PENCEGAHAN PENULARAN COVID-19 Berjarak Fisik, Terhubung Secara Sosial

Seruan menjaga jarak dengan manusia lain terus didengung-kan di tengah pandemi Covid-19. Istilahnya pun berganti dari social distancing (jaga jarak sosial) menjadi physical distancing (jaga jarak fisik), namun intinya tetap ditekankan mengenai jarak aman dari orang lain untuk mencegah penyebaran penyakit. Berikut ini ulasan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Salsabila Annisa Azami.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) saat menetapkan penyakit Covid-19 yang disebabkan virus Corona (SARS Cov-2) mengeluarkan protokol pencegahan penyebaran. Satu di antaranya adalah social distancing (menjaga jarak sosial).
Protokol ini adalah praktik mengubah kebiasaan yang bisa membantu menyetop penyebaran infeksi Covid-19. Di dalamnya termasuk memutus kontak sosial secara langsung baik di tempat kerja maupun sekolah, menghindari keramaian, dan berhenti menghadiri pertemuan apapun. Hal itu kemudian banyak diartikan memutus tali pertemanan, hubungan bertetangga dan saudara.
Belakangan WHO mengubah istilah social distancing (jaga jarak sosial) menjadi physical distancing (jaga jarak fisik) karena banyak kajian mengenai kekeliruan pengertian. Tak cuma soal pengertian, istilah jaga jarak sosial dianggap melupakan teknologi yang mampu menjembatani hubungan sosial manusia meski terpisah secara fisik.
“Kami mengganti untuk mengatakan jarak fisik dan itu bertujuan karena kami ingin orang-orang tetap terhubung [secara sosial],” kata ahli epidemiologi WHO, dokter Maria Kerkhove dikutip dari seperti dikutip Liputan6.com dari Channel News Asia pada Selasa (24/3).
Kerkhove mengatakan bahwa menjaga jarak fisik dari orang lain bisa mencegah virus menyebar atau menggunakan manusia sebagai pembawa penyakit dan membuatnya menular ke lebih banyak orang. Ia menambahkan meskipun jarak terpisah, namun masyarakat tetap bisa terhubung secara sosial satu sama lain dengan berbagai cara misalnya melalui panggilan telepon, panggilan video di Internet dan media sosial. Menurutnya, ini adalah cara untuk tetap berkontak dengan orang lain dan menjaga kesehatan mental di tengah pandemi Covid-19.
“Temukan cara melalui Internet dan berbagai media sosial untuk tetap terhubung karena kesehatan mental Anda dalam melewati [pandemi] ini, sama pentingnya dengan kesehatan fisik Anda,” kata Kerkhove dalam konferensi pers WHO.
Dokter Michael Ryan dari WHO mengatakan bahwa ada banyak kasus penularan virus corona yang berasal dari orang yang tidak bergejala. Namun, bukan berarti mereka tidak terinfeksi. “Anda membuat jarak fisik antar satu sama lain karena Anda tidak tahu persis siapa yang mungkin memiliki virusnya,” kata Ryan.
Dilansir dari hopkinsmedicine.org, ada beberapa langkah untuk menerapkan jaga jarak fisik. Beberapa di antaranya adalah bekerja dari rumah dan tidak perlu berangkat ke kantor, menutup sekolah dan memberlakukan pembelajaran daring, menunda berkunjung ke rumah saudara atau keluarga lain, membatalkan atau menunda pertemuan besar yang menyebabkan manusia berkerumun.
Untuk pencegahan dari diri sendiri, para individu harus memberlakukan self quarantine dengan berdiam diri di rumah selama 14 hari setelah melakukan perjalanan ke luar kota atau luar negeri. Individu juga dilarang berbagi alat makan, berbagi handuk, menerima tamu, dan wajib menjaga jarak dengan anggota keluarga. Individu juga harus rajin mencuci tangan dengan air dan sabun, serta membersihkan diri seusai keluar dari rumah.
Walaupun begitu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanmon Ghebereyesus menegaskan pembatasan jarak fisik saja tidak cukup untuk benar-benar menghentikan penyebarannya. Tedros menegaskan setiap negara juga perlu menerapkan strategi seperti isolasi dan merawat kasus yang dikonfirmasi, serta melacak dan mengkarantina semua kontak dekat pasien.
Dilansir dari suara.com, beberapa negara bahkan sudah menetapkan sanksi bagi warganya yang tidak mematuhi aturan jaga jarak. Bahkan lebih tegas daripada Indonesia, beberapa negara telah menerapkan aturan lockdown atau karantina wilayah dan melarang sama sekali warganya keluar rumah kecuali untuk berbelanja kebutuha makanan. Sebut saja Italia, Prancis, Yordania, Filipina, dan Malaysia.
Di Malaysia, warga yang melanggar dikenakan sanksi berat. Warga yang kedapatan keluar rumah untuk alasan-alasan selain membeli makanan, pergi ke RS, atau mencari obat-obatan bakal dikenai denda sebesar 1.000 ringgit (atau Rp3,774 juta) dan atau hukuman penjara selama enam bulan.
Masalah Lain
Masalahnya, tak semua orang menaati aturan-aturan menjaga jarak. Masih ada orang-orang berkeliaran di jalan untuk hal-hal tak perlu. Dilansir dari guardian.com, pada situasi tersebut, sebagai individu yang harus dilakukan adalah tetap menaati peraturan menjaga jarak dengan orang lain dan tidak terbawa ajakan keluar rumah.
Pakar Bedah dan Peneliti Kebijakan Kesehatan dari Brigham and Women’s Hospital Harvard TH Chan School Publich Health, dokter Thomas Chin-Chia Tsai mengatakan satu orang yang taat pada aturan-aturan yang telah disebutkan di atas dapat berkontribusi memutus rantai transmisi virus.
“Anda masih dapat meminimalkan tidak hanya risiko untuk diri Anda sendiri tetapi juga risiko dari Anda yang berpotensi menularkan ke teman dan keluarga lain di lingkaran sosial Anda. Setiap individu adalah kesempatan untuk memutus transmisi itu,” kata Chia Tsai.
Apabila di dalam rumah pun, usahakan tidak berbagi garpu, sendok, dan handuk. Saat tidur, gunakan ranjang terpisah dengan anggota keluarga lain. Jika ada anggota keluarga yang tinggal berjauhan, jangan lupa menelepon dan terus mengingatkan akan aturan tersebut. Chia Tsai mengatakan untuk membujuk mereka menaati peraturan.
Aturan menjaga jarak fisik ini dilakukan bukan untuk membunuh virus Corona dari Bumi melainkan melandaikan kurva penularan alias memperlambat laju pertambahan jumlah kasus positif infeksi di sebuah negara. Dengan begitu tenaga medis dan rumah sakit memiliki waktu memulihkan kondisi pasien.
Sejumlah besar orang menjadi sangat sakit selama beberapa hari dapat membanjiri rumah sakit atau fasilitas perawatan. Terlalu banyak orang menjadi sakit parah dengan Covid-19 pada waktu yang bersamaan dapat menyebabkan kekurangan tempat tidur rumah sakit, peralatan atau dokter.
Pada grafik, lonjakan mendadak pada pasien dalam waktu singkat dapat direpresentasikan sebagai kurva tinggi dan sempit. Di sisi lain, jika jumlah besar pasien yang sama tiba di rumah sakit pada tingkat yang lebih lambat, misalnya, selama beberapa minggu, garis grafik akan terlihat seperti kurva yang lebih landai.
Dalam situasi ini, lebih sedikit pasien yang tiba di rumah sakit setiap hari. Akan ada peluang yang lebih baik dari rumah sakit untuk dapat mengimbangi persediaan, tempat tidur, dan penyedia perawatan kesehatan yang memadai untuk merawatnya. (salsabila@harianjogja.com)

redaksi@jibinews.co