warga dua rt dikarantina mandiri Kakek Tulari Dua Cucu

SOLO—Seorang kakek asal Joyotakan, Serengan, Solo yang kini diisolasi karena Covid-19, terbukti menularkan virus tersebut kepada dua cucunya. Akibatnya, warga satu kampung dikarantina mandiri.

Mariyana Ricky P.D.
redaksi@koransolo.co

Dua bocah yang dalam penanganan ketat dokter itu berumur di bawah lima tahun. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Solo mendapatkan hasil uji swab secara polymerase chain reaction (PCR) kedua bocah, Minggu (17/5) siang. Keduanya positif terinfeksi Covid-19.
“Swabnya baru keluar dua karena mengantre dari tujuh spesimen reaktif yang sudah diserahkan ke laboratorium RS UNS Solo. Pasien ke-28 dan ke-29 ini masing-masing berumur satu tahun dan dua tahun. Didahulukan ujinya karena anak-anak. Mereka dirawat di RSUD Bung Karno bersama orang tuanya,” kata Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, saat dihubungi Koran Solo, Minggu.
Ahyani mengatakan anak-anak tersebut adalah cucu pasien positif ke-25 Solo. Sehingga, ada kemungkinan orang terdekatnya juga positif. Terlebih, keduanya sempat dititipkan ke tetangga sekitar sebelum berstatus pasien dalam pengawasan (PDP). “Rantainya panjang, anak-anak dititipkan ke sana, ke sini. Tetangga sekitar akan diambil spesimennya untuk memastikan status mereka,” ucap Ahyani.
Bersambung ke Hal. 7 Kol. 4
Menurut Ahyani, hasil tracing menemukan fakta keluarga pasien positif itu kerap bepergian ke Sukoharjo. Sehingga, cakupan pene­lusuran riwayat kontak bakal diperluas guna mengetahui apakah virus itu sudah menyebar ke warga lain. Solusi terbaik saat ini adalah mengarantina wilayah seperti yang sudah dilakukan sejak Sabtu (16/5).
Pemkot bakal mengupayakan karantina wilayah pasien positif Covid-19 agar transmisi lokal tidak semakin menyebar. Karantina itu dilakukan di dua RT di Kelurahan Joyotakan, yang menjadi tempat tinggal kedua bocah tersebut.
Ahyani mengatakan dari hasil tracing sementara diduga mereka hasil korban transmisi lokal. Sebuah kasus dikatakan transmisi lokal apabila penularannya dari kasus positif generasi kedua kepada generasi ketiga. Sedangkan, saat ada seseorang yang menjadi carrier atau pembawa setelah datang dari luar daerah dan menularkan pada orang di dekatnya di daerah tujuan, itu berarti generasi pertama menularkan ke generasi kedua.
“Akan kami upayakan begitu, lebih efektif karantina wilayah. Karena kalau karantina kota tidak mungkin berdiri sendiri, harus dengan daerah sekitar. Sedangkan lockdown, kami enggak mampu biayanya. Sebenarnya, ya, nyaman saja tapi kan masyarakat kadang enggak bisa,” kata dia.
Sementara berdasarkan data kumulatif hingga Minggu, jumlah pasien terkonfirmasi Covid-19 bertambah menjadi 29 orang setelah lebih dari sepekan stabil. Jumlah pasien yang masih dirawat delapan orang, sembuh 17 orang, dan sisanya meninggal dunia.
Sedangkan jumlah pasien dalam pengawasan (PDP), naik jadi 167 orang, di mana 22 di antaranya masih menjalani rawat inap, 26 meninggal dunia, dan sisanya sembuh. Total orang dalam pemantauan 560, dengan perincian satu orang rawat inap, 37 rawat jalan, 38 dalam pemantaua, dan sisanya rampung dipantau.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih, mengatakan sasaran rapid test kontak erat dan kontak dekat pasien ke-25 bertambah. Jika sebelumnya tujuh di antaranya reaktif, kini bertambah setelah tiga kontak lain juga dinyatakan reaktif.
“Kemarin yang hasil rapid test-nya reaktif dari tujuh tambah satu, total delapan. Kemudian tambah dua lagi, jadi total yang reaktif 10. Nah, dari 10 reaktif itu, dua sudah keluar hasil swab PCR-nya yakni positif Covid-19. Lainnya, kemungkinan Senin (18/5),” jelas Siti.
Kabar pilu datang dari Madiun. Seorang bayi berusia 3 bulan yang berstatus PDP corona meninggal dunia, Sabtu (17/5). Bayi perempuan asal Kelurahan Nambangan Lor, Manguharjo, Kota Madiun itu meninggal di RSUD dr. Soedono Madiun.
Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Kota Madiun, Noor Aflah, mengatakan pasien dinyatakan PDP setelah rapid test-nya reaktif. ”Bayi perempuan ini belum sempat dites swab,” kata Aflah, Minggu malam.
Sedangkan untuk ibu bayi sebelumnya statusnya belum PDP. Untuk status selanjutnya belum ada konfirmasi dari tim medis. Berdasarkan keterangan keluarga, bayi ini lahir di Bandung dan saat usia satu bulan dibawa ke Madiun. Bayi ini awalnya alergi susu dan dibawa ke RSUD Sogaten.
”Awalnya dirawat di RSUD Sogaten kemarin. Status PDP-nya baru kemarin. Terus meninggal dunia malamnya,” jelas dia.
Sementara itu, seorang laki-laki dari klaster Temboro, Magetan, Jawa Timur yang tinggal di Sragen dipastikan positif Covid. “Dia seorang santri di Temboro [berusia 22 tahun],” jelas Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen, Tatag Prabawanto.
Dengan tambahan satu kasus baru itu, jumlah pasien positif corona dari Sragen mencapai 31 orang. Pada Jumat (15/5) lalu, warga Plupuh menjadi pasien pertama positif Covid-19 dari klaster Temboro.
Dengan begitu, hingga kini terdapat dua warga Sragen positif corona dari klaster Temboro. Pasien dari klaster Temboro asal Plupuh itu merupakan laki-laki dari Desa Jabung. Dia dinyatakan terkonfirmasi positif terpapar virus corona berdasarkan hasil uji swab yang keluar pada Kamis (14/5) malam.
Nekatnya warga beraktivitas normal dan menciptakan keru­munan memang membikin pri­hatin. Padahal di saat yang sama, tim medis berjuang hidup mati menangani pasien yang terjangkit virus.
Dokter spesialis paru RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri, Enny S. Sardjono, mengaku dia sampai menangis saat mengetahui masyarakat tak patuh imbauan agar menghindari kerumunan.
Di saat dirinya dan tenaga medis lainnya berjuang melawan Covid-19, banyak orang yang justru berbelanja di mal, jalan-jalan, dan aktivitas di luar rumah lainnya tanpa urgensi yang mendesak. Mereka seperti tak berpikir Covid-19 mengintai dan seakan mengabaikan perjuangan para nakes melawan Covid-19.
Melihat orang beraktivitas di luar rumah untuk sekadar bersenang-senang membuat darah Enny mendidih. Dia berpikir untuk bertukar peran dengan mereka. Bahkan, dia kadang merasa ingin menyampaikan, jika terinfeksi Covid-19 silakan diobati sendiri, gantian saya yang refresing, karena saking mangkelnya.
“Kalau keluar rumah karena terpaksa harus bekerja atau berdagang untuk memenuhi tuntutan menghidupi keluarga, enggak masalah, karena sekarang kondisi serba susah. Tapi kalau keluar rumah hanya untuk jalan-jalan ke mal atau sekadar mencari hiburan, bikin kami [nakes] ndongkol [mendongkol]. Bisa-bisanya mereka melakukan itu. Apa mau merasakan diisolasi, enggak boleh bertemu keluarga, teman, hanya di ruang tertutup dengan fasilitas seadanya dalam waktu cukup lama? Sedih saya. Kalau begitu terus, terserah lah,” ulas Enny. (Moh. Khodiq Duhri/Abdul Jalil/Rudi Hartono)