PERSEBARAN COVID-19 Negara Jangan Lupakan Tunawisma di Tengah Pandemi

Kondisi tunawisma yang tak memiliki rumah menjadi persoalan besar di tengah pandemi Covid-19. Negara-negara yang tak memikirkan mereka dipastikan kesulitan membuat landai kurva penularan. Mereka harus ditampung dalam selter sementara dengan penanganan yang baik, bukan amburadul. Berikut ini ulasan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Salsabila Annisa Azmi dirangkum dari berbagai sumber.

redaksi@koransolo.co

Solusi kebijakan yang diambil beberapa negara untuk menekan potensi penyebaran virus di antara para tunawisma saat ini adalah menyediakan rumah tinggal sementara atau selter. Namun dalam pengadaannya, negara maju seperti Amerika Serikat pun masih mengalami beberapa kekacauan. Contohnya di Kota New York yang menjadi episentrum penyebaran pandemi.
Dilansir dari nytimes.com, selter yang disediakan pemerintah hanya memiliki sebuah microwave komunal yang digunakan bersama-sama oleh hampir 70 orang dewasa dan 55 anak-anak. Setiap keluarga tunawisma hanya disediakan satu kamar. Akibat kerumunan yang padat di dalam selter, pada Minggu (29/3), 99 orang yang tinggal di dalam selter itu positif Covid-19.
Menurut Eve Garrow, pengamat kebijakan tunawisma The American Civil Liberties Union (ACLU), masalah sanitasi dan akomodasi di beberapa tempat penampungan membuat sebagian besar warga tidak mungkin mematuhi tindakan pencegahan Covid-19. “Ini resep bencana. Jika Covid-19 berdampak pada orang di tempat penampungan, virus akan menyebar seperti api,” kata Garrow dilansir dari The Guardian.
Permasalahan di dalam selter tunawisma juga dihadapi pemerintah kota-kota di Australia. Misalnya di Sydney, pemerintah bekerja sama dengan yayasan swasta untuk menyewa berbagai hotel sebagai tempat penampungan tunawisma. Namun masalah sosial budaya masih menjadi hambatan.
Dilansir dari Liputan6.com, tunawisma di Sydney yang mengalami gangguan mental atau gangguan kesehatan bawaan susah beradaptasi di dalam hotel. Mereka yang datang dengan beragam permasalahan kesehatan itu membutuhkan tatanan tersendiri untuk selter mereka. Apalagi selama ini mereka terbiasa tinggal di ruang terbuka.
Dari pengamatan seorang polisi yang baru-baru ini berpatroli di sebuah taman di Sydney, Jacob Connor, tidak semua warga tunawisma mau tinggal di hotel berbintang lima. Dia mengatakan seorang tunawisma bernama Ravi misalnya, menolak tinggal di selter karena dia merasa takut kemewahan itu hanya dia dapatkan sementara.
“Lagi pula, akomodasi 30 hari tidak akan menjauhkan saya dari kemungkinan untuk kembali hidup di luar dan tidur diguyur hujan,” kata Jacob menirukan ucapan Ravi.
Di Jepang, sebelum pandemi merebak, tunawisma biasanya berlindung di kafe Internet. Alasannya, warnet-warnet itu buka 24 jam. Sebagian bahkan dilengkapi bilik pribadi, kamar mandi, dan hiburan, termasuk permainan komputer.
Namun, sejak terjadi wabah virus Corona, semua warnet diperintahkan untuk tutup guna meminimalisasi penyebaran Covid-19. Dilansir dari okezone.com, Sebagai solusi jangka pendek, sejumlah pemerintah daerah di Jepang mengatakan mulai menampung mereka di kamar-kamar hotel dan berbagai bentuk akomodasi sementara.
Di Saitama, pihak berwenang mengubah gedung olahraga untuk mengakomodasi 200 orang tunawisma. Kemudian di Tokyo, pemerintah setempat mengatakan dinas sosial bisa mengirim para tunawisma ke akomodasi sementara. Akan tetapi, menurut Kazuhiro Gokan, selaku konsultan kelompok penyokong tunawisma setempat, sejumlah orang ditolak menginap karena ada kesalahpahaman di antara pengelola.
Rentan Tularkan Virus
Michael Cosineau, seorang profesor pengamat kebijakan kesehatan dari Keck School of Medicine California Amerika Serikat dalam sebuah artikel mengatakan tunawisma lebih rentan menularkan virus. Oleh karena itu, pemerintah harus cepat menangani solusi di selter penampungan mereka selama masa pandemi.
Hidup di jalanan membuat kesehatan tunawisma lebih rentan. Banyak dari mereka yang sudah memiliki penyakit menular dan berisiko tinggi terkena penyakit-penyakit itu. Misalnya seperti tuberkulosis, hepatitis, HIV Aids, dan pneumonia.
Apabila dibiarkan di tempat terbuka, menurut Michael, mereka yang telah memiliki penyakit tersebut akan lebih rentan tertular virus SARS-CoV-2. Kemudian mereka akan menularkannya ke orang-orang yang melewati mereka. “Hal ini seharusnya membuat pejabat pemerintah dan penyedia layanan kesehatan khawatir bahwa virus juga dapat menyebar di antara para tunawisma,” kata Michael dalam artikel tersebut.
Michael mengamati fasilitas selter yang disediakan oleh beberapa negara. Menurutnya selter tersebut masih belum cukup baik untuk mencegah penyebaran virus. Beberapa selter memiliki toilet atau wastafel portabel. Namun di dalam sana mereka makan, tidur, dan berkumpul berdekatan satu sama lain. Ada juga selter yang mengadakan kegiatan bersama, sehingga meningkatkan risiko penularan.
Padahal, menurut Michael, mereka yang bekerja di tempat penampungan mungkin memiliki pelatihan terbatas dalam pencegahan, atau cara untuk mengidentifikasi dan mengisolasi seseorang yang menunjukkan tanda dan gejala Covid-19. Padahal, ada kemungkinan sebelum datang ke selter pun mereka sebenarnya sudah terinfeksi virus. (salsabila@harianjogja.com)