2 Bulan Lockdown, Covid-19 India Masih Tinggi

JAKARTA—Perkembangan kasus Covid-19 di India terus bertambah dan kini sudah melampaui angka di Tiongkok yang merupakan negara tempat pandemi ini bermula.
India mengambil alih posisi Tiongkok sebagai negara dengan jumlah kasus Covid-19 terbesar di Asia. Per Jumat (15/5), dilansir Bloomberg, Sabtu (16/5), jumlah kasus baru di India mencapai 3.787 orang sehingga total kasus sebanyak 85.784, lebih tinggi dari kasus infeksi di Tiongkok yakni 84.038 kasus.
Berdasarkan data yang dikompilasi John Hopkins University, negara dengan populasi terbanyak kedua di dunia menjadi negara ke-11 kasus wabah Covid-19 terbanyak di dunia.Kenaikan kasus ini mengindikasikan adanya efek terbatas atas pemberlakuan lockdown di India sejak 25 Maret lalu.
Setelah hampir dua bulan masyarakat India harus hidup dalam lockdown, negara ini tidak menunjukkan adanya penurunan kasus baru seperti yang terjadi di Italia atau Spanyol maupun di Tiongkok yang berhasil menekan kenaikan kasus baru dengan melakukan lockdown di Provinsi Hubei, tempat virus corona ini kali pertama ditemukan.
Jumlah kasus baru di India terus menunjukkan kenaikan, meskipun hampir semua warganya sekitar 1,3 juta orang berdiam diri di rumah.
Pasalnya, banyak masyarakat India tinggal di area padat penduduk sehingga membuat implementasi pembatasan sosial menjadi mustahil dilakukan.
Bahkan, di antara kalangan masyarakat di kelas menengah, satu apartemen terkadang diisi oleh sekitar empat orang lebih. Di kawasan kumuh Mumbai, satu kamar bisa dihuni oleh setidaknya tujuh orang dan semuanya berbagi kamar mandi.
Ketika pemberlakukan lockdown mulai menekan perekonomian, Perdana Menteri India Narendra Modi mulai melonggarkan aturan lockdown di beberapa kota yang memicu adanya kasus-kasus infeksi baru. Untuk menekan jumlah kematian di tengah tingginya angka kasus, pemerintah menyiapkan ratusan ribu kamar tidur isolasi untuk merawat pasien dan puluhan ribu tempat tidur perawatan kritis
Hal ini membantu India menekan jumlah kematian yang saat ini sebanyak 2.753 orang, atau lebih rendah dibandingkan China sebanyak 4.637 orang. (JIBI/Bisnis)