Pandemi covid 19. Belajar dari Vietnam Sukses Akhiri Lockdown

Meski berbatasan langsung dengan China yang menjadi pusat penyebaran pandemi Covid-19, Vietnam melewati masa sulit pandemi Corona Covid-19 dengan baik. Lockdown atau karantina wilayah yang diberlakukan berhasil menekan jumlah persebaran virus dan korban meninggal dunia. Meski telah dilonggarkan, sejumlah protokol kesehatan tetap dijalankan. Berikut laporan wartawan Jaringan Informasi bisnis Indonesia (JIBI), Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.

redaksi@koransolo.co

Warga Kota Kota Ho Chi Minh dan Hanoi bisa sedikit bernapas lega setelah Perdana Menteri (PM) Vietnam, Nguyen Xuan Phuc, mengizinkan diakhirinya praktik social distancing atau pembatasan sosial yang telah berlangsung selama 22 hari di kedua kota tersebut di tengah pandemi Covid-19 yang disebabkan virus Corona. Praktik social distancing yang diberlakukan selama 22 hari sejak 1 April lalu dan diakhiri mulai Kamis (23/4) waktu setempat.
Ketua Komisi Rakyat Ho Chi Minh City, Nguyen Thanh Phong menyebut kebijakan tersebut diambil karena dua kota itu tidak melaporkan kasus baru selama 21 hari berturut-turut dan saat ini hanya memiliki dua kasus aktif. Meski begitu, seperti dilansir Detik para penduduk masih harus mematuhi arahan PM Nguyen soal penghentian acara massal, yaitu perkumpulan melebihi 20 orang di satu lokasi dan perkumpulan melebihi 10 orang di luar ruangan. Warga juga masih harus menjaga jarak minimum dua meter satu sama lain di area-area publik.
Vietnam menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang sukses menerapkan kebijakan pembatasan sosial. Dilansir dari Liputan6.com, Vietnam memiliki dua kunci keberhasilan yaitu kepatuhan masyarakat dan kecepatan pemerintah dalam bertindak merespons penyebaran virus Corona (SARS-CoV-2).
Sepekan sebelum Imlek pada 26 Januari, Pemerintah Vietnam sudah ambil ancang-ancang penanganan Covid-19. Segala acara perayaan Imlek yang mengundang kemeriahan langsung dibubarkan.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Viet­nam, Ibnu Hadi, mengatakan pemerintah Vietnam selalu berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (Wolrd Health Organization/WHO). Tepatnya dengan Kantor WHO yang berada di Vietnam. Semua anjuran dari WHO ditepati tanpa terkecuali.
Pemerintah Vietnam yang sentralistis juga dinilai membantu dalam eksekusi kebijakan. Alhasil, perdebatan terkait kebijakan karantina wilayah tak berlangsung lama.
“Jadi once it is decided [begitu diputuskan], semua bergerak. Jadi kebijakannya cepat di lapangan, dan itu mungkin yang membantu sehingga kasusnya tidak banyak merebak,” kata Ibnu.
Didenda
Sejak Perdana Menteri menetapkan kebijakan social distancing mulai dari 1 hingga 15 April, kondisi di Vietnam pun kondusif. Kegiatan bisnis hampir seluruhnya berhenti beroperasi, begitu juga kegiatan transportasi umum. Masyarakat hanya diperbolehkan keluar rumah jika hendak membeli bahan makanan di supermarket, pasar, atau membeli obat di apotek.
Urusan yang sifatnya kebutuhan yaitu perbankan dan jasa pemerintah tetap buka. Begitu juga rumah sakit atau klinik. Selain itu, semua berhenti beroperasi.
“Bahkan kita [ada warga] jalan tanpa tentu arah, kadang-kadang didatangi petugas ditanya mau kemana, kalau jawabannya enggak jelas disuruh pulang. Jadi sini cukup ketat,” kata Ibnu.
Di Vietnam, warga yang tak mengenakan masker didenda dengan tegas. Begitu juga ketika petugas keamanan melihat ada warga berkumpul. Meski hanya dua orang, tetap akan dipisahkan. Toko-toko yang masih nekat beroperasi, hotel yang masih menerima turis asing dan transportasi umum yang masih berjalan dijatuhi hukuman denda. (salsabila@harianjogja.com)