuk 2021. Formula bantuan seperti apa akan kami kaji dulu. Harapan saya itu setidaknya satu petani diberikan bantuan satu cangkul lokal dulu,” urai dia. (Taufiq Sidik Prakoso)