Menuai Rindu Meminum Jamu

Jamu tak lekang dimakan waktu. Ia terus ada meski popularitasnya pasang surut di negeri ini. Jamu, ramuan herbal warisan nenek moyang ini, kini bak barang yang dirindukan sejak merebaknya wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona. Banyak yang percaya jamu mampu menangkalnya. Berikut ini ulasan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Salsabila Annisa Azmi dan Maya Herawati dirangkum dari beragam sumber.

redaksi@jibinews.co

Zaman dulu jamu diperkenalkan dan dipopulerkan kepada publik oleh dukun atau tabib pengobatan tradisional. Kata jamu, menurut ahli bahasa Jawa diambil dari dua kata dalam bahasa Jawa Kuno yaitu jampi dan usada. Jampi maknanya penyembuhan dengan ramuan obat atau doa-doa juga mantra sedangkan usada berarti kesehatan.
Dalam bahasa Jawa modern, jampi dan usada memiliki arti yang sama yaitu tamba atau barang yang menyembuhkan. Di kalangan kraton di Jawa, kata yang digunakan untuk menyebut ramuan herbal nenek moyang ini adalah jampi.
Bukti keberadaan pengobatan ramuan herbal yang kita kenal sebagai jamu ini ditemukan dalam relief candi di antaranya Candi Borobudur dan Prambanan (lihat grafis). Di era modern, jamu berubah menjadi bentuk yang lebih instan seiring dengan perkembangan pabrik jamu yang sempat pesat. Jamu lantas menyurut popularitasnya di kalangan anak muda, namun kini tenar lagi setelah dipercaya mampu menangkal virus Corona penyebab penyakit Covid-19 yang mewabah.
Jamu umum­nya diracik dari beragam rempah dan tanaman yang ada di Indonesia. Di Jawa, umumnya diracik dari empon-empon (tanaman obat jenis umbi-umbian) seperti jahe, kencur, lengkuas, kunyit, dan temulawak. Racikan juga menggunakan daun secang, serai hingga kayu manis. Pelengkap dan pemanis yang populer digunakan adalah asam jawa (tamarin), jeruk nipis, gula aren dan gula kelapa (gula jawa).
Pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi Pertanian dan Pangan Asia Tenggara (South East Asian Food and Agricultural Science and Technology Center/Seafast) mencatat ada 30.000 jenis tanaman di Indonesia yang bisa dijadikan bahan jamu.
Menurut Edi Giriwono, Sekretaris Eksekutif Seafast Center pada 2016 dari puluhan ribu jenis tanaman bahan jamu di Indonesia berkembang menjadi 2,1 juta varian jamu. “Itu adalah kekayaan intelektual bangsa untuk pengobatan alami,” kata Puspo seperti dilansir Detik, November 2019.
Beberapa racikan jamu sudah sangat populer dan menjadi konsumsi sehari-hari banyak orang. Salah satunya beras kencur yang diracik dari beras yang dihaluskan, kencur, jahe, biji kedawung, kapulaga, asam, pala, dan gula merah. Jenis jamu ini punya khasiat menambah nafsu makan pada anak.
Antibakteri
Temulawak, dari studi penelitian di laboratorium, memiliki kandungan xantorrhizol yang punya efek antibakteri, antiradang, antioksidan, menghambat pertumbuhan sel kanker, dan mencegah sumbatan pembuluh darah. Temulawak juga dipercaya bisa tingkatkan nafsu makan dan mengatasi masalah kandung empedu, hati, dan gangguan pencernaan, seperti perut kembung.
Selain itu ada juga kunyit asam yang terkenal bisa menyegarkan tubuh hingga meredakan nyeri haid pada wanita. Kunyit asam diracik dari kunyit, asam Jawa, temulawak, biji kedawung, dan gula merah.
Untuk racikan lainnya, ada jamu galian singset untuk menjaga kesehatan organ intim wanita, kunci sirih untuk hilangkan bau badan, cabai puyang untuk hilangkan pegal linu. Ada juga pahitan yang bisa turunkan kolesterol dan atasi perut kembung.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2013, sekitar 60% penduduk Indonesia yang berumur lebih dari 15 tahun pernah minum jamu. Selain itu 95% dari mereka yang minum jamu merasakan manfaatnya.
Pengobatan tradisional dengan ramuan atau jamu juga dikonsumsi oleh sekitar 30% rumah tangga di Indonesia. Hal ini mengindikasikan jamu sudah menjadi bagian dari hidup masyarakat Indonesia.
Diburu Lagi
Baru-baru ini, gerakan minum jamu digiatkan kembali setelah dua WNI asal Depok, Jawa Barat, dinyatakan positif Corona yang menjadi kasus infeksi pertama di Indonesia. Ketua Umum Visi Indonesia Unggul (VIU) Horas Sinaga di Jakarta mengatakan gerakan nasional minum jamu tradisional ini adalah upaya konkret menanggulangi ancaman virus Corona.
Sebelumnya hasil riset seorang peneliti dari Universitas Airlangga Surabaya Prof Nidom menyimpulkan tanaman jamu seperti temulawak dan kunyit bisa meningkatkan ketahanan tubuh terhadap serangan virus termasuk Corona. Maka mengkonsumsi jamu-jamuan dinilai penting di samping juga menerapkan pola hidup sehat dan berolahraga.
Namun dokter Clarin Hayes mengatakan bahwa hingga kini masih belum ditemukan obat tertentu yang bisa menangkal atau bahkan menyembuhkan penderita dari virus tersebut, termasuk jamu.
“Kalau ada rumor obat tradisional, jamu, dan sebagainya, hingga sekarang, setahu saya belum ada gold standard [patokan resmi] untuk membunuh virus ini [Corona], belum ada standarnya. Mungkin di orang A minum jamu bisa ampuh [jadi lebih sehat], tapi enggak bisa sama ratakan karena memang belum ada standarnya,” kata Clarin seperti dilansir Antara, Senin (9/3).
Dokter muda yang juga aktif sebagai pembuat konten kesehatan di Youtube itu menegaskan bahwa Covid-19 dapat disembuhkan, karena sifat virus yang merupakan penyakit yang dapat disembuhkan sendiri (self-limiting disease). Penyembuhan dari tubuh sendiri dipengaruhi dari sistem imun tiap individu. Imunitas individual pun dapat dibentuk melalui makanan dan minuman bergizi yang dikonsumsi.
Dia mengatakan virus adalah self-limiting disease, sehingga yang bertugas menyembuhkan dari virus adalah sistem imun kita sendiri. “Apapun yang kita [manusia] konsumsi, selama bisa membantu sistem imun kita, maka bisa membantu mempercepat proses penyembuhan,” kata Clarin.
Clarin mengatakan bakteri bisa mati lewat antibiotik. Berbeda dengan virus, yang bisa dilakukan adalah fokus ke sistem imun. Lebih lanjut, beberapa hal yang dianjurkan untuk menjaga imunitas tubuh adalah seperti aktivitas fisik seperti olahraga, memakan buah dan sayur, serta tidak merokok dan meminum alkohol.
Tak lupa, dokter kelahiran Surabaya itu juga mengatakan untuk menjaga kebersihan dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan di bawah air mengalir, serta tidak terus menerus menggunakan hand sanitizer. Sebab hand sanitizer sejatinya adalah pelengkap apabila tidak menemukan air dan sabun. “Kalau dipakai terlalu sering bisa membunuh kuman baik di tubuh, harus dijaga keseimbangan,” ujarnya.
Selain itu, dia mengingatkan agar tak lupa juga etika batuk dan bersin yang baik. Apabila tidak membawa sapu tangan dan tisu, bisa ditutup dengan lengan. Tujuannya agar droplet diserap oleh kain sehingga virus dari diri kita tidak menyebar ke mana-mana. (JIBI)