Hotel dan Desa Wisata Buat Program Alternatif

SLEMAN—Sektor hotel maupun desa wisata ramai-ramai membuat program alternatif di tengah pandemi Covid-19 ini. Pelaku bisnis dituntut untuk kreatif agar pendapatan tetap ada meskipun kunjungan tamu maupun wisatawan anjlok. Walaupun, ada juga sebagian hotel yang tidak melulu mengejar revenue di tengah pandemi Covid-19 ini.
Public Relations Manager Hyatt Regency Yogyakarta, Winda Sukma, mengatakan jika ia dan jawatannya di Hyatt dituntut untuk lebih kreatif di tengah pandemi Covid-19. Sejumlah program diinisiasi oleh Hyatt untuk mendukung masyarakat agar bisa tetap beraktivitas dengan nyaman di tengah momok pandemi.
”Iya, kondisi ini membuat kita untuk lebih kreatif. Saat ini kita ada program delivery buka puasa. Lalu Golf Course kami juga masih buka. Kami ngajakin orang untuk bisa olahraga keluar rumah namun tetap mempraktikkan physical distancing. Tamu juga bisa sekaligus berjemur. Nah, golf adalah olahraga yang memenuhi kriteria itu. Jadi, kami promosikan golf lebih sering lagi,” ujar Winda Sukma kepada Harian Jogja, Minggu (17/5).
Hyatt juga punya program untuk mewadahi pecinta hewan peliharaan anjing di tengah pandemi Covid-19. Program seperti Walk The Dog di Bogeys Teras bisa dinikmati dog lovers. Program Walk The Dog dibuat karena berangkat dari masyarakat yang khawatir terhadap aspek kesehatan mereka jika jalan-jalan dengan anjingnya di tengah pandemi Covid-19.
”Nah, mereka bisa jalan-jalan di Hyatt karena tempatnya lebih safe bukan yang dipinggir jalan. Mereka juga bisa therapy di situ karena tracking-nya Hyatt kan mengelilingi golf course. Mereka juga bisa melihat pepohonan dan mengurangi tingkat stres. Tamu bisa ajakin anjingnya untuk jalan-jalan di sepanjang jogging track Hyatt sekaligus bisa sambil nongkrong di Bogeys Teras,” imbuhnya.
Tidak dipungkiri pandemi Covid-19 cukup memukul sektor hotel. Bahkan, ada beberapa pengusaha yang rela menjual hotel mereka untuk menutupi kerugian. Namun, Hyatt justru tidak fokus mencari revenue yang tinggi di tengah pandemi Covid-19.
”Sebenarnya kalau dalam situasi seperti ini tujuannya Hyatt bukan cari revenue sebanyak-banyaknya untuk menutupi kurangnya pendapatan, kita justru membuat Hyatt lebih care ke karyawan, tamu, dan community. Jadi, meskipun situasi pandemi, harus tetap jaga kesehatan, bahagia, dan enggak boleh stres,” ungkap Winda.
Rasa Empati
Winda dan jawatannya sadar betul dengan dibuatnya promo semurah apapun itu tidak akan berdampak cukup signifikan terhadap kedatangan tamu. Upaya membuat promo gila-gilaan juga dinilainya kurang memberikan rasa empati kepada masyarakat di tengah adanya pandemi Covid-19 ini.
”Karena kami sadar dengan promo semurah apapun itu tidak akan berdampak dengan signifikan terhadap kunjungan tamu. Memang itu bukan langkah yang tepat untuk dilakukan saat ini. Dan rasanya kok tidak berempati dengan situasi yang ada. Jadi, kita lebih membuat promo-promo yang bersifat empati terhadap situasi seperti ini,” kata Winda.
Pada bulan Ramadan ini, Hyatt juga membuat program-program yang sifatnya peduli dengan masyarakat. Program pembagian takjil secara gratis dilakukan oleh Hyatt hampir setiap hari. Takjil ditujukan kepada masyarakat maupun pengendara yang melewati hotel yang terletak di Jl. Palagan Tentara Pelajar, Panggung Sari, Sariharjo, Ngaglik, Sleman.
”Kita juga banyak membuat program-program yang lebih care ke masyarakat. Salah satunya adalah bagi-bagi takjil kepada masyarakat yang dilakukan hampir setiap hari. Untuk pengemudi di jalan dan masyarakat di sekitar Hyatt. Upaya tersebut disambut baik. Terbukti setiap kita buka stand pukul 16.00 selalu banyak masyarakat yang datang. Jadi, dalam kondisi seperti ini selalu care terhadap sesama,” tutup Winda.
Situasi sulit di tengah pandemi Covid-19 juga memaksa desa wisata Tembi yang berada di Jl. Tembi Km 8,6, Mriyan, Timbulharjo, Sewon, Bantul untuk banting setir. Kunjungan wisatawan ke Tembi nihil selama pandemi Covid-19. Pengelola akhirnya dipaksa untuk memutar otak agar pendapatan tetap ada.
Ketua Desa Wisata Tembi, Dawud Subrata, mengatakan jika kunjungan wisatawan ke Tembi anjlok selama pandemi Covid-19 ini. Ia dan jawatannya tak putus asa. Program alternatif diinisiasi agar pendapatan ke desa wisata Tembi tetap ada.
”Semua kegiatan pariwisata lumpuh total. Maka dari itu, kami inisiasi program-program alternatif seperti catering dan warung-warung kecil,” tutupnya. (JIBI/Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo)