PENJUALAN PROPERTI HOTEL MULAI MARAK Dipasarkan di Situs Jual Beli Online

JOGJA—Dampak pandemi Covid -19, properti hotel di wilayah DIY mulai diperjualbelikan di sejumlah situs jual beli online.

Herlambang Jati Kusumo
redaksi@koransolo.co

Tren penjualan properti tersebut dibenarkan oleh Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY. Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengatakan masa pandemi Covid-19 ini sangat berdampak pada kelangsungan usaha hotel dan restoran. Ia membenarkan adanya sejumlah hotel yang semakin berat untuk menjalankan operasionalnya.
“Mulai dijual ada [disitus jual beli online], tetapi sampai saat ini pembeli baru tanya. Ini kan imbas dari pandemi Covid-19 mereka tidak kuat lagi. Tetapi ada juga yang memang mau dijual sebelum pandemi ini,” kata Deddy kepada Harian Jogja, Kamis (14/5).
Diungkapkan Deddy, owner yang ingin menjual properti hotel sebelum masa pandemi ini sebenarnya sempat menaruh harapan akan datang tamu lebih banyak di DIY dengan adanya bandara Yogyakarta International Airport (YIA), tetapi hal yang tidak terduga terjadi dengan adanya Covid-19 ini.
“Mereka sebenarnya menaruh harapan adanya YIA jadi sempat menunda penjualan, tetapi karena kondisi begini, jadi ya mereka jual. Saya tidak bisa menyebutkan karena etika juga, tapi ada dari nonbintang sampai bintang empat,” ujarnya.
Dalam penelusuran di situs jual beli properti seperti Lamudi.co.id, kemudian 99.co memang ada sejumlah properti hotel di DIY yang dijual dari nonbintang hingga bintang empat. Baik di kawasan pusat kota maupun di kawasan wisata.
Deddy mengatakan selain sejumlah penjualan properti hotel, dampak Covid-19 ini juga berimbas semakin banyaknya hotel yang tutup sementara. Setidaknya dari 300-an hotel yang ada di DIY, 95% di antaranya telah tutup sementara. Sejumlah langkah pun telah disiapkan pengusaha hotel, agar tetap bisa bertahan. Seperti pada Juni nanti sejumlah pelaku usaha hotel akan mulai buka kembali. Untuk hotel yang beroperasi nanti, Deddy menekankan agar menerapkan protokol pencegahan Covid-19. Jika hotel tidak mampu, dikatakannya agar tidak buka dahulu, karena menyangkut kesehatan para tamu.
Selain sejumlah langkah yang dipersiapkan pengelola hotel, dia juga mengharapkan pemerintah membantu para pelaku usaha hotel dan restoran. Seperti masalah tagihan listrik yang saat ini masih tinggi, agar ada kebijakan khusus yang tidak memberatkan pelaku usaha. Kemudian, pihaknya juga berharap adanya pinjaman dari pemerintah yang bunganya ringan atau tidak ada bunga sama sekali.
Pengamat Pariwisata UGM, Prof. Baiquni mengatakan saat ini memang belum ada kajian mendalam tentang masalah dijualnya hotel di situs jual beli online, namun dia melihat ada sejumlah hal yang berkaitan dengan fenomena ini.
Pertama dari sisi pemilik sendiri. Ia melihat sebelum adanya pandemi Covid-19 ini pariwisata booming dan para investor yang sebenarnya tidak memiliki passion di dunia wisata ikut berinvestasi di hotel. “Investor yang memang memiliki passion di pariwisata biasanya lebih kuat bertahan. Biasanya mereka sudah punya pengalaman panjang dipariwisata yang bertahan, tidak sekedar ikut-ikut. Jadi tidak hanya punya uang, tetapi mereka punya mentalitas berbisnis pariwisata,” ujarnya.
Faktor kedua yang bersinggungan dengan masalah jual hotel melalui situs online ini, karena maraknya virtual hotel dalam beberapa waktu terakhir. Dari situ, Prof. Baiquni melihat adanya persaingan harga yang kurang sehat, dengan tidak adanya aturan dari awal, sehingga muncul kanibalisme.
Cepat Laku
Kemudian dari sisi lingkungan bisnis hotel di DIY, untuk pengunjung sebenarnya tidak hanya dari murni wisatawan, namun juga karena ada faktor keperluan pendidikan yang mendorong kunjungan. Hal tersebut berbeda dengan Bali yang murni karena wisata. “Kemudian dari sisi kebijakan pemerintah juga penting. Saat ini mungkin sudah ada, tetapi bagaimana merespon sejumlah hotel yang mulai tutup juga, itu kan perlu dukungan dari pihak pemerintah,” ucapnya.
Di Jakarta, pengembang mengakui bahwa di bisnis properti jual beli hotel lumrah terjadi dalam beberapa waktu belakangan.
Jika ditelusuri lebih jauh di situs jual beli properti, beberapa hotel dijual di tengah pandemi Covid-19. Penawaran penjualan mulai dari hotel bintang tiga sampai empat tersebar di pelbagai lokasi seperti Bali, Yogyakarta, hingga Jakarta.
Hotel-hotel tersebut dijual dengan harga beragam, mulai dari miliaran rupiah hingga triliunan rupiah. Pertanyaannya, dengan nilai sebesar itu siapa yang berminat membelinya?
”Pembeli biasanya investor investment company, banyak juga pemain industri diversifikasi ke hotel,” ujar Chief Executive Officer Gapura Prima Group Rudy Margono pada Bisnis, Rabu (13/5).
Rudy mengatakan biasanya hotel tersebut dilego lantaran kebutuhan pembayaran utang atau untuk menutupi pengeluaran di tengah kondisi sulit seperti saat ini.
Meskipun jual beli aset hotel sudah lumrah terjadi sejak lama, untuk saat ini belum diketahui apakah penjualan hotel makin marak atau tidak menyusul ditutupnya ribuan operasional hotel akibat pandemi.
Rudy mengatakan dengan kondisi saat ini, kemungkinan besar terjadi penurunan dari segi harga sehingga nilai jual bisa lebih murah. Namun, dia tidak yakin banyak pihak yang meliriknya. ”Hanya memang sekarang pembelinya enggak ada,” kata Rudy.
Senior Director Ciputra Group Artadinata Djangkar mengatakan ual beli hotel di kalangan pebisnis menjadi hal yang tak asing. Namun, dia belum tahu apakah jual beli hotel tersebut makin marak atau tidak di saat wabah virus corona ini.
Lagi pula, kata dia, meskipun hotel tersebut dilego oleh pemiliknya, tidak ada yang bisa menjamin bahwa aset tersebut bisa cepat laku. ”Sekarang bukan saat yang tepat untuk menjual karena bisnis hotel sedang terpuruk, meskipun pembeli bisa pengembang atau investor lain. Dengan kondisi seperti ini calon pembeli akan terbatas sekali,” tuturnya. (JIBI/Bisnis.com)