Tim Medis Berjibaku, Masyarakat Tak Mau Tahu

Mariyana Ricky P.D.

Kisah perjuangan dokter, perawat, petugas kesehatan lain, dan petugas kebersihan rumah sakit dalam menangani pasien Covid-19 seolah tak ada habisnya. Sejumlah protokol kesehatan berjenjang diterapkan agar mereka tidak terpapar virus bernama resmi SARS CoV-2 itu.
Salah seorang perawat di RSUD Bung Karno (RSBK) Solo, Ari Setyaningsih menceritakan pengalamannya. Dalam sehari, ia harus berada dalam ruang isolasi mengenakan alat pelindung diri (APD) berlapis hingga 3,5 jam.
Selama itu pula, mereka harus menahan haus, lapar, bahkan rasa ingin ke kamar kecil. Perempuan 35 tahun itupun harus mencatat apa saja yang harus dilakukan di ruang isolasi. “Kami harus membawa semua alat yang dibutuhkan saat masuk ruang isolasi, karena kalau sudah masuk, enggak boleh keluar lagi sampai selesai tugas,” kata dia, saat dihubungi Koran Solo, Minggu (17/5).
Bersambung ke Hal. 7 Kol. 1
Ari mengatakan para perawat biasanya siaga di Ruang Nursery. Ruangan itu ada di dalam ruang isolasi maupun di luar ruang isolasi. Saat pergantian sif, mereka bertukar tempat di ruang tersebut. Komunikasi dilakukan menggunakan handie talkie (HT).
“Kami masuk dengan mem­bawa makanan dan obat pasien, kemudian mengganti linen pasien, handuk, baju pasien, dan masker. Kami juga bertanya dan mengobservasi tanda-tanda vital, memastikan di dalam ruang isolasi tidak ada yang kurang, entah sabun atau shampo pasien,” jelasnya.
Seluruh aktivitas itu dilakukan dengan mengenakan APD lengkap. Kacamata goggle berembun dan baju dalam yang basah karena keringat menjadi santapan sehari-hari. Tak jarang hal itu membuat mereka lemas hingga pingsan.
Dokter di RSBK, Nurrasyidah, menyebut salah seorang rekannya hampir pingsan saat masih berbalut APD lengkap. “APD yang rapat membikin nafas berat, bahkan pusing. Rekan kami hampir pingsan, saking lemasnya kurang oksigen,” tutur dia.
Nurra, sapaan akrabnya, kemudian bercerita soal keharusannya mandi dua kali saat harus menangani pasien Covid-19 lantas kembali ke ruang instalasi gawat darurat (IGD). IGD menjadi salah satu titik screening awal pasien yang datang ke RSBK. Para dokter berjaga di sana jika tidak ada tindakan medis di bangsal pasien Covid-19.
“Kenapa harus mandi dua kali, karena sesudah dari ruang isolasi, kami lepas APD dan harus berganti baju kerja, siaga di IGD. Kalau ada keluhan lagi dari ruang isolasi, ya, kami kembali pakai APD. Lalu mandi lagi dan kembali siaga di IGD,” kata dia.
Petugas laboratorium RSBK, Nia Ery Christianingtyas, mengatakan tugas pengambilan swab spesimen pasien harus dilakukan hati-hati. Ia wajib meyakinkan pa­sien untuk bersemangat dan tidak putus asa. Apalagi, pro­ses pengambilan lendir di tenggorokan dan hidung itu cukup menyakitkan.
“Saat diambil itu mereka sampai mengeluarkan air mata. Jadi, ya, sakit. Pengambilannya tidak nyaman, kami sampaikan kalimat-kalimat yang bikin mereka semangat. Edukasi, ya, agar mereka nyaman jadi imunitasnya meningkat,” ucapnya.
Profesi lain yang tak kalah rentan terpapar virus corona, namun terkadang luput dari pemberitaan adalah cleaning service atau petugas kebersihan. Padahal, keberadaannya vital dalam penanganan pasien Covid-19.