Tak Lagi Memprioritaskan Nilai Investasi

JAKARTA—Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan strategi menjaring investasi di tengah pandemi virus corona.

redaksi@koransolo.co

Dia mengatakan saat ini pihaknya sedang fokus menjaring investasi untuk melakukan hilirisasi sumber daya.
”Investasi di tengah Covid-19 apa saja yang kita lakukan? Kami sedang fokus melihat mana bagian yang cepat berkembang dan tidak kena Covid-19. Pertama adalah transformasi ekonomi tentang nilai tambah,” jelas Bahlil, dalam sebuah webinar bersama Sandiaga Uno, Kamis (14/5).
Menurutnya, hilirisasi saat ini sangat penting. Proyek hilirisasi ini dapat menyerap tenaga kerja yang besar sehingga mampu menggenjot pendapatan masyarakat. ”Kami menjalankan hilirisasi, ini penting sekali. Karena hilirisasi inilah yang bisa banyak ciptakan lapangan kerja,” ujar Bahlil.
Bahlil menjelaskan pihaknya kini tak mempedulikan besar atau kecil nominal sebuah investasi. Menurutnya yang paling penting adalah investasi itu dapat membantu program hilirisasi di Indonesia, sehingga bisa membantu menciptakan lapangan kerja.
Terlebih lagi seusai Covid-19, Indonesia butuh lebih banyak lapangan kerja. Gelombang PHK telah terjadi dan banyak tenaga kerja yang menganggur. ”Sekarang kami enggak fokus ke nominalnya, kami fokus ke sektor manufaktur hilirisasi, ini yang didorong agar lapangan kerja tercipta. Seusai Covid-19 banyak pekerja juga menganggur karena perusahaan melakukan PHK,” papar Bahlil.
Bahlil juga bercerita separuh lebih kegiatan ekonomi di Indonesia adalah dari konsumsi dalam negeri. Dia menyebut apabila mau meningkatkan konsumsi, maka masyarakat harus memiliki pendapatan dan pekerjaan.
”Sebanyak 58% ekonomi kita itu didorong konsumsi. Kalau bicara konsumsi itu harus ada daya beli, daya beli didapatkan kalau ada pendapatan. Sekarang untuk dapatkan pendapatan maka butuh lapangan kerja,” ungkap Bahlil.
Untuk mendorong penciptaan lapangan kerja dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat, Bahlil menegaskan investasi adalah hal yang diperlukan.
”Nah lapangan kerja ini muncul didorong dari investasi. Momentum ini saya percaya di balik kesusahan ada harapan, itu optimisme kita,” kata Bahlil.
Realisasi
BKPM mencatat realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di pulau Jawa sebesar 51,4% dan luar Jawa sebesar 48,6% dari total Rp 210,7 triliun pada 2019.
Plt. Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Farah Indriani menyampaikan dalam lima tahun terakhir (2016 hingga triwulan I-2020), investasi di Jawa Barat paling diminati oleh investor, disusul kemudian DKI Jakarta.
Rinciannya, realisasi investasi di Jawa Barat mencapai US$35,68 miliar, DKI Jakarta US$30,60 miliar, Jawa Timur US$20,16 miliar, Jawa Tengah US$16,38 miliar, Banten US$15,95 miliar, dan Daerah Istimewa Yogyakarta US$1,18 miliar.
”Jika dibandingkan data triwulan I tahun 2020 dengan periode yang sama di tahun 2019 lalu, total investasi di pulau Jawa memang turun 0,9%, walaupun memang pulau Jawa masih lebih mendominasi dibandingkan luar Jawa, akan tetapi gap-nya semakin kecil,” kata dia melalui keterangan tertulis, Jumat (15/5).
Selama lima tahun terakhir, rasio realisasi investasi PMA dan PMDN di pulau Jawa mencapai 55% dan luar Jawa sebesar 45% dari total investasi sebesar Rp3.047,2 triliun.
”Ini angka yang tidak sedikit. Memang pulau Jawa masih memiliki daya tarik tersendiri bagi investor, khususnya provinsi Jawa Barat. Walaupun demikian, BKPM tetap mendorong pemerataan investasi di seluruh Indonesia. Tidak hanya Jawa saja,” jelasnya.
Sektor yang mendominasi investasi PMA di pulau Jawa selama lima tahun terakhir yaitu perumahan, kawasan industri, dan perkantoran US$12,07 miliar, listrik, gas, dan air US$10,25 miliar, transportasi, gudang, dan telekomunikasi US$9,34 miliar, industri kimia dan farmasi US$5,28 miliar, dan industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain US$5,27 miliar.
Sedangkan untuk investasi PMDN didominasi oleh sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi US$14,17 miliar, konstruksi US$8,22 miliar, industri makanan US$5,51 miliar, perumahan, kawasan industri, dan perkantoran US$4,28 miliar, dan listrik, gas, dan air US$4,07 miliar.
Dia juga menjelaskan, pertumbuhan investasi di luar Jawa terus menunjukkan peningkatan. Total investasi PMA di pulau Jawa pada tahun 2016 hingga Triwulan I-2020 mencapai US$66,86 miliar, sedangkan investasi PMDN mencapai Rp739,70 triliun atau setara US$53,09 miliar. (Detik)