Sistem Imun, Garda Depan Menangkal Virus & Bakteri

Sistem imun berperan besar membendung paparan virus dan bakteri. Pasalnya sistem imun di dalam tubuh manusia bertanggung jawab melawan berbagai penyakit. Termasuk menangkal virus corona penyebab penyakti Covid-19. Berikut ini ulasan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Salsabila Annisa Azmi.

redaksi@jibinews.co

walnya sistem imun ini akan mengidentifikasi benda asing dalam tubuh, termasuk bakteri, virus, jamur, parasit bahkan jaringan transplantasi. Setelah berhasil mengidentifikasi benda asing, muncul lah pertahanan tubuh untuk melawan benda-benda asing tersebut.
Dilansir dari modul Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) sistem imunitas yang ada dalam tubuh manusia merespons masuknya bakteri dan virus ke dalam tubuh manusia melalui mekanisme yang sangat rumit dan kompleks. Sistem imunitas ini mengenal molekul (antigen) yang unik dari bakteri atau virus. Pengenalan molekul itu kemudian merangsang timbulnya antibodi (sejenis protein) dan sejenis sel darah putih yang disebut limfosit. Limfosit ini menandai antigen yang masuk dan kemudian menghancurkannya.
Semakin sering suatu benda asing menyerang kekebalan tubuh manusia, maka reaksi tubuh akan lebih cepat dan lebih efektif melawan benda asing dibandingkan dengan reaksi pertama kali. Hal ini disebabkan karena ketika pertama kali benda asing, misalnya virus memasuki tubuh manusia, memory cells berupaya mengenal benda asing dan menyimpannya dalam ingatan. Hal ini disebut dengan reaksi imunitas primer.
Apabila benda asing yang sama masuk lagi ke dalam tubuh orang tersebut untuk kedua kali dan seterusnya, maka sel memori ini dengan lebih cepat dan sangat efektif akan merangsang sistem imunitas untuk mengusir dan melawan benda asing yang sudah dikenal tersebut. Begitulah proses kekebalan virus terjadi.
Dalam kasus pandemi Covid-19, dilansir dari Liputan6.com, sistem kekebalan tubuh manusia merespons virus corona (Covid-19) dengan cara yang sama seperti merespon flu biasa. Penelitian ini ditulis tim peneliti Peter Doherty Institute for Infection and Immunity (Doherty Institute), sebuah lembaga kerjasama Universitas Melbourne dan Royal Melbourne Hospital. Penelitian ini sudah dipublikasikan dalam Jurnal Nature yang terbit Senin (16/3).
“Populasi sel kekebalan tubuh yang muncul sebelum pasien yang terpapar virus Corona ini pulih adalah sel yang sama yang kami lihat dalam kasus influenza,” jelas Kepala Laboratprium Prof Kedzierska, Rabu (18/3).
Pengujian sampel darah dilakukan dalam empat waktu berbeda kepada seorang pasien perempuan berusia 40-an. Dokter mengambil empat sampel darah sebelum dan sesudah kesembuhan pasien.
Pasien ini positif terinfeksi virus Corona dan memiliki gejala ringan hingga sedang sehingga membutuhkan perawatan di rumah sakit. Dia pernah berada di Wuhan, China, dan dirawat di rumah sakit Melbourne dengan gejala lesu, sakit tenggorokan, batuk kering dan demam.
Salah satu peneliti, Dr Oanh Nguyen, mengatakan hasil penelitian ini merupakan yang pertama terkait bagaimana cara sistem imun merespons Covid-19. Ia menyebutkan setelah tiga hari pasien dirawat, mereka melihat adanya populasi besar dari beberapa sel kekebalan tubuh atau imunitas. Hal tersebut, berdasarkan pengetahuan selama bertahun-tahun soal respons kekebalan tubuh adalah tanda pemulihan pada pasien influenza.
Tim peneliti mampu melakukan penelitian ini dengan sangat cepat karena Australia sudah memiliki sistem medis yang siap menghadapi infeksi baru. Nama sistemnya adalah Sentinel Travellers and Research Preparedness for Emerging Infectious Disease (Setrep-ID) yang dipimpin dokter Irani Thevarajan dari Doherty Institute. Melalui sistem ini, tim dapat mengambil sampel biologis dari siapa saja yang baru kembali ke Australia dalam situasi wabah penyakit menular seperti Covid-19
Profesor Kedzierska mengatakan metode mereka bisa digunakan untuk memahami respons kekebalan dalam kohort Covid-19 yang lebih besar, serta memahami apa yang kurang pada pasien yang meninggal. Perkiraan saat ini menunjukkan 80% kasus Covid-19 bersifat ringan hingga sedang. Oleh karena itu, memahami respons kekebalan tubuh pada kasus ringan ini sangat penting.
“Kami ingin memperluas penelitian secara nasional dan internasional untuk memahami mengapa orang meninggal karena Covid-19,” kata dia.
Peneliti lainnya, dokter Carolien van de Sandt menjelaskan kepada ABC karena Covid-19 merupakan virus baru, belum ada yang tahu bagaimana tubuh manusia meresponsnya. Dia berharap hasil penelitian bisa digunakan untuk menyaring pasien, apakah mereka cenderung mengembangkan gejala yang lebih serius atau tidak.
“Sehingga kami bisa lebih awal menyatakan, kasus ini akan parah, atau kasus ini akan ringan,” jelas dokter Sandt.
Dari situ, katanya, tim medis bisa mengatur perawatan pasien sesuai kebutuhan masing-masing. Informasi ini memungkinkan kita mengevaluasi calon vaksin karena idealnya vaksin itu harus meniru respon kekebalan tubuh manusia,” kata Profesor Kedzierska. Namun ia belum bisa memastikan, apakah seseorang yang telah terinfeksi dan sembuh dari virus Corona Covid-19 akan kebal terhadap virus untuk selamanya.
Menangkal Covid-19
Menurut data kesehatan yang di­publikasikan oleh Immune Deficiency Foundation, virus Corona merupakan virus yang menyerang sistem pernapasan serta mudah ditularkan melalui kontak perorangan. Selain itu, orang dengan imunitas rendah juga berisiko tinggi terinfeksi virus Corona. Oleh karena itu, meningkatkan imunitas tubuh dan menjaga kebersihan diri merupakan hal yang paling mudah dilakukan untuk mencegah penularan virus Corona.
Dilansir dari health.harvard.edu, ada beberapa langkah untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Pertama, menjaga kebersihan diri dengan cara mencuci tangan menggunakan sabun dan air sebelum makan atau setelah menggunakan kamar mandi. Ketika bersin atau batuk, gunakan siku bagian dalam untuk menutupi mulut. Cuci juga luka-luka yang ada di tubuh.
Kedua, tertib dalam menjalani vaksinasi wajib. Ketiga, jaga kebersihan bahan makanan. Tangan harus dicuci menggunakan sabun dan air sebelum menyentuh makanan mentah, makanan mentah berupa daging dan telur juga harus dicuci. Jangan juga mencampur peletakan makanan matang dan makanan mentah dalam satu rak yang sama. Saat memasak, pastikan daging mentah direbus sampai mendidih.
Ketiga, jika Anda merencanakan perjalanan, tanyakan kepada dokter Anda jika Anda memerlukan imunisasi. Diskusikan rencana perjalanan Anda dengan dokter Anda setidaknya tiga bulan sebelum Anda pergi.
Misalnya, jika Anda bepergian ke suatu daerah di mana penyakit yang ditularkan serangga ada, gunakan obat nyamuk yang mengandung DEET. Di banyak daerah tropis, nyamuk dapat membawa malaria, demam berdarah, demam kuning, ensefalitis Jepang, dan banyak infeksi serius lainnya. Di banyak bagian Amerika Serikat, kutu di padang rumput dan hutan membawa penyakit Lyme atau penyakit lainnya.
Hindari mengambil suntikan yang tidak perlu, imunisasi, atau bahkan tato di luar negeri. Jarum dan jarum suntik (bahkan yang sekali pakai) digunakan kembali di beberapa bagian dunia. Jarum suntik bekas dapat menjadi sarana penularan penyakit. (JIBI)