Sebulan Bebas, Napi Asimilasi Diringkus Lagi

SRAGEN—Raefan Prasetyo, 35, seorang narapidana asal Sidoharjo yang dibebaskan melalui program asimilasi dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sidoarjo, Jawa Timur, pada April lalu kembali terlibat aksi kejahatan.
Bersama dua rekannya, Sukadi, 48, asal Surabaya dan Fani Yanuar, 20, asal Jombang, Raefan ditangkap sesaat setelah membawa kabur barang-barang berharga yang didapat dari rumah kosong milik Tyas Adi Nugroho, 34, di Jl. Merpati Gang 4, Perumahan Banjarasri, RT 02/RW 10, Nglorog, Sragen, pada Sabtu (16/5) malam.
Kawanan pencuri spesialis rumah kosong asal Jawa Timur itu beraksi dengan menggunakan mobil Daihatsu Xenia. Menariknya, mereka ditangkap secara tidak sengaja saat polisi menggelar penyekatan kendaraan untuk menghalau pemudik pulang kampung di Rest Area Masaran pada Sabtu malam.
Polisi menaruh curiga karena di dalam mobil itu terdapat sejumlah barang berharga seperti dua buah televisi, laptop, uang tunai Rp5 juta, ponsel, dua plat nomor palsu dan lain-lain. Setelah berkoordinasi dengan Satreskrim Polres Sragen, ketiganya akhirnya diringkus polisi. “Mereka adalah spesialis pencuri rumah kosong. Mereka sudah beberapa kali beraksi di Jawa Timur. Di Sragen hanya sekali ini karena langsung tertangkap,” ujar Kapolres Sragen, AKBP Raphael Sandy Cahya Priambodo, dalam gelar kasus di Mapolres Sragen, Selasa (19/5).
Ini adalah kali ketiga Raefan ditangkap polisi karena kasus yang sama. Meski baru sebulan menghirup udara bebas melalui program asimilasi, Raefan harus mendekam kembali di teralis besi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. “Saya bebas pada April melalui asimilasi. Sebelumnya pernah mencuri di rumah kosong di Madiun dan Sidoarjo,” jelas Raefan pada kesempatan itu.
Bagi Sukadi, ini adalah kali kedua dia berurusan dengan polisi karena kasus yang sama. Sementara bagi Fani Yanuar, ini adalah kali pertama dia ditangkap polisi. Berdasar hasil tes urine, Fani dinyatakan positif mengonsumsi narkoba. Di dalam mobil itu juga ditemukan alat timbang yang biasa dipakai untuk mengukur berat sabu-sabu. Adapun total kerugian yang dialami korban diperkirakan mencapai sekitar Rp15 juta. Polisi menjerat ketiganya dengan Pasal 363 Ayat (2) dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun. (Moh. Khodiq Duhri)