Waspada Dampak Buruk Sifat Perfeksionis

Memiliki sifat perfeksionis merupakan hal baik, karena jika Anda mengerjakan atau menargetkan sesuatu dipastikan hal tersebut dapat selesai dengan hasil yang maksimal.
Karena seseorang yang memiliki sifat ini cenderung tidak akan cepat puas sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Namun, siapa sangka di sisi lain, menjadi perfeksionis dapat berdampak kontraproduktif pada kehidupan Anda. Menurut studi terbaru, menjadi perfeksionis membuat orang lebih mudah cemas, depresi, bahkan kelelahan.
Melansir dari Liputan6, Selasa (14/4), Dr. Andrew Hill, Profesor dan Kepala Program Pascasarjana di York St John University, Inggris dan Dr. Thomas Curran, dosen psikologi olahraga di Univeristy of Bath, Inggris menemukan bahwa perfeksionisme sangat dekat dengan stres kronis. Hal ini dapat memicu penderitanya mengalami kelelahan ekstrem serta dapat mengurangi performa dalam pekerjaan.
Bagi seseorang yang memiliki sifat perfeksionis menginginkan kesempurnaan di dalam urusan pekerjaan merupakan hal yang lumrah dan mungkin dianggap sebagai hal yang positif. Terutama, karena mereka selalu berusaha menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Mereka juga tidak memberikan ruang bagi kesalahan, sehingga, mereka akan bekerja dengan sangat teliti.
Namun, sebenarnya, sifat ini tidak selalu baik bagi kehidupan seorang perfeksionis. Seperti yang diutarakan oleh Tracey Wade, seorang profesor dari Flinders University, Australia Selatan, ada hal yang dinamakan sebagai perfeksionisme tak sehat.”Hal ini terjadi ketika seseorang memiliki standar yang sangat tinggi, dan dikombinasikan dengan kritik terhadap diri sendiri yang brutal,” ujarnya, seperti dikutip dari media asal Australia, Body and Soul.
Pada level atas orang perfeksionis cenderung merasa sangat cemas jika harus bertanggung jawab atas proyek besar, mulai dari presentasi hingga mengambil keputusan yang menyangkut masa depan pekerjaan. Rasa cemas ini justru membuat para perfeksionis berubah agresif di lingkungan sosial.
Mereka tidak bisa menerima kritik dan menjadi lebih emosional saat ada kritik negatif yang ditujukan pada mereka. Seorang psikolog Thomas S. Greenspon dari University of Illinois, Chicago, Amerika Serikat, mengatakan jika orang perfeksionis gagal mereka tidak ingin disalahkan. “Mereka cemas dianggap bodoh atau tidak kompeten, imbasnya mereka jadi agresif dan cenderung bersifat menyerang orang lain,” ungkapnya.
Sulit Percaya
Memiliki standar yang tinggi, seorang perfeksionis cenderung sulit membagi tugas mereka dengan orang lain. Mereka sulit menaruh kepercayaan pada kemampuan orang lain, pada dasarnya mereka lebih memilih untuk menyelesaikan segalanya sendirian.
Tak hanya itu, keinginan menjadi sempurna terus-menerus ini juga dapat menyabotase hubungan pertemanan, keluarga, pasangan, hingga rekan kerja. Para perfeksionis akan terus melemparkan kritik dan menganggap dirinya paling benar.
Namun, saat akhirnya para perfeksionis ini mempercayakan tugasnya kepada orang lain, mereka akan menjadi micromanagers. Dengan kata lain, mereka akan menjadi orang-orang yang selalu berusaha mengontrol hingga hal terkecil sekalipun.
Thomas S. Greenspon mengatakan hal itu dapat membuat orang lain merasa tak nyaman.“Itu bisa membuat orang-orang di sekeliling mereka tertekan karena para perfeksionis tidak bisa menerima sudut pandang orang lain,” terangnya.
Jika perfeksionisme seseorang sudah berada di tahap ekstrem, mereka bisa jadi memilih menjauhkan diri dari lingkungan karena tidak ingin menerima saran bahkan kritikan orang lain. (Jeda.id/Ria Sari Febrianti)

redaksi@koransolo.co