Pemerintah Minta Salat Id di Rumah Saja

JAKARTA—Pemerintah mengingatkan kegiatan keaga­maan yang menimbulkan keru­munan, termasuk salat idul fitri, dilarang selama masa pandemi virus corona (Covid-19).
Pemerintah meminta dan mengajak para tokoh agama hingga tokoh masyarakat adat untuk meyakinkan masyarakat agar menunaikan Salat Idul Fitri di rumah. ”Pemerintah meminta dengan sangat agar ketentuan tersebut tidak dilanggar. Pemerintah meminta dan mengajak tokoh-tokoh agama, ormas-ormas keagamaan dan tokoh-tokoh masyarakat adat untuk meyakinkan masyarakat bahwa kerumunan salat berjemaah itu termasuk bagian yang dilarang oleh peraturan perundang-undangan,” kata Menko Polhukam Mahfud Md. dalam konferensi video seusai rapat terbatas, Selasa (19/5).
Mahfud menegaskan peme­rintah tidak melarang masyarakat untuk salat.
Bersambung ke Hal. 7 Kol. 4
Pelarangan salat berjemaah di luar rumah, sebut dia, semata untuk mencegah munculnya kerumunan. ”Karena bukan karena salatnya itu sendiri, tetapi karena itu merupakan bagian dari upaya menghindari bencana Covid,” terang Mahfud.
Selain itu, Mahfud juga menegaskan kebijakan larangan mudik Lebaran belum dicabut sampai waktu yang belum ditentukan. Eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu meminta penegakan aturan ini dikawal secara ketat oleh TNI-Polri dan pemerintah daerah.”Larangan mudik tetap berlaku sampai saat ini dan tidak akan dicabut sampai waktu yang akan ditentukan kemudian,” tuturnya.
Sementara itu, kepala daerah di Soloraya berbeda sikap terkait larangan Salat Id berjamaah di luar rumah. Pemerintah Kota (Pemkot) Solo memastikan tidak mengizinkan penggunaan tempat umum atau jalan raya untuk lokasi Salat Idul Fitri.
Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Solo, Samsuddin, Senin (18/5), mengatakan sejauh ini belum menerima laporan terkait wacana penyelenggaraan Salat Idulfitri dari masjid-masjid Kota Solo.
Menurutnya, hingga saat ini masjid-masjid besar di Kota Solo juga sudah tidak melaksanakan kegiatan Ramadan berskala besar seperti salat tarawih. Menurutnya, masjid seperti Masjid Agung Kota Solo tidak menyelenggarakan salat jumat dan tarawih berjamaah. Namun, salat rawatib untuk memfasilitasi warga sekitar, tetap dilaksanakan melalui prosedur kesehatan ketat.
Ia menambahkan hal serupa juga terjadi di Masjid Kottabarat dan Masjid Nurul Iman Kalitan.
”Masjid-masjid itu tidak menyelenggarakan Salat Idulfitri, biasanya masjid-masjid itu rutin. Secara tertulis belum ada laporan kepada kami,” papar dia.
Ia mengimbau kepada masyarakat untuk menjalankan salat Idulfitri di rumah bersama keluarga terdekat. ”Orang dengan kondisi fisik lemah kan bisa juga terkena. Kalau berdesakan kan berbahaya, salat di rumah juga sudah ada panduannya. Memang harus maklum, salat Idulfitri tahun ini berbeda dengan sebelumnya, namun secara kewajiban insyaallah sudah terpenuhi,” papar dia.
Pemkab Sragen dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sragen mengimbau warga di Bumi Sukowati melaksanakan Salat Id di rumah masing-masing demi mencegah potensi penularan Covid-19.
Namun, jika situasi dianggap aman, warga dibolehkan menggelar Salat Id di masjid, musala atau di tanah lapang setelah berko­ordinasi dengan pemerintah desa (pemdes) setempat. “[Yang mau melaksanakan Salad Id di lapangan] Silakan berkoordinasi dengan pemerintah desa. Hanya masyarakat itu sendiri [yang boleh ikut Salat Id]. Tidak ada pendatang, tidak ada PDP [pasien dalam pengawasan], ODP [orang dalam pemantauan] maupun PP [pelaku perjalanan],” terang Sekretaris MUI Sragen, Nurwafi Hamdan, kepada Koran Solo, Selasa.
Pemkab Karanganyar mengizinkan warga Karanganyar menyeleng­garakan Salat Id di tanah lapang, masjid, dan musala dengan catatan menerapkan protokol pencegahan persebaran Covid-19. Bupati Karanganyar, Juliyatmono, menyampaikan imbauan melalui video berdurasi satu menit 54 detik.
Pada video itu Bupati meng­ingatkan agar masyarakat Karang­anyar mematuhi imbauan MUI perihal salat di rumah secara sendiri maupun berjamaah. Tetapi, Pemkab Karanganyar tidak akan melarang masyarakat yang ingin menyelenggarakan Salat Id di tanah lapang, masjid, dan musala.
”Jika menghendaki Salat Id di tanah lapang, masjid, dan musala, kami mengizinkan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Cuci tangan pakai sabun dan pada air mengalir, pakai masker, bawa sajadah sendiri, jaga jarak saf, persingkat khotbah,” kata Bupati seperti disampaikan dalam video.
Menurut dia persebaran Covid-19 di Kabupaten Karanganyar sudah dapat diken­dalikan. ”Bo­leh Salat Id tetapi perhatikan pro­tokol kesehatan. Salat Idul Fitri ini kan setahun sekali. Tetapi hindari halalbihalal.” (Bony Eko Wicaksono/Moh. Khodiq Duhri/Sri Sumi Handayani/Detik)