Jumlah Pengunjung Anjlok 70% Pasar Kota Sragen Sepi

SRAGEN—Sebanyak 1.517 orang pedagang di Pasar Kota Sragen mengeluh karena pengunjung pasar turun sampai 70%, sejak adanya pandemi virus corona.

Tri Rahayu
redaksi@koransolo.co

Hal itu menyebabkan omset para pedagang anjlok sampai 70%.
Pedagang Pasar Kota Sragen menutup kios maupun los mereka selama dua jam lantaran pasar yang terletak di pinggir Jl. Raya Sukowati Sragen itu disterilisasi oleh 50 personel tentara dari Kodim 0725/Sragen, Kamis (26/3) pagi. Sterilisasi dengan penyemprotan disinfektan dilakukan mulai pukul 07.00 WIB-09.00 WIB untuk pencegahan persebaran virus corona.
Sterilisasi pasar dilakukan personel Kodim di bawah koordinasi Pasiter Kapten (Arh) Sugeng Riyanto. Para prajurit TNI itu menyisir setiap lorong dan los/kios. Penyemprotan dilakukan menggunakan tangki hand sprayer manual.
“Ada 700 liter disinfektan yang kami gunakan untuk menyemprot Pasar Kota dan bangunan asrama TNI yang berada di utara Pasar Kota. Penyemprotan ini merupakan program TNI AD yang dimulai selama tiga hari terhitung, Kamis ini. Besok kami akan bergabung dengan tim dari Pemkab Sragen,” ujar Sugeng saat berbincang dengan Koran Solo, Kamis.
Ketua Kerukunan Pedagang Pasar Kota Sragen (KP2KS), Mario, mengatakan ada 1.517 orang pedagang yang menempati los dan kios di Pasar Kota ini. Mario mengatakan para pedagang kompak ikut melawan virus corona dengan menutup los dan kios selama proses penyemprotan.
Pedagang Mengeluh
Setelah penyemprotan selesai, Mario menyampaikan pedagang buka los dan kios kembali. Dia menegaskan selama pademi virus corona pasar tetap buka.
“Meskipun buka, kami sebenarnya hanya bisa bertahan. Selama pandemi virus corona, pengunjung pasar anjlok sampai 70%. Biasanya saya per hari bisa jualan kain empat potong atau rata-rata Rp400.000/hari, belakangan jarang laku. Kemarin seharian tidak laku satu potong pun,” ujarnya.
Sekretaris KP2KS Sragen, Warlan, yang juga bakul kuliner legendaris Mbah Rajak pun ikut sambat. Hasil penjualan satu hari, kata dia, hanya bisa menutup biaya pembelian bahan makanan. “Hasil hari ini bisa untuk beli bahan berjualan esok hari saja sudah senang. Kami yang penting sehat dan masih tetap berjualan untuk bertahan hidup,” katanya.
Pedagang lainnya asal Jati, Masaran, Ratman, juga mengeluh omset penjualannya turun. Dia mengatakan biasanya setiap hari bisa membawa pulang uang Rp1 juta, sekarang hanya pulang dengan uang Rp40.000. Padahal Ratman memiliki tenaga sebanyak tiga orang yang digaji Rp100.000/hari/orang. “Akhirnya, ya tombok terus karena pengunjungnya merosot. Kami berharap pandemi virus corona segera selesai,” katanya.