Keluarga Pasien Covid-19 Ngeyel, Bupati Ikut Jemput Paksa

MADIUN—Bupati Madiun, Ahmad Dawami, tidak menyangka pihak keluarga pasien positif virus corona di Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun menolak untuk dievakuasi medis, Kamis (14/5). Bahkan, keluarga pasien sampai menghalang-halangi dan melontarkan sumpah serapah kepada petugas yang hendak membawa pasien untuk diisolasi di rumah sakit.
Kabupaten Madiun mengumumkan ada penambahan pasien Covid-19 satu orang pada Kamis. Sehingga, jumlah pasien positif menjadi 15 orang. Penambahan satu pasien ini merupakan santri dari Pondok Pesentren Temboro yang ada di Kabupaten Magetan. Hasil swab menunjukkan santri ini terjangkit virus corona. Sesuai protokol kesehatan, pasien ini harus menjalani perawatan dan isolasi di rumah sakit. Pasien harus menjalani isolasi sampai dinyatakan sembuh atau terkonversi negatif.
Lantaran masih di rumah, petugas penanganan Covid-19 Kabupaten Madiun yang terdiri atas tim medis Dinas Kesehatan dan rumah sakit pun menjemput pasien tersebut. Tetapi, orang tua pasien menolak keras anaknya dibawa ke rumah sakit. Tim terpaksa mundur dan menyampaikan informasi itu kepada bupati yang akrab disapa Kaji Mbing itu. Bupati lantas datang ke rumah pasien yang ada di Desa Sewulan.
Saat Bupati datang, kedua orang tua pasien kembali menolak anaknya dibawa petugas. Kaji Mbing kembali memberi pengertian bahwa pasien dinyatakan positif corona setelah hasil tes swab keluar. Tapi orang tua pasien malah marah-marah. Bahkan menuduh bahwa pemerintah zalim. Kaji Mbing juga memastikan bahwa anak tersebut tidak akan terjadi apa-apa dan itu menjadi tanggung jawab pemerintah.
Kaji Mbing kepada wartawan mengatakan keluarga dari pasien ini bersikukuh bahwa anaknya tidak mengalami gejala sakit. Sehingga mereka menolak untuk diisolasi. Padahal dijelaskan pula bahwa pasien positif corona ada yang kondisinya sebagai orang tanpa gejala (OTG) tetapi sebenarnya terinfeksi virus. “Mereka punya pemahaman sendiri. Bahwa anaknya tidak merasa sakit. Jadi tidak perlu dibawa ke rumah sakit,” ujar Bupati kepada wartawan, Jumat (15/5).
Bupati menyayangkan aksi berlebihan yang dilakukan keluarga. Padahal, kalau tidak segera diisolasi kemungkinan besar virus semakin menyebar dan semakin banyak yang terinfeksi. Di Kabupaten Madiun, pasien positif Covid-19 berasal dari dua klaster yaitu Asrama Haji Sukolilo dan Pondok Temboro. Dari dua klaster ini, paling banyak pasien positifnya yakni dari klaster Pondok Temboro sebanyak 10 orang.
Kaji Mbing mengaku klaster Pondok Temboro ini proses isolasinya paling sulit dilakukan. Saat tim medis hendak mengevakuasinya, kerap terjadi penolakan dari keluarga. Dia mengaku setiap ada penambahan pasien positif kerap kali mendatangi rumahnya dan memastikan seluruh protokol kesehatan dilakukan di rumah pasien. Tetapi, sudah lima kali ia harus beradu argumen kepada keluarga saat hendak mengevakuasi pasien.
“Ini harus saya lakukan. Mereka harus dibawa ke rumah sakit. Saya sangat menyayangkan sikap warga yang seperti itu, padahal mereka pastinya sudah tahu imbauan pemerintah terkait Covid-19, kenapa mereka malah seperti itu sikapnya,” terangnya. Padahal petugas yang menangani wabah corona ini juga bertaruh nyawa dalam menjalankan tugas. Petugas harus mengorbankan waktunya bersama keluarga untuk menangani pasien.
“Saya habis Asar sudah di rumah pasien untuk melakukan negosiasi. Saya baru pulang ke rumah tengah malam. Mari kita bersama-sama untuk menangani wabah ini, supaya wabah bisa cepat selesai,” tegasnya. (Abdul Jalil/madiunpos.com/JIBI)