PANDEMI COVID-19 Memikirkan Sampah, Melindungi Pemulung

Penyebaran pandemi Covid-19 semakin meluas. Warga yang terpapar semakin banyak. Imbauan untuk bekerja di rumah dan menghindari kerumunan orang, tentu berat bagi mereka yang tetap berkerja. Apalagi penduduk miskin dan di bawah garis kemiskinan seperti pemulung dan buruh sortir sampah.
Di Indonesia, para pemulung mengeluhkan pendapatan mereka yang menurun. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sejak PSBB diberlakukan, banyak pelapak plastik terpaksa tutup karena banyak usaha kecil dan menengah (UKM) dan industri yang tutup. Akibatnya, pemulung tidak bisa menjual plastiknya kepada pelapak.
Di sisi lain, selama masa pandemi, konsumsi kemasan plastik tetap berjalan dan kecenderungan semakin meningkat. Dilansir dari Liputan6.com, Ketua Umum Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) Pris Polly Lengkong menanggapi fenomena ini dengan melontarkan kritik terhadap pemerintah. Menurutnya pemerintah harus mengoreksi kebijakan agar industri ekosistem daur ulang bisa tumbuh karena masa pandemi merupakan momen yang tepat memajukan industri daur ulang.
Saat ini pun, berbagai pihak mulai dari komunitas, yayasan, dan perusahaan swasta beramai-ramai memberi bantuan ekonomi kepada para pemulung. Namun ada satu hal yang masih dilupakan oleh Indonesia, tak hanya dari aspek ekonomi, aspek kesehatan para pemulung seharusnya juga menjadi hal yang lebih diprioritaskan oleh pemerintah. Apalagi banyak pemulung di Indonesia yang sudah dinyatakan positif Covid-19.
Di tengah pandemi, para pemulung memang berhadapan dengan meningkatnya volume sampah rumah tangga yang berisiko memaparkan virus SARS-CoV kepada mereka.
Di Amerika Serikat misalnya, ada lonjakan volume sampah rumah tangga sebesar 30% selama masa karantina. Hal itu dicatat oleh Republic Services, salah satu perusahaan pengolah limbah terbesar di Amerika Serikat.
Barney Shapiro, pemilik Tenleytown Trash, mengatakan karena aktivitas pengangkutan sampah yang semakin tinggi selama pandemi, paparan virus sudah terjadi pada salah satu supir truk sampahnya. Supir truk dan satu pekerja administratifnya terbukti positif Covid-19. Kejadian itu membuat pekerja sampah lainnya takut untuk bekerja.
“Saya tidak bisa bilang mereka harus tetap bekerja, kenyataannya mereka memang berisiko tinggi terpapar virus,” kata Barney.
Di Malaysia, para pemulung masih belum memisahkan sampah rumah tangga dengan sampah infeksius seperti sampah tisu dan sampah masker. Hal ini tentu saja menyebabkan mereka berisiko tinggi terpapar virus. Dilansir dari The Star, Anggota Parlemen, Kepong Lim, mengatakan seharusnya di saat pandemi limbah masker dan limbah tisu digolongkan sebagai limbah berbahaya.
Menurut Profesor G. Jayakumar, profesor kesehatan kerja di Fakultas Kedokteran di Melaka Manipal Medical College, Melaka, Malaysia para pemulung juga harus diberi peralatan lengkap saat mengelola limbah seperti sepatu boots dan pakaian pelindung.
Masih Berupa Imbauan
Lonjakan sampah rumah tangga juga terjadi di Jepang. Kementerian Lingkungan Hidup Jepang menyebut sekitar 230.000 orang di Jepang bekerja untuk perusahaan swasta dalam penanganan limbah umum. Dilansir dari The Manichi, pada akhir Maret 2020, Kementerian Lingkungan Hidup Jepang membuat pamflet untuk memberi nasihat kepada anggota rumah tangga tentang kekhawatiran terhadap orang yang bekerja di tempat pengumpulan sampah berisiko terkena Covid-19. Isi pamflet tersebut antara lain membuang sampah mereka sebelum menumpuk dan mengikat kantong sampah rapat-rapat.
Di Kanada, tindakan pemerintah lebih nyata. Seperti dilansir dari CTV News Canada, di Toronto, Kanada, warga diperintahkan untuk memisahkan sampah sarung tangan, tisu, dan masker mereka dalam satu plastik terpisah yang terikat rapat. Sampah itu diletakkan di tempat terpisah. Para pemulung juga melalui proses screening kesehatan sebelum bertugas mengambil sampah di rumah-rumah. Beberapa kota juga menyediakan titik antarsampah yang bisa dilakukan sendiri untuk meringankan beban kerja pemulung. (salsabila@harianjogja.com)