IBU PRESIDEN JOKOWI WAFAT Seluruh Harta Sudjiatmi Dihibahkan ke Masjid

Ichsan Kholif Rahman

SOLO—Presiden Joko Widodo dan keluarga melepas kepergian sang ibunda, Sudjiatmi Notomihardjo, untuk kali terakhir, Kamis (26/3) lalu, di usia 77 tahun
Ratusan karangan bunga dikirimkan para pejabat dari berbagai wilayah di Indonesia dan berjajar memenuhi Jl. Letjen Suprapto dan Jl. Ki Mangun Sarkoro. Ucapan duka cita itu menandai kepergian Sudjiatmi Notomihardjo.
Para pelayat dari kalangan pemerintahan hingga warga Kota Solo silih berganti mendoakan kepergian Sudjiatmi di rumah duka, Jl. Pleret Raya, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari.
Berdasarkan pantauan Koran Solo di rumah duka, pelayat harus melalui pengecekan suhu tubuh dan melalui melalui boks penyemprotan cairan disinfektan oleh tim medis. Jarak antarkursi pelayat sekitar 1,5 meter antarkursi guna mencegah penyebaran virus Covid-19 yang tengah mewabah.

Sekitar pukul 12.00 WIB salat jenazah almarhumah dilaksanakan di Masjid Baiturrachman dipimpin takmir masjid, Abdul Latief.  Masjid itu merupakan masjid yang digunakan Sudjiatmi melaksanakan salat lima waktu.
Tampak Presiden Joko Widodo dan putra sulungnya, Gibran Rakabumingraka, berada di barisan paling depan pengiring almarhumah. Kalimat tahlil terus dilantunkan oleh para keluarga maupun para pelayat yang hadir.
Seusai disalatkan, almar-humah dibawa ke rumah duka untuk melaksanakan proses brobosan yang diikuti oleh para keluarga. Pukul 12.40 WIB almarhumah diantar ke tempat peristirahatan terakhir oleh para pelayat.
“Saya mengenal beliau jauh sebelum Jokowi menjadi seperti saat ini. Bu Noto selalu melaksanakan salat lima waktu di Masjid Baiturrachman. Salat subuh, magrib, dan isya bisa dipastikan Bu Noto salat di sini, tetapi kalau zuhur dan ashar biasanya salat di lokasi pengajian yang beliau ikuti,” kenang tetangga almarhumah, Ninuk Nur Hayati saat dijumpai Koran Solo.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat dijumpai wartawan, menceritakan Sudjiatmi berpesan kepada anak-anaknya agar terus menyambung silaturahmi kepada teman-teman almarhumah. Lalu, beliau berpesan sisa rezeki harta-harta almarhumah diwakafkan untuk masjid.
“Tadi saya bertemu dengan putri-putri almarhumah dan menceritakan kemarin siang Rabu (25/3) beliau bertanya pada anak-anaknya pada pukul 14.00 WIB apakah sudah masuk waktu asar, karena beliau hendak menunaikan Salat Asar. Dahulu saya pernah sowan di ndalem beliau namun saat itu beliau sedang salat subuh di masjid. Lalu, ketika Eyang Noto sampai ndalem justru meminta saya untuk berdoa. Artinya, beliau merupakan sosok low profile sama seperti Presiden Jokowi,” kata Khofifah.
Ia menambahkan Eyang Noto juga merupakan sosok pengayom bagi seluruh masyarakat. Hal itu terbukti dengan hadirnya Eyang Noto di pengajian Muslimat Nahdlatul Ulama dan Aisyiyah.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, menganggap Sudjiatmi merupakan sosok tauladan bagi seorang ibu yang selalu rendah hati meskipun putranya merupakan Presiden Indonesia.
“Saya menaruh hormat dengan beliau, meskipun dalam keadaan sakit beliau selalu aktif dalam berbagai pengajian,” ujar Luhut.
Ketua MPR, Bambang Soesatyo, mengatakan terakhir berjumpa dengan Sudjiatmi pada tahun lalu saat Istri Gibran, Shelvi Ananda melahirkan anak keduanya di Solo. Ia menyebut kesederhanaan Sudjiatmi tercermin dengan nasihat-nasihat yang selalu diberikan.
“Saya ingat betul nasihat Eyang Noto untuk tidak boleh mengecewakan orang yang sudah menolongmu. Lalu ajaran budi pekerti selalu beliau tegaskan kepada kami,” ujarnya.
Para pejabat pemerintahan tampak hadir melayat yakni Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Ketua MPR, Bambang Soesatyo, Ketua DPD La Nyala Matalitti, Ketua PSSI Muhammad Iriawan atau Iwan Bule, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen.
Sementara itu, Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo didamping Wakil Wali Kota Solo, Achmad Purnomo, juga hadir di sela-sela pelayat. Wali Kota turut memberikan akta kematian kepada keluarga almarhumah.
“Warga Kota Solo sangat mencintai beliau sebagai sosok ibu yang ngayomi, ngajeni, dan njawani. Beliau tidak pernah memandang suku, agama, derajat, atau pangkat. Rakyat Solo merasa kehilangan Sosok Sudjiatmi sebagai tauladan ibu-ibu,” ujar F.X. Hadi Rudyatmo.
Rudy mengatakan almarhumah pernah berpesan kepadanya untuk nyambut gawe sing rukun, ora usah rebutan jabatan, opo maneh rebutan duit,[bekerja yang rukun tidak perlu berebut jabatan bahkan berebut uang], dan melayani masyarakat dengan tulus ikhlas.
“Selama 10 tahun saya mendampingi beliau [Jokowi] pesan Ibu Sudjiatmi saya laksanakan hingga saat ini. Beliau juga melaksanakan pesan itu dengan selalu peduli masyarakat bawah,” ujarnya.