Lika-Liku Vaksin Membendung Penyakit

Merebaknya virus Corona mengingatkan kembali pentingnya vaksinasi. Dalam sejarahnya konsep imunisasi modern sebenarnya telah dikembangkan sejak Abad ke-18. Kini vaksin diproduksi masal dan menjadi bagian dari industri kesehatan penting. Berikut ini ulasan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Salsabila Annisa Azmi.

redaksi@koransolo.co

E Jenner, seorang dokter dari Inggris, dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan konsep imunisasi modern pada 1796. Jenner berhasil melakukan inokulasi bahan yang didapatkan dari nanah cowpox (cacar sapi) kepada pasien untuk mencegah cacar yang disebabkan oleh virus sejenis.
Menurut modul Dasar-Dasar Keamanan Vaksin yang dikeluarkan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pada 1900, ada dua jenis vaksin virus yang populer untuk manusia yaitu vaksin cacar dan vaksin antirabies, dan tiga vaksin dari bakteri untuk mencegah typhoid, kolera dan pes. Dengan surveilans yang baik dan program vaksinasi cacar yang baik dunia dinyatakan bebas cacar pada 1979.
Hal itu pun diumumkan pada 1980 melalui resolusi WHO. Dunia bebas cacar merupakan tonggak sejarah kemenangan gemilang umat manusia melawan penyakit yang mengancam kesehatan masyarakat.
Pada abad ke-20 beberapa jenis vaksin lain ditemukan seperti vaksin pertusis (batuk rejan). Pertusis disebabkan oleh Bordetella pertussis dengan gejala batuk yang khas seperti menggonggong. Selain itu juga ditemukan vaksin difteri dan tetanus. Vaksin polio, campak, dan rubela kemudian menyusul ditemukan.
Begitu vaksin-vaksin tersebut tersedia di pasaran, negara-negara maju menganjurkan pemberian imunisasi rutin kepada bayi-bayi mereka. Sampai saat ini ada lebih dari 20 jenis vaksin untuk penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).
Berdasarkan pengalaman keberhasilan dari program pembasmian cacar maka pada 1974, WHO meluncurkan Program Pengembangan Imunisasi (Expanded Programme on Immunization/EPI). Pada awalnya, EPI bertujuan menjamin agar semua anak-anak menerima vaksin untuk melindungi mereka dari enam penyakit pada anak yaitu tuberkulosis (TB), polio, difteri, pertusis, tetanus dan campak yang diberikan sebelum usia satu tahun.
Sejak saat itu, banyak vaksin-vaksin baru muncul dan beredar di pasaran antara lain vaksin hepatitis B, rotavirus, haemophilus tipe b (Hib). Vaksin lain yang ditemukan pada dekade berikutnya adalah vaksin yellow fever. Sampai 1990 imunisasi yang dilakukan secara rutin telah melindungi lebih dari 80% anak-anak di dunia dari enam jenis PD3I.
Setelah itu di beberapa negara selain ke-6 antigen, dan beberapa vaksin baru ditambahkan dalam imunisasi rutin mereka.
Butuh Waktu
Saat ini, dunia tengah disibukkan uji coba vaksin untuk menangkal virus Corona. Vaksin ini nantinya akan diproduksi massal. Namun pembuatan vaksin tak bisa instan. Dilansir dari Liputan6.com, pembuatan vaksin Corona untuk produksi massal bisa memakan waktu tiga tahun.
Ada alasan mengapa vaksin baru bisa diproduksi secara massal hingga puluhan tahun. Hal ini juga berlaku di Indonesia. Bahkan di Indonesia butuh waktu belasan tahun. Ini dikarenakan prosesnya tidak semudah pembuatan obat.
Corporate Secretary Bio Farma Bambang Heriyanto, setelah mendapatkan kandidat virus untuk vaksin, virus itu harus dimasukkan ke dalam laboratorium. “Nanti ada lab scale, up scale, skala produksi. Nanti harus di tes dulu ke hewan. Itu sekitar dua tahun sampai tiga tahun,” ujar Bambang. Bio Farma perusahaan produsen vaksin Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang juga menjadi eksportir vaksin ternama dunia.
Apabila berhasil diuji ke hewan, Bambang mengatakan setelah itu baru bisa diuji coba ke manusia. Waktunya pun bisa memakan hingga tiga tahun dan terdiri dari berbagai tahapan.
Tahap satu untuk safety yaitu efikasi. Tahap kedua adalah penambahan populasi. Misalnya dari 500 sampel jadi 1.000 atau 2.000. Setelah itu fase tiga lebih besar lagi populasinya. Untuk meneliti seluruh sampel itu, dibutihkan waktu sekitar dua sampai tiga tahun,” kata dia.
Menurutnya, satu jenis vaksin baru paling cepat bisa memakan waktu sampai lima belas tahun. Bambang menambahkan, apabila suatu vaksin tidak lolos di satu tahap, maka proses penelitiannya harus diulang dari awal lagi. Yaitu harus mencari kandidat lagi.
Sedangkan vaksin wabah yang pernah diproduksi massal di Indonesia adalah vaksin flu burung (H5N1). Dilansir dari Detik, Biofarma bekerja sama dengan Bexter, perusahaan Amerika Serikat untuk pengadaan vaksin flu burung. Saat itu pemerintah juga mengimpor ratusan ribu kotak obat tamiflu. (redaksi@harianjogja.com)