Sempat Terlupakan Kini Menuai Ketenaran

Koyo ngene rasane wong nandang kangen Rino wengi atiku rasane peteng Tansah kelingan kepingin nyawang Sedelo wae uwis emoh tenan.
Rezha Hadyan
redaksi@jibinews.co

Potongan lirik lagu berjudul Pamer Bojo itu kembali naik daun bersama dengan penyanyinya, Didi Prasetyo atau tenar dengan nama panggung Didi Kempot. Pria asal Surakarta, Jawa Tengah ini terbilang sukses membuat campursari, yang beberapa tahun lalu dianggap ketinggalan zaman, kini naik kelas.
Pamer Bojo, bersama lagu-lagu Didi Kempot lainnya seperti Banyu Langit, Cidro, dan Sewu Kuto mulai mendapatkan tempat di hati muda-mudi urban.
Wajah Didi Kempot juga mulai menghiasi berbagai tayangan televisi nasional. Padahal sebelumnya, wajah pria berusia 54 tahun itu lebih banyak mejeng di layar kaca yang terpasang dalam bus antarkota Pulau Jawa bersama dengan penyanyi dan orkes dangdut koplo lainnya.
Apa yang terjadi pada Didi Kempot saat ini tak lepas dari peran penggemarnya, terutama dari kalangan muda-mudi yang populer dengan sebutan Sobat Ambyar. Lewat merekalah julukan The Godfather of Broken Heart lahir dan akhirnya melambungkan nama penyanyi yang sempat mengamen di Slipi, Jakarta Barat itu.
Melihat kepopulerannya ini, putra dari seniman tradisional terkenal Ranto Edi Gudel itu mengaku tak pernah membayangkan bisa begitu tersohor dan memiliki banyak penggemar dari kalangan milenial. Saat melangsungkan konser, Didi tak menyangka muda-mudi urban bisa larut dalam suasana dan menyanyikan lagu-lagunya dengan baik.
“Nyanyi di Jakarta tapi rasanya kok kayak bukan di Jakarta, penontonnya kok iso [bisa] nyanyi boso Jowo [bahasa Jawa] lancar kabeh [semuanya]. Iki (ini) bukti kalau orang Jakarta tak seperti yang saya kira sebelumnya, tidak suka dengan musik-musik tradisional seperti campursari Jawa,” ujarnya.
Di sisi lain, popularitas Didi Kempot di kalangan muda-mudi juga karena imbas dari dukungan media sosial. Lagu-lagu dia mengemuka usai cuitan dari akun Twitter @AgusMagelangan milik penulis Agus Mulyadi pada pertengahan tahun lalu. Kepopuleran Didi Kempot makin menjadi-jadi setelah tampil di salah satu vlog milik penyiar radio sekaligus Youtuber Gofar Hilman.
Harapan pelantun Sewu Kuto itu sebetulnya tidak muluk-muluk. Adik kandung pelawak senior Srimulat Mamiek Prakoso itu hanya ingin agar karya-karyanya yang menjadi bagian dari budaya Jawa bisa abadi. Dia juga berharap agar makin banyak anak-anak muda yang mencintai serta menjaga dengan baik budaya dan seni tradisional Indonesia.
Menurutnya, seni tradisional merupakan penjaga budaya Indonesia dari gempuran budaya-budaya luar negeri, khususnya budaya barat.
Mengamati kepopuleran musisi campursari tersebut, pengamat musik Bens Leo menilai, tanpa adanya peran dari media sosial kepopuleran Didi Kempot di kalangan muda-mudi urban kemungkinan tidak akan seperti saat ini. Walupun musisi itu didukung oleh penggemarnya yang besar dan militan.
Selain itu, menurutnya kepopuleran tersebut juga merupakan buah dari ketekunan dan kerja kerasnya selama lebih dari tiga dekade. “Fenomena seperti ini tentunya tidak lepas dari peran berbagai media sosial yang memviralkan sosoknya,” ujarnya.
Bens menyebut kepopuleran Didi Kempot saat ini membuktikan bahwa lagu-lagu berbahasa daerah tidak akan ditinggalkan begitu saja oleh penikmat musik Tanah Air.
Bukan tidak mungkin pula jika nantinya ada penerus-penerus Didi Kempot, yang populer di kalangan muda hingga ibukota.
“Sangat mungkin mereka [musisi lagu-lagu daerah] bisa populer kembali. Semua karena media sosial, terutama Youtube yang banyak menampilkan lagu-lagu yang sudah cover,” ujarnya.
Kepopuleran Didi Kempot juga turut mengangkat musisi campursari lainnya. Salah satunya, Denny Kurniawan atau dikenal sebagai Denny Caknan. Pria asal Ngawi, Jawa Timur itu menjadi idola baru di kalangan pendengar musik Tanah Air, setelah lagu campursarinya Kartonyono Medot Janji populer hingga Ibu Kota.
Musisi yang awalnya terjun ke dunia tarik suara dengan lagu-lagu pop itu tak menyangka jika dirinya bisa sepopuler sekarang. Video lagu-lagunya di Youtube ditonton jutaan orang hingga tawaran konser yang datang silih berganti.
Luar Jawa
Kepopuleran lagu daerah rupanya tak melulu didominasi oleh lagu berbahasa Jawa. Beberapa lagu berbahasa daerah lain pun tercatat sukses populer di luar daerahnya. Sebut saja lagu berbahasa Sikka atau Maumere berjudul Karna Su Sayang yang dinyanyikan oleh Near bersama dengan Dian Sorowea. Kemudian, lagu berbahasa Batak yang dibawakan oleh Omega Trio berjudul Mardua Holong.
Selain itu, sejumlah musisi lokal juga mulai unjuk gigi di hadapan khalayak memanfaatkan medsos. Rapper berbahasa Minang, Yusri Diaz Darmawan atau dikenal dengan nama panggung Fat-brotherhood salah satunya.
Untuk menaikkan pamornya, Pria asal Padang Panjang, Sumatra Barat itu memutuskan berkolaborasi dengan salah satu ikon Sumatra Barat, yaitu Perusahaan Otobus (PO) Naikilah Perusahaan Minang (NPM), yang lama melayani masyarakat di ranah Minang lewat lagu NPM Ya N.
“Melalui lagu tentang PO ini yang saya nyanyikan masyarakat di luar Sumatra Barat bisa mengenal saya nantinya,” tuturnya.
Mengenai penggunaan Bahasa Minang, Yusri mengaku ingin tampil beda dan tidak meninggalkan identitasnya sebagai orang Minang. (JIBI/Bisnis Indonesia)