Perempuan Berpendidikan tinggi. why not?

alo Sobat Gaul! Apa kabar nih? Kali ini kita akan membahas suatu hal yang erat kaitannya dengan Raden Ajeng Kartini. Siapa yang tidak kenal dengan Kartini? Sosok pahlawan Indonesia, yang gigih memperjuangkan emansipasi wanita pada zamannya. Berkat perjuangannya, kini setiap perempuan berhak mengenyam pendidikan, bahkan untuk tingkat yang tinggi sekalipun.
”Setiap manusia berhak mendapatkan pendidikan tinggi, termasuk seorang perempuan. Dengan begitu, seorang perempuan mempunyai kesempatan berkarier, pemikiran kritis dan luas, juga menunjukkan bakti seorang anak kepada orang tua,” ujar siswi kelas XI AKL 1 SMKN 3 Solo, Apriliana Putri Hartami, akhir pekan lalu.
Hal ini diperkuat dengan pendapat siswa kelas XI MIPA 7 SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo, Choirul Huda. ”Saya setuju dengan adanya pendidikan tinggi bagi perempuan. Karena pendidikan diperlukan dalam mengasuh buah hati kelak, terkhusus pendidikan moral.”
Mengejutkan bukan? Ternyata pendidikan menjadi bekal penting dalam kehidupan keluarga kelak. ”Salah satu yang menjadikan seorang perempuan bermoral baik adalah pendidikannya. Namun, tidak menutup kemungkinan perempuan dengan pendidikan rendah juga memiliki moral yang baik,” tambahnya.
Meskipun demikian, tetap ada dampak negatif dari gelar pendidikan tinggi bagi perempuan loh, Sobat. Hal ini terjadi karena kurangnya kemampuan dalam mengolah pengetahuan. ”Ada sedikit jaminan perempuan tersebut bermoral baik dan berdampak pada tindakannya kelak kepada pasangan maupun buah hatinya. Untuk negatifnya, ada kemungkinan sifat perempuan kurang hormat kepada pasangannya kelak karena merasa dirinya berpendidikan tinggi,” ujar Huda.
Untuk itu, marilah kita sebagai pemudi Indonesia, gigih belajar dan semangat dalam menuntut ilmu, sebagai bekal di masa mendatang. ”Manfaatkan kesempatan yang ada. Ingat! Ditegakkannya emansipasi wanita membutuhkan perjuangan yang tidak sederhana,” tegas April. (Wasis)

Ayu Rafika Sari
redaksi@koransolo.co