CURHAT PERAWAT DI RUANG ISOLASI Tak Boleh Cemas, Bahagia saat Pasien Sembuh

Moh. Khodiq Duhri

Pandemi memaksa sejumlah tenaga medis, terutama perawat berinteraksi langsung dengan pasien corona di ruang isolasi. Dengan dasar kemanusiaan, mereka berada di garis depan untuk memerangi Covid-19. Perasaan takut dan hasrat untuk menolong orang bercampur menjadi satu.
Bersambung ke Hal. 7 Kol. 4
“Pengalaman merawat pasien Covid-19 itu rasanya nano-nano. Awalnya takut juga, cemas kalau tertular. Tapi, kami selalu berusaha mematuhi SOP yang ada. Senantiasa berdoa, menjaga kesehatan dan selalu berusaha tetap bahagia,” ujar Enik Pujiastuti, salah satu perawat di Ruang Isolasi Pasien Covid-19 di RSUD dr. Soeratno Gemolong kepada Koran Solo, Selasa (19/5).
Menangani pasien Covid-19 mengharuskan Enik selalu memakai pakaian alat pelindung diri (APD). Pada awalnya, Enik bisa memakai APD itu selama 6-7 jam. Namun, setelah ada penambahan anggota tim, Enik cukup memakai APD selama 3-4 jam. Dengan tambahan anggota tim itu, perawat bisa masuk ke ruang isolasi secara bergantian.
Perasaan gugup dan cemas menghinggapi Enik saat kali pertama diminta mengenakan APD. Pakaian yang terbuat dari bahan parasut itu terasa panas saat dikenakan. Enik selalu berkeringat saat memakai APD itu.
“Rasa cemas campur aduk jadi satu sehingga tanpa sadar keringat saya bercucuran sampai netes di lantai. Pandangan mata tidak jelas karena kacamata pelindung berembun. Mulut saya tidak bisa mingkem karena rasanya pengap memakai masker dobel,” papar Enik.
Ironisnya, kerja keras dalam merawat pasien Covid-19 justru tidak selalu mendapat respons positif dari masyarakat. Di tempat tinggalnya, Enik sempat diisukan positif terpapar virus corona yang ditularkan dari pasien yang dirawatnya di rumah sakit.
Ia sempat menjadi bahan pergunjingan di media sosial. Bahkan, anak Enik ikut terkena dampak dari tuduhan yang tidak berdasar itu. Enik terpaksa harus melibatkan kepala desa (kades) untuk memberikan klarifikasi kepada warga bahwa isu tersebut tidak benar.
“[Masalah itu] sudah clear dengan ditunjang hasil rapid test saya, dua kali dengan hasil nonreaktif. Saya sendiri maklum. Itu bagian dari risiko pekerjaan. Pasti ada saja berita-berita seperti itu. Yang bikin saya gak terima kalau sampai merembet ke anak-anak,” ucap Enik.
Selama bertugas, Enik selalu berusaha tetap bahagia dalam situasi apapun. Ia percaya perasaan bahagia akan mengalirkan energi positif yang bisa membantu daya tahan tubuhnya tetap terjaga.
Namun, kebahagiaan yang hakiki itu baru muncul setelah ia memastikan bila pasien yang dirawatnya telah sembuh dari paparan virus corona. Saat itu, Enik merasa perjuangan ia selama ini sudah terbayar lunas dengan sembuhnya pasien. “Kami merasa bahagia sekali ketika pasien yang kami rawat akhirnya sembuh. Alhamdulillah,” paparnya.
Sebelumnya, ratusan perawat di Bumi Sukowati ikut ambil bagian dalam tim tenaga kesehatan dalam menangani pasien positif corona di sejumlah rumah sakit.
Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Sragen, Ramin, mengatakan jumlah perawat yang bertugas di semua rumah sakit dan puskesmas di Bumi Sukowati tercatat sekitar 1.750 orang. Ratusan perawat di antaranya tergabung dalam tim tenaga kesehatan yang menangani pasien Covid-19 di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen, RSUD dr. Soeratno Gemolong, RS darurat di kompleks Techno Park dan ruang isolasi di Gedung Sasana Manggala Sukowati (SMS).
Dalam menangani pasien Covid-19, mereka sudah dilengkapi APD yang standar. “Meski sudah pakai APD, banyak perawat yang tetap waswas. Selalu deg-degan saat merawat pasien corona. Tapi itu hal biasa. Yang terpenting, perawat jangan sampai dilanda cemas. Kalau cemas nanti akan menurunkan daya tahan tubuh. Itu sebabnya, sesama perawat harus bisa saling menguatkan dan memotivasi supaya tidak cemas,” jelas Ramin.