Pentingnya Mengubah Strategi Bisnis Restoran

Pandemi Covid-19 hingga penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah telah memaksa bisnis dan sejumlah tempat umum tutup hingga akhir Mei mendatang.
Dampaknya dirasakan paling berat oleh pelaku bisnis, salah satunya di sektor makanan dan minuman yang biasanya dapat memanfaatkan momentum bulan Ramadan untuk meraup cuan lebih besar.
Agenda buka bersama dan pesanan dalam jumlah besar untuk paket makanan sahur kini menurun drastis. Kunjungan konsumen ke restoran pun hampir nihil karena sebagian besar warga memilih untuk melakukan kegiatan dari rumah.
Kondisi ini memaksa pelaku bisnis untuk memutar otak dan strategi agar tidak selamanya terpuruk di tengah keterbatasan. Beberapa restoran kini menggencar promosi digital dengan menjual berbagai paket makanan siap saji atau makanan jadi untuk konsumen.
Strategi yang sama juga diterapkan oleh restoran yang menyajikan berbagai pilihan daging barbekyu. Menjamurnya restoran sejenis sejak dua tahun terakhir membuat konsumen rindu makan bar­bekyu bersama teman dan keluarga di tengah PSBB.
”Sejak PSBB berlangsung dan kami membatasi fasilitas dine-in, pesanan untuk daging beku meningkat sedikit lebih tinggi dari hari-hari biasa sebelum wabah Covid-19 menyebar,” ujar Andre, pemilik restoran barbekyu Genkuro di Jakarta, belum lama ini.
Restorannya telah membatasi pengunjung sejak pertengahan Maret. Untuk menyiasati sepinya pengunjung, pria yang memulai bisnisnya sejak akhir tahun lalu itu, kini mengalihkan bisnisnya ke penjualan daging beku siap masak.
Konsumen dapat memilih jenis-jenis potongan daging yang mereka inginkan seperti meltic saikoro, karubi, rosu hingga pilihan daging ayam, dan ikan dory.
Daging-daging tersebut dijual dalam kemasan satu kilogram dengan kisaran harga Rp65.000 untuk ikan, Rp80.000 untuk daging ayam dan Rp110.000-Rp170.000 untuk daging sapi.
Ada juga paket-paket menu grill dengan isian daging yang lebih variatif, dilengkapi dengan pilihan saus serta sayuran pendamping, dan dijual dengan harga Rp159.000-Rp329.000.
Semua pengiriman akan dilakukan melalui jasa pengiriman ojek online. Mendekati akhir pekan, konsumen biasanya membeli lebih banyak daging sebagai persediaan.
Menurut Andre, selama PSBB ber­langsung dia dapat mengantongi omzet sebesar Rp8 juta-Rp10 juta per hari. Dia mengungkapkan bahwa daging varian wagyu saikoro menjadi salah satu favorit konsumen.
Jika sedang sepi permintaan, omzet yang dia dapatkan ada pada kisaran Rp6 juta per hari. Jumlahnya hanya berbeda tipis dari kondisi business-as-usual.
”Permintaan konsumen tetap tinggi meskipun sedang ada pembatasan sosial. Apalagi daging sudah kita siapkan dalam bentuk irisan tipis atau kubus jadi mereka sudah tinggal masak saja seperti sedang makan di restoran,” ungkap Andre.
Dia juga sedang menyiapkan fitur take away dengan menu makanan jadi yakni rice bowl, bekerja sama dengan jasa pengiriman ojek online untuk mendiversifikasi pilihan bagi konsumen.
Setelah wabah berakhir, Genkuro akan membuka kembali layanan dine-in dan tetap melanjutkan penjualan menu grill.(Bisnis.com)