7 Warga Jadi Tersangka Pengeroyok Kades

WONOGIRI—Tujuh warga Dusun Manggis, Desa Temboro, Kecamatan Karangtengah, Wonogiri ditetapkan sebagai tersangka kasus pengeroyokan terhadap Kepala Desa (Kades) Karangtengah, Bambang Daryono, belum lama ini.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Wonogiri, Iptu Ghala Rimba Doa Sirrang, saat ditemui Koran Solo di kantornya, Selasa (21/5), menyampaikan penyidik menetapkan mereka sebagai tersangka berdasar alat bukti yang cukup, seperti keterangan saksi, hasil visum atas luka-luka yang dialami Bambang, dan sejumlah barang bukti yang digunakan saat pengeroyokan terjadi. Polisi juga memiliki bukti pendukung, seperti foto dan video yang merekam terjadinya peristiwa. Selain itu para tersangka pun mengaku menganiaya Bambang secara bersama-sama.
Namun, Ghala tak dapat mengungkap identitas mereka karena tak hapal. Setelah ditanya lebih lanjut dia membeberkan sedikit informasi bahwa salah satu tersangka adalah suami Anisa, perempuan yang sudah menjadi tersangka kasus dugaan perzinaan bersama Bambang. Sang suami adalah pelapor dalam kasus dugaan perzinaan itu. “Berkas perkara tak lama lagi kami limpahkan ke kejaksaan [pelimpahan tahap satu],” kata Ghala mewakili Kapolres, AKBP Christian Tobing.
Informasi yang dihimpun Koran Solo, suami Anisa berinisial SW. Enam tersangka lainnya meliputi Tm, AP, Sn, Slo, Tn, dan Yn. Mereka warga sekitar rumah Anisa di Dusun Manggis. Seperti diketahui, sejumlah warga mengeroyok Bambang setelah mendapatinya berada di rumah Anisa, 26 Maret tengah malam lalu. Orang yang memergoki adalah suami Anisa, SW. SW melaporkan Bambang atas dugaan perzinaan. Bambang dan Anisa ditetapkan sebagai tersangka. Mereka tak ditahan.
Bambang pun melapor polisi atas kasus pengeroyokan. Dia mengalami luka lebam di wajah, kepala, dan memar di sebagian besar tubuhnya. Bupati Wonogiri sudah memberhentikan sementara Bambang dari jabatannya sebagai kades. Bambang dinilai tak melanggar larangan dan tak bisa menjalankan kewajiban dengan baik.
Ghala melanjutkan para tersangka tidak ditahan, tetapi wajib lapor. Dia memahami ancaman kasus pengeroyokan lebih dari lima tahun. Berdasar regulasi para tersangka bisa ditahan jika dikhawatirkan melarikan diri, menghilangkan barang bukti, dan mengulangi perbuatan. Namun, menurut Ghala selama ini ketujuh tersangka kooperatif, sehingga penyidik tidak mengkhawatirkan hal tersebut. Selain itu langkah tersebut untuk menjaga kondusivitas keamanan wilayah. Jika mereka ditahan dikhawatirkan bakal memicu gejolak di masyarakat.
“Kami pastikan kasus dugaan perzinaan dan pengeroyokan ini sampai ke meja hijau [pengadilan]. Berkas perkara dugaan perzinaan sudah kami limpahkan ke kejaksaan [pelimpahan tahap I]. Kedua perkara kami tangani secara profesional,” ucap Ghala.
Hingga berita ini ditulis Koran Solo belum mendapat konfirmasi dari para tersangka. Ghala menginformasikan para tersangka menunjuk satu pengacara asal Solo. Namun, dia tak hapal namanya dan tak memiliki kontak pengacara tersebut. Karena itu Koran Solo juga belum bisa menghubunginya. (Rudi Hartono)