Sekilas Sejarah Jamu

Era Prasejarah
Jamu dipercaya telah ada dan menjadi bagian dari pengolahan hasil hutan yang marak berkembang di era prasejarah.

Zaman Kerajaan Mataram
Saat era Kerajaan Mataram Kuno (sekitar Abad ke-8) hingga Kerajaan Mataram (abad 17) jamu menjadi ramuan kebanggaan seperti Ayurveda dari India dan Zhongyi dari China. Konsep keduanya sama seperti jamu.
Bukti temuannya adalah artefak cobek dan ulekan penumbuk jamu di situs arkeologi Liyangan, Desa Liangan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Ditemukan juga cerita alat-alat pembuat jamu di relief Karmawipangga Candi Borobudur juga di Candi Prambanan dan Candi Brambang.

Era Kolonial Belanda
Ramuan jejamuan menjadi objek penelitian dokter-dokter di era kologial Belanda. Saat itu mereka kesulitan bahan obat karena bahan yang dikirim dari Belanda tidak manjur digunakan ketika sampai
di wilayah Nusantara.
Masa Penjajahan Jepang
Sekitar tahun 1940-an, tradisi minum Jamu kembali populer karena telah dibentuknya komite Jamu Indonesia.
Kepercayaan khasiat terhadap Jamu kembali meningkat.
Warung-warung jamu tumbuh subur dan marak. Jamu gendong pun muncul di era ini.

1974 hingga 1990-an
Banyak berdiri perusahaan Jamu dan semakin berkembang.
Pada era ini juga ramai diadakan pembinaan-pembinaan dan pemberian bantuan dari Pemerintah agar pelaku industri Jamu dapat meningkatkan aktivitas produksinya.

Era Kekinian
Penjualan Jamu pun menyesuaikan dengan teknologi, di antaranya telah banyak dikemas dalam bentuk pil, tablet, atau juga bubuk instan yang mudah diseduh.
Semakin sedikit anak muda yang ingin belajar membuat jamu karena penyajian jamu semakin mudah dijual instan.