Dunia di Ambang Krisis Pangan Akibat Pandemi

Sejak awal 2020 dunia ber­ge­lut dengan pandemi Covid-19. Be­berapa negara memutuskan untuk mengambil kebijakan lockdown demi memperlambat penularan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Akibatnya, kegiatan menambah pasokan makanan pun terhambat melalui pembatasan impor.
Selain itu, banyak rantai distribusi makanan terputus, terjadi penimbunan bahan pangan oleh sebagian pihak, dan harga bahan pangan melonjak. Kesejahteraan hewan ternak juga menjadi masalah karena keterlambatan proses produksi yang disebabkan oleh kebijakan lockdown atau pembatasan sosial. Krisis pangan pun mulai jadi hal yang dikhawatirkan.
Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO of the United Nation), Maximo Torero, memaparkan kondisi yang terjadi di beberapa negara. Mayoritas panen mereka sudah bagus dan prospek tanaman pokok cukup menjanjikan. Akan tetapi, negara-negara itu kekurangan pekerja lapangan yang disebabkan oleh pandemi.
Maximo mengatakan hal terburuk yang bisa terjadi adalah ketika pemerintah membatasi aliran bahan pangan. Tindakan pembatasan aliran pangan seperti ekspor, dapat memicu krisis pangan suatu negara.
“Sekarang bukan waktunya untuk pembatasan atau menempatkan hambatan perdagangan. Sekarang adalah waktunya untuk melindungi aliran makanan di seluruh dunia,” kata Maximo dilansir dari The Guardian.
Menurut Maximo, pemerintah harus menolak panggilan pengiriman bahan makanan dari beberapa pihak untuk melindungi pasokan makanan mereka sendiri dengan membatasi ekspor. Beberapa negara sudah melakukannya.
Kazakhstan misalnya menurut laporan dari Bloomberg, telah melarang ekspor tepung terigu. Di mana tepung terigu merupakan salah satu sumber terbesar di dunia. Kazakhstan juga melakukan pembatasan ekspor bawang, wortel dan kentang.
Vietnam yang merupakan pengekspor beras ketiga terbesar di dunia, telah menangguhkan sementara kontrak ekspor beras. Rusia, pengekspor gandum terbesar di dunia, juga dapat mengancam untuk membatasi ekspor, seperti yang telah dilakukan sebelumnya. Sementara itu posisi Amerika Serikat diragukan karena keinginan Donald Trump untuk perang perdagangan komoditas lain.
Persoalan lain yang mengintai adalah ter­hambatnya pasokan produksi pangan akibat perubahan cuaca dan pergantian musim. Jika dalam kondisi tak ada pandemi, persoalan ini bisa diatasi dengan impor pangan. Namun kini jadi hal berat yang mengintai setiap negara akibat terhentinya impor pangan.
Menurut Maximo, saat ini, peran paling penting yang dapat dimainkan oleh pemerintah adalah menjaga rantai pasokan makanan tetap beroperasi adalah dengan melakukan intervensi untuk memastikan ada cukup banyak pekerja, dan menjaga pasar pangan global agar tidak panik. Sebab kepanikan pedagang akan semakin mempersulit pasokan bahan pangan.
“Hanya perlu satu pedagang besar untuk mengganggu pasokan makanan pokok dan itu akan berdampak di mana-mana. Pemerintah harus mengatur dengan baik, itulah fungsi terbesar mereka dalam situasi ini,” kata Maximo.
Beli Secukupnya
Sebagai Individu, masyarakat juga dapat memainkan peran penting. Yaitu dengan menghindari panic buying, menimbun bahan makanan, dan mengurangi limbah makanan.
Membeli terlalu banyak produk pertanian segar yang kemudian membusuk sebelum dimakan hanya akan memperburuk masalah pasokan makanan.
“Individu hanya boleh membeli apa yang mereka butuhkan untuk menghindari pemborosan makanan,” kata Maximo.
Ketua Pusat Krisis Universitas Indonesia (UI) Dicky Palupessy menyebut dorongan panic buying didasari oleh kepanikan dan kecemasan yang merupakan respons atas pandemi Covid-19. Menurutnya, membeli banyak barang hanya akan membantu meredakan kecemasan dalam jangka pendek.
Menurut Dikcy, seperti dilansir Liputan6 yang dibutuhkan saat krisis kontrol diri adalah penangkal rasa khawatir jangka panjang dan sehat. “Membeli secara rasional tipsnya cerdas belanja. Belilah keperluan yang sangat dibutuhkan dalam jumlah yang cukup untuk orang atau keluarga sesuai kemampuan,” kata dia. (JIBI)