Pascadiblokade, TPA Sukosari Kembali Beroperasi Normal

KARANGANYAR—Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karanganyar memastikan kegiatan di tempat pembuangan akhir (TPA) Sukosari, Desa Sukosari, Jumantono, Karanganyar, sudah berjalan normal kembali pascadiblokade warga pada Senin (16/3) silam. Pihaknya berjanji akan memaksimalkan pengelolaan agar tidak mengganggu warga sekitar TPA.
Kepala DLH Karanganyar, Dahono, menjelaskan akses masuk TPA Sukosari sudah mulai dibuka sehari setelah diblokade warga. Menurutnya, saat ini proses pembuangan sampah sudah kembali normal dan tidak ada halangan dari masyarakat.
“Sudah, saat ini sudah dibuka kembali dan tidak ada blokade. Memang saat itu diprotes karena curah hujan yang tinggi menyebabkan sampah yang basah airnya ke pemukiman warga. Jadi warga terganggu karena mengancam kesehatan. Tapi kami sudah memperbaiki saluran pembuangan dan kami berharap sudah tidak mengganggu warga lagi,” ucap dia kepada Koran Solo, Selasa (31/3).
Untuk memaksimalkan penge­lolaan, pihaknya mendorong pihak desa yang masih membuang sampah ke TPA Sukosari untuk memaksimalkan program tuntas sampah desa. Hal tersebut diyakini dapat mengurangi volume beban daya tampung TPA Sukosari yang saat ini dinilai sudah overload. Pasalnya, saat ini sistem pembuangan yang diterapkan open dumping.
“Solusinya adalah memaksimalkan program tuntas sampah. Dengan itu beban TPA akan berkurang dan bisa mendukung kami untuk mensterilkan TPA dan bisa menghabiskan sampah di TPA. Kami selalu dorong itu. Tapi memang permasalahan sampah adalah permasalahan kompleks bahkan di kota-kota besar dan modern. Yang jelas, BUM Desa pengelolaan sampah harus maksimal,” imbuh dia.
Untuk diketahui, sebelumnya, warga RW 001 dan RW 002 Dusun Sukosari, Desa Sukosari, Jumantono, Karanganyar, memblokade pintu masuk menuju TPA Sukosari. Akibatnya, banyak truk pengangkut sampah yang antre mengular lantaran tidak bisa membuang sampah yang mereka angkut.
Koordinator Aksi, Purwanto, menjelaskan aksi tersebut didasari keluhan warga yang terdampak pengelolaan sampah yang tidak maksimal. Mereka menuntut pengelolaan sampah yang bagus, limbah cair yang keluar harus bersih, kompensasi kesehatan untuk warga, dan perhatian kepada lingkungan sekitar TPA.
“Banyak warga yang sakit dan macam-macam sakitnya. Sejak Januari hingga Februari itu ada sekitar 70 orang yang sakit. Dampaknya sampai ratusan keluarga karena untuk hitungan jiwa sampai ribuan,” beber dia beberapa waktu lalu. (Candra Mantovani)