Identitas Kerangka Manusia Terungkap

WONOGIRI—Aparat Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Wonogiri akhirnya dapat mengungkap identitas mayat tinggal kerangka yang ditemukan di dasar jurang Lingkungan Giriharjo, Kelurahan Giriharjo, Kecamatan Puhpelem, Kabupaten Wonogiri, Sabtu (16/5) lalu.
Diduga kuat mayat itu seorang perempuan berusia 25-26 tahun warga salah satu kecamatan di Wonogiri yang sudah bersuami dan memiliki satu anak. Namun, polisi belum dapat mengumumkan identitas perempuan tersebut untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.
Kepala Satreskrim (Kasatreskrim) Polres Wonogiri, Iptu Ghala Rimba Doa Rissang, saat ditemui Koran Solo di kantornya, Selasa (19/5), menginformasikan identitas mayat sudah hampir dipastikan terungkap. Penyelidik hanya tinggal menunggu hasil tes deoxyribo nucleic acid (DNA) mayat dan orang yang mengklaim dirinya sebagai orang tua. Kepastian DNA diperlukan sebagai bukti autentik pengungkapan identitas mayat tersebut. Identitas terungkap setelah ada warga yang meyakini sebagai keluarga dekat. Mereka merupakan warga Wonogiri di luar Puhpelem.
Lelaki yang mengaku sebagai suami mengatakan istrinya pamit pergi dari rumah sekitar tiga bulan lalu. Keduanya memiliki masalah keluarga. Sang istri mengaku sudah merasa tak nyaman dengan suami. Menurut si suami pakaian yang ditemukan bersama kerangka adalah pakaian yang dikenakan istrinya saat pergi dari rumah. Lelaki tersebut meyakininya karena hafal pakaian dan barang lainnya milik istrinya. Seperti diketahui, kerangka ditemukan bersama sweater merah berkudung, celana panjang jins, sepasang sarung tangan ungu, sisir merah muda, anting, dan cincin.
“Suami dan korban memiliki satu anak. Kedua orang tua korban masih ada. Orang tua yang akan kami ambil sampelnya untuk tes DNA adalah ibunya,” kata Ghala mewakili Kapolres AKBP Christian Tobing.
Dia menilai terungkapnya identitas mayat sebagai kemajuan besar. Bahkan, Ghala menyebut sama halnya polisi sudah dapat mengungkap setengah dari kasus tersebut. Bermodal dari identitas itu polisi dapat mengembangkan penyelidikan untuk mengungkap penyebab kematian, orang-orang terakhir yang bersama korban atau korban pergi bersama siapa, dan sebagainya.
Saat ditanya apakah korban meninggal dunia akibat dibunuh, Ghala menyatakan belum dapat menyimpulkan. Namun, berdasar hasil autopsi terhadap kerangka, tidak ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada kerusakan tulang akibat dipukul menggunakan benda keras, seperti retak atau patah. Kendati demikian, hal tersebut tidak bisa dijadikan dasar analisis bahwa korban meninggal dunia bukan akibat dibunuh. Sebab, bisa saja orang meninggal dunia bukan akibat dipukul menggunakan benda keras, tetapi dicekik atau diracun.
Mayat itu ditemukan di dasar jurang sedalam lebih kurang 20 meter dari bibir jurang. Jarak bibir jurang dengan lokasi yang diakses warga, yakni permakaman lebih kurang 100 meter. Jarak lokasi temuan dengan jalan yang biasa dilewati kendaraan lebih kurang 200 meter. Kendaraan bermotor bisa masuk ke arah lokasi temuan, tetapi hanya sampai permakaman. (Rudi Hartono)