PUPUK PALSU DI WONOGIRI Bahan Sama Hanya Beda Warna

WONOGIRI—Pemilik pabrik pembuat pupuk palsu di Wonogiri dan Gunungkidul menggunakan bahan yang sama untuk memproduksi beberapa jenis pupuk.

Rudi Hartono
redaksi@koransolo.co

Untuk setiap jenis pupuk, para pelaku hanya membedakannya dengan memberi warna berbeda.
Bersambung ke Hal. 7 Kol. 1
Tak heran pupuk-pupuk tersebut tak memberi dampak apapun terhadap perkembangan tanaman padi.
Informasi yang dihimpun Koran Solo, Jumat (28/2), bahan yang mereka gunakan hanya sembarangan, yakni kalsit (serbuk gamping), kaolin (serbuk tanah liat), basar (batuan yang dilembutkan), serbuk arang, dan pewarna.
Penelusuran Koran Solo di pabrik milik Teguh Suparman, 54, di Dusun Pule 002/RW 010, Kelurahan Gedong, Pracimantoro, Wonogiri tidak ada pemilahan bahan baku. Semua bahan baku ditempatkan di lokasi yang sama.
Ada tempat yang digunakan untuk mencampur berbagai bahan. Pabrik itu memiliki empat mesin pembuat granul (butiran) yang berbentuk seperti wajan berukuran besar. Selain itu terdapat dua oven berbentuk tabung.
Salah satu pekerja, Iswanto, 39, membeberkan bahan yang digunakan untuk membuat beberapa jenis pupuk sama saja. Prosesnya menyesuaikan jenis pupuk yang diinginkan, yakni NPK atau SP-36. Dia mencontohkan pembuatan pupuk jenis SP-36.
Pertama bahan dasar, yakni kalsit, kaolin, dan basar dicampur dengan serbuk arang sebagai pewarna hitam. Setelah tercampur bahan dibuat butiran kecil menggunakan mesin berbentuk wajan besar yang berputar.
Pada proses itu akan dihasilkan “pupuk SP-36” setengah jadi. Selanjutnya produk dioven, lalu diayak atau disaring menggunakan alat tertentu. Iswanto menyebutnya screen. Hasil penyaringan kemudian dikemas menggunakan kresek berukuran 50 kg/kresek. Produk diberi warna hitam agar menyerupai SP-36 asli.
“Kalau mau bikin jenis lain bahan yang tidak dipakai hanya arang. Bahan yang sudah tercampur tinggal diberi warna saat proses pembentukan granul. Pewarnaannya dengan cara disemprotkan. Selain hitam, yang dibuat di sini pupuk warna biru dan putih. Kalo hitam diberi jenis SP-36, biru diberi merek Prima Plus dan Mutiara, dan yang putih hanya kaolin tanpa campuran. Kaolinnya buat apa kami enggak tahu,” kata Iswanto diamini rekan kerjanya di pabrik, Sriyono, 36.
Dia melanjutkan proses produksi tergantung pesanan. Satu pesanan bisa mencapai beberapa ton yang dikerjakan beberapa hari. Selama bahan tersedia produksi bisa lancar.
Pengadaan bahan dan pesanan yang mengurus pemilik pabrik. Ismianto dan teman-temannya tak mengetahui, mereka hanya mengerjakan perintah pemilik pabrik. Saat tidak ada order proses produksi libur beberapa hari.
“Saya tidak tahu kalau pupuk yang kami buat ini palsu. Kami hanya mengerjakan sesuai perintah Pak Teguh. Hasil produksi diedarkan ke mana saja kami enggak tahu,” ucap warga Jeruk Gulung, Melikan, Rongkop, Gunung Kidul yang sudah lebih dari setahun bekerja bekerja itu.
Pengembangan Kasus
Anggota staf perwakilan daerah penjualan Wonogiri Karanganyar Sukoharjo PT Petrokimia Gresik, Afik Dwi Warsono, menegaskan pembuatan NPK, SP-36, urea, atau pupuk lainnya menggunakan bahan khusus. Bahan yang digunakan bukan bahan yang dipakai para pelaku.
Dia menjelaskan pupuk harus mengandung unsur yang dibutuhkan tanaman sesuai standar. SP-36 mengandung pospat (unsur P), urea mengandung nitrogen (unsur N), dan NPK campuran antara unsur N, P, dan kalium (K).
Kapolda Jawa Tengah (Jateng), Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, memastikan penyidik Direktorat Reserse Kriminan Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng akan mengembangkan penyidikan.
Langkah itu untuk menelusuri asal muasal bahan yang diperoleh para pemilik pabrik, pemesan, dan fakta lainnya. Seperti diketahui, Polda Jateng mengungkap kasus pemalsuan pupuk oleh tujuh pabrik di Wonogiri dan Gunung Kidul, Rabu (26/2) lalu. Tujuh tersangka ditangkap.