CO-FOUNDER PT NONA ARIYANTA ARYAGUNA CLAUDIA ALANA ONG Mendobrak Stigma Jamu

JAKARTA—Beberapa waktu belakangan, masyarakat begitu lekat dengan empon-empon yang terdiri dari jahe, kunyit, temulawak, kencur, lengkuas, dan lainnya. Resep tradisional itu diyakini mampu meningkatkan daya tahan tubuh dan menghindarkan masyarakat dari serangan virus, di tengah mewabahnya virus corona.

redaksi@jibinews.co

Sebagai pewaris keluarga pebisnis jamu, Co-Founder PT Nona Ariyanta Aryaguna Claudia Alana Ong akrab dengan resep tradisional itu. Lewat The Jamu Bar, putri dari salah satu tokoh legendaris jamu nasional Charles Saerang itu ingin membawa jamu tampil lebih modern dan mengubah stigma kuno tentang jamu tanpa mengurangi khasiatnya, terutama di mata generasi milenial.
Bagaimana perjalanannya meniti bisnis jamu dengan brand The Jamu Bar itu? Bisnis berkesempatan mewawancarainya di salah satu gerai miliknya di kawasan SCBD Jakarta Selatan. Berikut kutipannya:

Banyak anak muda memilih bisnis yang lagi hype, kayak kopi atau kafe, mengapa justru memilih jamu?
Saya dari kecil terbiasa main ke pabrik jamu keluarga di Semarang. Dari kecil sudah coba beberapa macam jamu, misalnya kunyit asem, jahe wangi, dan lainnya. Jadi, bisa dibilang all my life tidak terlepas dari jamu.
Sejak Sekolah Dasar (SD) mulai melihat proses pembuat jamu di pabrik, dan mulai mempelajari khasiat dari jamu. Jadi, sudah biasa dengan dunia tentang jamu. Setelah selesai kuliah bisnis marketing di University of Hawai’i at Manoa, saya punya keinginan nge-rebranding image dari jamu, karena biasanya orang berpikir jamu itu pahit, kurang keren, kurang menarik, kotor, dan murahan. Padahal, jamu ini kan menjadi aset nasional kita. Jadi, saya bisa mau membuat sesuatu yang menarik buat anak muda dari brand saya.
Apakah ada permintaan dari keluarga untuk melanjutkan bisnis jamu?
Sebenarnya tidak terlalu memaksa, tetapi saya sendiri juga mau, karena saya senang minum jamu atau pernah merasakan khasiatnya, misalnya untuk mengurangi rasa sakit saat perempuan mengalami datang bulan.
Semua keputusan untuk bisnis jamu adalah keputusan sendiri, tetapi keluarga, khususnya ayah, memberi masukan dan dukungan. Jadi, sayang banget kalau bisnis jamu ini tidak dilanjutkan, apalagi tidak banyak juga pemain atau pebisnis jamu di Indonesia. Saya mencoba untuk membuat sesuatu yang berbeda saja.
Sempat belajar khusus soal jamu juga?
Tidak, saya sekolahnya bisnis marketing. Namun, itu cukup membantu untuk proses pemasaran produk saya. Kalau untuk pengetahuan tentang jamu saya belajar sendiri, mulai dari baca-baca referensi dan belajar dari keluarga.
Banyak enggak pemain bisnis jamu seperti yang Anda tekuni?
Ada beberapa dan lumayan trending di Jakarta Selatan. Namun, kalau dari sisi variasi produk, mungkin kami jauh lebih banyak. Kalau untuk pesaing di daerah saya rasa belum ada, kalaupun ada, masih tradisional banget. Kalau yang modern seperti produk yang saya punya, sepertinya belum banyak.
Karena gini, kami memang menyasarnya anak muda, anak milenial, tetapi kenyataannya pecinta jamu tidak hanya milenial, orang tua pun masih percaya dengan khasiat jamu. Misi kami sih itu, seperti membuka pikiran ke semua orang ini lho jamu itu bersih kok, banyak khasiatnya. Itu bisa dibuktikan dari cara kami mengemasnya, kelihatan lebih modern.
Sebagai anak milenial, sempat ada enggak lingkungan sekitar yang bertanya ngapain sih bisnis jamu?
Iya banyak sih yang bilang kuno. Tetapi saya merasa ini bisnisnya sangat unik ya, kalau kayak kopi dan fesyen memang sudah banyak. Belakangan yang saya lihat, orang Indonesia sudah lumayan peduli dengan multilifestyle, peduli dengan produk makanan yang sehat. Kan banyak tuh sekarang muncul kedai vegetarian di beberapa tempat. Karena saya pernah tinggal dan sekolah di Amerika, yang saya rasakan kok sepertinya Indonesia sudah mengikuti tren orang Amerika nih, mereka lebih peduli untuk hidup dengan sehat. Jadi, saya merasa timing-nya pas untuk bisnis ini.
Kalau brand The Jamu Baru mulai kapan?
Kalau The Jamu Bar sudah ada sejak 2017. Kalau yang di sini [Pacific Place] baru tahun lalu, modelnya masih joint dengan outlet yang sudah berdiri dulu karena untuk langsung bangun sendiri juga enggak gampang. Makanya, seperti di Pacific Place, kami kerja sama dulu dengan Burgreens, kami juga ada outlet khusus jual produk saja di Alun-Alun Indonesia di Grand Indonesia.
Kami juga pasarkan produk ini ke hotel di Jakarta.
Kalau mengenalkan produk jamu, khasiat jamu, saya jalanin sudah sejak 2014 bikin workshop, keliling ke kafe-kafe bawa peralatan lengkap untuk memberikan pelatihan membuat jamu. Kami juga sering bawa herbalis untuk datang ke sini memberikan masukan tentang khasiatnya. Sampai sekarang itu masih aktif saya lakukan, bikin kelas-kelas untuk belajar jamu ke lembaga pemerintahan dan lainnya.
Perlahan-lahan, kalau dahulu persepsinya jamu itu pahit, kotor, jualannya di jalanan sudah mulai berubah. Setelah ikut merasakan, nyobain katanya enak juga tidak pahit. Karena kalau kami kan memang fokusnya, jamu ini bisa di-mix, misalnya kunyit sama macha atau orange. Bisa dibilang ini fusion-nya jamu. Bisa juga pakai mangga dicampur dengan kunyit atau kunyit dengan milk coconut.
Paling diminati yang apa?
Kunyit asam yang lebih fresh. Namun, kalau yang fresh seperti itu memang tidak tahan lama, paling tidak 10 hari di simpan di lemari es, habis itu sudah basi. Kalau yang ramuan bubuk paling tidak bisa 2 tahun. Untuk anak muda yang paling dicari biasanya latte dan kunyit, jadi susu coconut dicampur kunyit, seperti golden milk kalau di Amerika. Itu lagi trending.
Apakah ada produksi yang sudah diekspor?
Ekspor yang produk kunyit asam. Permintaan paling banyak ke Taiwan, tetapi kebanyakan masih suplai bahan baku, kemasannya oleh mereka.
Kalau potential market selain Taiwan, mungkin Amerika, karena saya merasa kunyit di sana juga lagi booming. Ada yang jualan kunyit di sana, tetapi mereknya Amerika, padahal kan seharusnya itu produk Indonesia. Kadang saya sedih kenapa itu bukan produk Indonesia.
Ada rencana ekspansi?
Pengen ke Bali sih, daerah-daerah Seminyak karena dari pengalaman di sini [Jakarta] banyak bule yang nyari jamu juga terutama orang Jepang.
Kalau yang sekitaran Jabodetabek, mungkin di daerah BSD City Tangerang atau di daerah Pantai Indah Kapuk. Masih lihat-lihat lokasi juga, karena selain kami jual langsung, kami kan juga tawarkan di marketplace.
Sebenarnya punya bayangan ingin buka seperti bar atau kafe sendiri, tetapi saat ini masih cari lokasi, karena karena kalau bisnis seperti ini, bikin kedai memang punya tantangan karena konsumen tidak setiap hari datang kan. Kebayang sih, mau banget bisa buka di mana-mana seperti kedai kopi masa kini.
Selama ini modalnya dari mana?
Sebagian besar masih sendiri. The Jamu Bar ini kan bisnis aku, kakakku [Vanessa Kalani Ong], sama ada teman dari Hong Kong [Denise Chen].
Inovasi baru yang disiapkan?
Nantinya bikin inovasi seperti bubble tea, minuman masa kini seperti boba [bola tapioka isian dari minuman bubble tea]. Mungkin nanti bisa teh dicampur dengan jamu, atau kopi dengan jamu. Nantinya disesuaikan rasa dan kegemarannya anak-anak muda.

Pewawancara: Asteria Desi Kartika/Samdysara Saragih/Stefanus Arief Setiaji