MOTO GP 2020 Mereka Butuh Balapan

MADRID—Setelah pandemi virus corona memaksa musim balapan 2020 tertunda, Moto GP kini bergulat dengan waktu untuk menentukan nasib kejuaraan dunia tersebut di tengah ancaman kerugian secara finansial.

redaksi@koransolo.co

Dorna selaku promotor telah membatalkan kelas premier di Qatar, di mana hanya Moto 2 dan Moto 3 yang berlaga di Sirkuit Losail pada awal Maret. Di tengah tekanan aturan pembatasan perjalanan, tiga seri berikutnya yaitu Thailand, Texas, dan Argentina, harus ditunda. Tak hanya itu, kabar terbaru pada Kamis (26/3), menyebutkan Moto GP Spanyol yang sedianya digelar 3 Mei mendatang dipastikan ditunda.
Sedangkan dua balapan selanjutnya yang digelar pada Mei, yakni GP Prancis dan GP Italia, masih tanda tanya. Jika balapan tahun ini bisa digelar, entah mulai kapan, Dorna akan memundurkan akhir musim sebanyak dua pekan ke 29 November.
Kemungkinan besar juga tak akan ada sesi jeda musim panas, yang berlangsung 13 Juli hingga 2 Agustus, karena Dorna akan memasukkan sejumlah balapan di periode tersebut mempertimbangkan batasan dari logistik, perbedaan waktu serta cuaca dan musim. ”Tujuan kami adalah menjaga kejuaraan ini dengan jumlah balapan semaksimal mungkin,” kata CEO Dorna, Carmelo Ezpeleta, dikutip dari Antara, Kamis.
Kalender yang direvisi nantinya akan mendapati tujuh pekan yang padat untuk menggelar enam balapan secara beruntun dengan hanya waktu libur satu pekan di antaranya. ”Secara fisik kami bisa melalui semuanya,” kata pembalap Suzuki, Joan Mir. ”Secara mental itu akan menjadi ujian bagi kita semua.”
Sementara itu, bos tim satelit KTM, Tech3, Herve Poncharal, mengatakan setiap tim memerlukan balapan untuk mendapat keuntungan secara finansial. ”Jika tak ada lagi grand prix, tak ada lagi pemasukan yang terkait dengan sponsor dan uang hadiah,” kata Poncharal yang membawahi dua tim di Moto GP dan Moto 3 itu.
Pengembangan Motor
Membalap di sirkuit tanpa penonton juga bukan suatu solusi. ”Balapan tertutup, secara ekonomi, tak memungkinkan. Kami memerlukan pemasukan.”
Sedangkan bos tim satelit Yamaha, SRT, Johan Stigefelt, memandang sisi positif jika jumlah balapan di kalender tahun ini berkurang. ”Dalam skenario itu, kami juga akan tak terlalu sering bepergian jadi biaya perjalanan akan berkurang dan sebagainya,” kata dia.
Pembatalan Grand Prix Qatar juga memunculkan masalah teknis. Motor kompetitor diinspeksi pada Kamis sebelum seri pembuka tersebut lewat proses homologasi. Setelah itu tim, kecuali KTM dan Aprilia yang belum lama bergabung, tak bisa melakukan upgrade mesin mereka dan hanya diperbolehkan mengganti aero-body satu kali setiap pembalap.
Menyikapi itu Moto GP pada Senin (23/3) telah menyatakan untuk alasan kesetaraan dan keadilan homologasi harus dilakukan secara remote dan digital sedini mungkin. Pandemi virus corona juga akan berdampak terhadap pengembangan motor dari setiap tim peserta untuk 2021.
Formula One (F1) telah terlebih dahulu memutuskan untuk menunda penerapan regulasi teknis tahun 2021 ke 2022, tetapi Moto GP belum mengambil keputusan. ”Kami akan bepergian dan membalap hingga akhir tahun ini, mungkin sampai Desember. Itu berarti musim depan akan mulai lebih dini. Jika kalian hanya punya satu bulan mempersiapkan diri untuk 2021, satu bulan atau kemungkinan serupa lainnya sebelum memulai tes, itu akan menjadi skenario yang sulit bagi para pabrikan,” ujar Stigefelt. (JIBI)