PENCEGAHAN PENYAKIT Negara Miskin Terancam Telat Dapat Vaksin Covid-19

Sejumlah peneliti dalam proyek pengembangan vaksin Covid-19 mengkhawatirkan timpangnya pasokan di seluruh dunia kelak ketika produknya telah bisa diproduksi massal. Salah satunya adalah Broderick, anggota kelompok peneliti di balik 44 proyek pengembangan vaksin-19 di seluruh dunia.
Broderick merupakan anggota tim ilmuwan di Inovio, perusahaan bioteknologi berbasis di Amerika Serikat. Mereka memiliki target memproduksi satu juta dosis vaksin awal Desember 2020 mendatang. Namun Broderick gelisah sebab dalam pikirannya ketersediaan vaksin untuk setiap orang di seluruh dunia mustahil terwujud dalam waktu serentak.
“Saudara [perempuan] saya bergelut setiap hari [sebagai perawat di Layanan Kesehatan Inggris/United Kindom National Heatlh Service] untuk menolong orang-orang yang terjangkit penyakit ini. Jadi betul, saya mencemaskan ketersediaan vaksin ini untuk setiap orang. Kami harus segera memastikan ketersediaannya,” kata Broderick seperti dilansir BBC.
Bagaimanapun saat ini sudah muncul kekhawatiran bahwa solusi yang ditawarkan Inovio bakal dikuasai negara-negara kaya. Kekhawatiran tentang potensi ketimpangan imunisasi itu juga diutarakan pakar epidemologi, Seth Berkley, CEO Vaccine Alliance (Gavi).
Organisasi yang dipimpin Berkley adalah sebuah kemitraan bidang kesehatan global antara organisasi publik dan swasta yang bermisi meningkatkan akses imunisasi di 73 negara termiskin di dunia. Salah satu anggota kemitraan tersebut adalah Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organizatioan/WHO).
“Kami harus membicarakannya sekarang, walau belum ada vaksin Covid-19 yang tersedia. Tantangannya adalah memastikan ada cukup vaksin bagi orang-orang yang membutuhkannya, baik di negara kaya maupun miskin,” ujar Berkley.
Ketakutan Berkley bukannya tidak berasalan. Ketimpangan terjadi dalam penyebaran sejumlah vaksin penyakit sebelumnya. Salah satu contoh nyata ketimpangan imunisasi terjadi dalam vaksin Hepatitis B, sebuah virus yang bertanggung jawab menyebabkan kanker hati, yang menurut WHO, daya infeksinya 50 kali lebih tinggi ketimbang HIV. Pada 2015, diperkirakan 257 juta orang di seluruh dunia mengidap Hepatitis B.
Imunisasi untuk menangkal penyakit mulai tersedia di negara-negara maju pada 1982. Namun pada tahun 2000, kurang dari 10% negara termiskin di dunia memiliki akses terhadap vaksin.
Belakangan, koran Jerman, Welt Am Sontag, mengutip pejabat tinggi yang menyebut Presiden AS, Donald Trump, berusaha memastikan akses eksklusif bagi warga negaranya terhadap vaksin yang tengah dikembangkan perusahaan bioteknologi CureVac. Namun pendekatan Trump terhadap perusahaan asal Jerman itu dikabarkan gagal.
Namun badan pemerintahan federal yang bertanggung jawab atas pengembangan vaksin darurat (Biomedical Advanced Research and Development Authority/BARDA) di Amerika Serikat telah mengindikasikan hasil pengembangan dan penelitian vaksin Covid-19 serta produksi massal akan diprioritaskan untuk perhatian dalam negeri.
“Saat ini, kami fokus pada pendekatan seluruh Amerika yang diperlukan untuk mempercepat ketersediaan vaksin, kata Gary Disbrow, pejabat di BARDA kepada The Washington Post.
BARDA bertugas melindungi warga Amerika Serikat dari ancaman biologis. Mereka menyalurkan dana besar kepada Johnson & Johnson untuk mengembangkan vaksin dari penyakit pandemi ini.
Mereka juga menyediakan ratusan juta dolar AS dalam bentuk dukungan keuangan untuk upaya pengembangan vaksin oleh Sanofi, perusahaan obat besar di Prancis. Terlibat juga dalam pengembangan vaksin dari Moderna, perusahaan biotek di Massachusetts.
“Melalui kerja sama dengan banyak perusahaan, kami memiliki lebih banyak harapan terhadap ‘tembakan yang tepat sasaran’ untuk meningkatkan peluang bahwa AS akan memiliki satu atau lebih vaksin tersedia secepat mungkin,” kata Disbrow.
Harapan Indonesia
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah Indonesia akan tersisihkan dari jatah vaksin Covid-19 yang diproduksi perusahaan-perusahaan besar di negara-negara maju? Pertanyaan itu dijawab oleh Honesti Basyir, Direktur Utama Bio Farma, perusahaan vaksin BUMN terbesar di Indonesia.
Honesti percaya diri menyebut tahun ini peneliti Indonesia telah bisa menemukan bibit vaksin tahun ini sehingga pada 2021 Bio Farma bisa memproduksi massal vaksin Covid-19.
Demi mewujudkannya, Bio Farma beserta Kementerian Riset dan Teknologi membuat konsorsium penemuan vaksin Covid-19 Indonesia. Lembaga Eijkman memimpin proyek ini bersama dengan dengan Bio Farma, Balitbangkes dan beberapa universitas.
Dalam proyek ini, semua penemuan swab test akan diolah sedemikian rupa oleh Balitbangkes. Selanjutnya jika bibit virus Corona sudah ditemukan akan diserahkan kepada Bio Farma untuk berlanjut ke pembuatan vaksin lalu diproduksi secara massal.
Honesti optimistis bisa menemukan vaksinnya dalam waktu singkat. Sebab dalam prosesnya Bio Farma akan menggunakan teknologi biofarmatik. Teknologi terbaru ini memungkinkan penemuan vaksin dalam waktu dua tahun. Waktu tercepat dari penemuan antivirus yang biasanya membutuhkan waktu 10-15 tahun.
“Dengan adanya teknologi ini mudah-mudahan dalam dua tahun bisa dibentuk vaksinnya,” ungkap Honesti. Dia pun memiliki target tertentu. “Sehingga di akhir bulan empat [April] tahun 2021 kita [Indonesia] sudah memiliki vaksinnya,” ujarnya seperti dilansir Liputan6.
Jika hal ini terwujud, Indonesia tak perlu berada dalam pusaran antrean pembeli vaksin Covid-19 yang sudah pasti dikuasani negara-negara maju. (salsabila@harianjogja.com)