JERITAN DOKTER COVID Serumah Tetapi Tak Berdekatan

Rudi Hartono

Enny berat melangkahkan kaki keluar rumah. Namun, pagi itu dia harus segera pergi menuju RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. Sebelum pukul 09.00 WIB pemilik nama lengkap Enny S Sardjono itu harus sudah sampai di tempat kerjanya.
Dokter spesialis paru di RSUD Wonogiri itu mesti berangkat lebih awal karena perjalanan dari rumahnya di Solo ke Wonogiri cukup jauh, agar tak terlambat menangani pasien dalam pengawasan (PDP) maupun positif virus corona (Covid-19).
Setiap pagi menjadi hari yang berat bagi ibu tiga anak tersebut. Dia harus mengakhiri kebersamaan dengan keluarga dan mengikhlaskan diri berada di wilayah terpapar Covid-19, ruang isolasi. Langkahnya semakin berat setelah keluar dari halaman rumah dan bertemu kedua orang tuanya yang setiap hari menunggunya di depan rumah agar bisa melihatnya sebelum dia benar-benar hilang ditelan jarak.
Bersambung ke Hal. 7 Kol. 4
Rumah Enny dan orang tuanya berdekatan. Ya, kedua orang tuanya hanya bisa melihat dan sekadar melambaikan tangan seraya merapalkan doa keselamatan untuk Enny. Karena bersalaman, terlebih berpelukan tak mungkin lagi dilakukan.
Momen itu tak pernah dilakukan sejak Enny bertugas menangani pasien Covid-19, Maret lalu. Hal tersebut untuk mengantisipasi jika dirinya menjadi carrier atau pembawa virus. Apabila hal itu terjadi Enny khawatir akan menularkannya kepada kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia (lansia). Momen itu selalu membuat Enny melelehkan air mata.
“Di awal-awal saya selalu menangis saat berangkat ke RSUD. Penginnya salim sama orang tua, tapi enggak bisa. Waktu pulang ke rumah pun hanya bisa melihat mereka. Sebentar lagi Lebaran. Kemungkinan saya tak bisa sungkem. Sedih rasanya,” ucap Enny belum lama ini.
Hal itu hanya sebagian kecil momen mengharukan Enny sebagai salah satu dokter yang menangani pasien Covid-19. Saat bersama keluarga pun dia harus jaga jarak. Bahkan, dia harus menggunakan alat-alat makan dan minum tersendiri agar alat itu tak digunakan anak dan suaminya. Dia setiap hari di rumah, tetapi kebersamaan dengan keluarga sudah tak seintim sebelumnya.
“Semua untuk njagani kalau-kalau saya sebagai carrier. Meski hasil rapid test saya nonreaktif, tapi semua perlu diantisipasi. Mandi pun saya sehari bisa empat kali. Setiap mau berangkat kerja, mau keluar dari ruang isolasi pasien, setelah keluar dari rumah sakit saya mandi di tempat praktik di Wonogiri, dan saat sampai rumah,” imbuh Enny.
Dia bersyukur grafik kasus Covid-19 di Wonogiri menurun. Seiring berjalannya waktu satu per satu pasien positif Covid-19 sembuh. Pada sisi lain belum ada tambahan kasus positif. PDP pun semakin berkurang.
Kendati demikian, saat ini dia gusar. Gelombang mudik masih saja terus terjadi, terlebih pemerintah sudah mengizinkan transportasi beroperasi lagi. Tidak ada jaminan para perantau yang mudik terbebas dari Covid-19. Apalagi, sebelumnya mereka bermukim di wilayah terpapar Covid-19, seperti Jakarta dan sekitarnya.
Bercermin pada kasus positif Covid-19 di Wonogiri, mayoritas pasien memiliki riwayat perjalanan dari wilayah terpapar Covid-19. Bahkan, ada pasien yang merupakan pemudik dari Jakarta. Kegelisahannya pun kian memuncak belakangan ini.
“Alih-alih memperketat pene­rapan protokol pencegahan penularan Covid-19, akhir-akhir ini malah warga sudah banyak yang keluar rumah memadati pusat perbelanjaan, pasar, mencari hiburan, dan alasan lainnya. Mereka seperti tak peduli saat ini ada wabah Covid-19. Sedih saya,” ulas Enny.