Belajar atau Tertinggal

Menjadi dokter sekaligus orang yang bermanfaat merupakan impian Tsalis Khoirul Tsaqif, siswa kelas XII SMAN 2 Solo dengan semangat belajarnya yang membara. Pelajar yang lahir di Boyolali, 23 Agustus 2003 itu me­mang belum genap berusia 17 tahun. Namun, ia sudah mengantongi gelar sebagai mahasiswa baru. Tak tanggung-tanggung, Tsalis berhasil lolos di jalur SNMPTN dan memasuki Program Studi Kedokteran Umum Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang untuk me­lanjutkan studinya.
”Belajar atau ter­tinggal,” be­gi­tu­lah bunyi motto hi­dup Tsalis yang se­lalu memotivasi di­ri­nya untuk terus berjuang menggapai mimpi. Berpres­tasi di bidang akademik membuat Tsalis mempunyai banyak rekam jejak di perlombaan-perlombaan yang berkaitan dengan keahliannya. Antara lain, Olimpiade Fisika tingkat Kota Solo pada kelas X dan XI, Olimpiade Matematika tingkat Nasional di UNS Solo, Lomba Lawatan Sejarah mewakili Kota Solo di Salatiga, dan Olimpiade Zoologi Nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Hewan UGM Jogja. Tsalis beserta timnya lolos babak penyisihan dan meraih peringkat 17 nasional.
Tsalis berhasil mempertahankan gelar sebagai paralel I dan II sejak kelas X hinggakelas XII. Bagi Tsalis, datang dari desa untuk mengenyam pendidikan di kota merupakan suatu bentuk tantangan tersendiri.
”Sekolah jauh di Solo, harus belajar lebih serius daripada teman-teman yang dari kota. Aku mau ngebuktiin kalau ini loh yang dari desa bias kok. Biar guru dan teman-teman terbuka dengan orang dari luar kota, dan bias saling memotivasi. Dari kelas X aku indekos, artinya orang tua sudah kasih lebih buatku, jadi harus kasih yang terbaik buat orang tuaku.”
Selain berprestasi di bidang aka­demik, Tsalis juga pernah menja­bat sebagai ketua Rohis di sekolahnya. Ini membuktikan bahwa Tsalis mem­punyai jiwa kepemimpinan yang tinggi.
”Masa peralihan SMP ke SMA lumayan sulit. Dulu main-main, se­karang harus lebih serius belajar,” ujar Tsalis kepada Wasis, Senin (4/5).
Tsalis berpesan jangan sampai kita tertinggal dengan orang-orang yang belajar setiap harinya. ”Kalau orang lain sudah berharap banyak sama kita, kita harus bahagiakan mereka dengan cara mencapai apa yang kita impikan. Jangan takut dengan orang yang sudah pintar, jadikan mereka sebagai motivasi. Usaha iya, doa jangan lupa. Dan semua yang kita punya, disyukuri aja, belajar da­ri kegagalan kemarin,” tam­bahTsalis. (Ayu Rafika Sari–Wasis)