Jumlah Pasien Rumah Sakit di Sragen Anjlok

SRAGEN—Akibat pembatasan pelayanan di rumah sakit dan ketakutan warga untuk berobat, membuat jumlah pasien di sejumlah rumah sakit negeri dan swasta di Sragen anjlok
hingga 50 %.

Tri Rahayu
redaksi@koransolo.co

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati yang juga salah satu pemilik RSI Amal Sehat Sragen saat berkunjung ke Mojodoyong, Kedawung, Sragen, Selasa (28/4), mengaku RS sekarang tidak ada isinya karena orang takut. “Seperti di RSI Amal Sehat dalam sepekan terakhir hanya ada 10-20 pasien padahal biasanya banyak. Warga tidak berani ke RS sehingga menjadi sepi. Orang takut sakit tetapi ditahan,” ujar dia.
Direktur RSUD dr. Soeratno Gemolong, Sragen, dr. Agus Trijono, pun saat dihubungi Koran Solo, Rabu (29/4), menyampaikan secara umum terjadi penurunan jumlah pasien hampir 50%. Dia menduga turunnya jumlah pasien itu sebagai dampak atas terjadinya wabah virus corona. Dia menjelaskan pasien rawat jalan mengalami penurunan mulai April ini. “Biasanya per bulan sampai 4.000-an orang selama sebulan terakhir tinggal 2.100-an orang pasien. Demikian halnya dengan rawat inap yang biasanya sampai 80-an orang per hari, sekarang turun menjadi 35-40 orang per hari,” ujarnya.
Pembatasan Pelayanan
Agus melihat turunnya jumlah pasien tersebut disebabkan beberapa faktor, seperti kondisi wabah Covid-19 dan mungkin karena adanya pembatasan pelayanan. Dia menjelaskan selama ada wabah Covid-19, RSUD mengedukasi pasien dan keluarga pasien serta pengunjung untuk secara mandiri dan bersama-sama menjaga situasi kondusif supaya tidak terjadi penularan yang berisiko bagi semua.
“Misalnya, kami melakukan pembatasan jumlah dan jam kunjungan pasien rawat jalan, memberlakukan pemakaian masker bagi semua pasien dan pengantarnya, sampai pada pembatasan jumlah pendamping pasien rawat inap yang tidak boleh besuk tetapi hanya ditunggui maksimal dua orang untuk meminimalisasi risiko penularan,” jelas dia.
Dia mengatakan situasi seperti itulah mungkin yang menyebabkan pasien juga selektif untuk berobat ke RS. Dia menilai mereka tidak akan berobat atau periksa ke RS kalau tidak mendesak sekali sakitnya.
Kondisi serupa juga terjadi di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Wakil Direktur Pelayanan RSUD Sragen, dr. Joko Haryono, menyampaikan penurunan jumlah pasien rawat inap dan rawat jalan hamper sama, yakni sekitar 50%. Dia menyebut jumlah pasien rawat inap misalnya yang biasanya 290 orang menjadi 138 orang per hari ini.
“Faktornya yak arena hanya pasien-pasien emergensi saja yang kami terima. Artinya, ada pembatasan pelayanan. Kebijakan pembatasan itu dilakukan mulai 20 April lalu,” jelas dia.