KAMIS CATAT NYARIS 1.000 KASUS Covid 20 Kali Lebih Dahsyat

JAKARTA—Pemerintah mengakui daya tular  Covid 20 kali lebih kuat daripada virus SARS berjenis SARS-CoV-1. Kamis (21/5) mencatatkan rekor tertinggi jumlah terinfeksi
yakni 973 kasus.

redaksi@koransolo.co

Untuk itu, masyarakat diminta lebih waspada dan hidup disiplin menerapkan protokol kesehatan.

”Kita ketahui bersama bahwa Covid-19 memiliki daya tular 20 kali lebih kuat dibanding SARS,” kata Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro dalam acara peluncuran produk riset, teknologi, dan inovasi untuk percepatan penanganan Covid-19 yang disiarkan saluran YouTube Setpres, Rabu (20/5).
Oleh karena itu, kata Bambang, konsorsium Covid-19 yang dikoordinasi pihaknya berupaya dalam upaya pencegahan dan pengobatan terapi yang efektif.
Berbagai produk inovasi dalam negeri guna mempercepat penanganan virus pun telah diluncurkan, yaitu PCR Test Kit Covid-19, Rapid Diagnostics Test IgG/IgM Covid-19, Emergency Ventilator #BPPT3S-VENT-I, Imunomodulator Herbal Asli Indonesia, Plasma Convalesence, Mobile Lab BSL-2, Sistem AI untuk Deteksi Covid-19, Medical Assistant Robot Raisa-Autonomous UVC Mobile Robot dan Powered Air Purifying Respirator.
Bambang mengatakan produk inovasi alat kesehatan buatan dalam negeri tersebut sudah siap untuk diproduksi massal. Bambang mengungkapkan seba­gian besar produk inovasi untuk penanganan Covid-19 itu siap diproduksi sekitar bulan depan.
Menurutnya, berbagai produk inovasi yang telah diluncurkan guna menangani virus Covid-19 sudah berada dalam tahap produksi. Bambang menyebut ventilator produksi dari BPPT, UI, ITB, UGM, dan PT Dharma diperkirakan akan siap produksi mulai pekan depan.
Sementara terkait PCR Test Kit, Bambang menjelaskan sudah mendapatkan izin edar dan akan diproduksi. Menurutnya, saat ini sudah diproduksi sebanyak 10.000 unit, kemudian akan diproduksi lagi sekitar 40.000-50.000 unit di awal Juni.
Jubir pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, lewat YouTube BNPB, mengatakan rekor kasus tertinggi masyarakat Indonesia terinfeksi Covid-19 terjadi Kamis lalu. Kasus terbanyak terjadi di Jawa Timur.
Pemerintah mengingatkan cara hidup normal yang baru atau new normal harus benar-benar dilaksanakan untuk mencegah penularan virus corona.
”Peningkatan ini luar biasa dan peningkatan inilah yang tertinggi ini terjadi di Jawa Timur khususnya,” kata, Achmad Yurianto, lewat YouTube BNPB, Kamis.
Penambahan kasus sebanyak 973 per hari adalah yang tertinggi sejauh ini. Sebelumnya, rekor kasus terbanyak terjadi pada hari Rabu (20/5) dengan tambahan 693 kasus. Total kasus terkonfirmasi positif Covid adalah 20.162 pasien, 1.278 pasien meninggal dan 4.838 orang sudah sembuh.
Yuri mengingatkan akan hal mendasar bahwa kasus corona disebabkan kelompok rentan yang tertular dari orang lain yang berstatus pembawa virus atau carrier.
Tak Dilonggarkan
”Sampai saat ini Presiden belum pernah menyampaikan dan memerintahkan kepada semua Pemda untuk melonggarkan PSBB. Justru beliau meminta dalam rapat kabinet yang terakhir seluruh pemerintah daerah tetap mengawasi PSBB karena ditengarai pada beberapa pekan ini mobilitas masyarakat akan sangat tinggi terkait dengan tradisi menjelang Lebaran,” ujar Yuri.
Tim Fakultas Kesehatan Masya­rakat Universitas Indonesia (FKM UI) memperkirakan ada 1,7 juta orang yang sudah mudik dari Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek) ke kampung halamannya.
Bila balik lagi seusai Lebaran, mereka berpotensi membuat wabah corona episode kedua tapi dengan puncak kurva yang tidak tinggi.
Hal ini dipaparkan epidemiolog FKM UI Iwan Ariawan dalam webinar publik Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rabu. Dia mempresentasikan Proyeksi Epidemi Covid-19 dan Evaluasi Pelaksanaan PSBB di Indonesia disusun oleh tim FKM UI yang terdiri dari dirinya, Pandu Riono, Muhammad N Farid, dan Hafizah Jusril.
”Masalah satu lagi adalah kita bisa punya wabah episode dua, karena yang mudik ini kembali. Kalau kita lihat di Jakarta ini kasusnya sudah mulai menurun, nanti bisa naik lagi. Mungkin naiknya tidak setinggi awal, tapi ini bisa naik lagi, bisa ada puncak lagi, karena ada pemudik yang kembali ke Jabodetabek,” kata Iwan.
Berdasarkan sumber data dari Facebook Geoinsight, tim memperkirakan ada 34,9 juta orang di Jabodetabek pada 1 Januari hingga 29 Maret. Namun jumlah itu menyusut mulai 5 April karena sebagian sudah meninggalkan Jabodetabek. Pada 3 Mei, tersisa 33,2 juta orang di Jabodetabek. Sisanya, yakni 1,7 juta orang, sudah mudik ke luar Jabodetabek.
Dengan banyaknya orang yang mudik ke wilayah lain di Pulau Jawa, angka orang yang terjangkit Covid-19 dan butuh perawatan juga bertambah di kawasan Pulau Jawa di luar Jabodetabek.
Bila tanpa mudik, angka Covid-19 yang butuh perawatan rumah sakit (RS) di wilayah Jawa non-Jabodetabek lebih dari 750.000 orang. Bila dengan mudik, angka Covid-19 yang butuh perawatan RS di wilayah Jawa non-Jabodetabeik menjadi 1 juta orang.
Di Jawa non-Jabodetabek, puncak kasus Covid-19 per hari yang perlu perawatan rumah sakit bakal dimulai pada pekan kedua bulan puasa dengan puncak saat lebaran (1 Syawal 1441 H). Tanpa mudik, puncak kasus per hari yang butuh RS ada 30.000 kasus per hari. Dengan mudik, puncak kasus per hari yang butuh rumah sakit ada 40.000 per hari.
Tidak semua yang mudik itu kembali ke Jabodetabek karena ada faktor ketidakpastian pekerjaan. FKM UI membuat asumsi, 20% penduduk yang mudik ke Jawa akan kembali ke Jabodetabek. Mereka membawa tambahan sehingga yang ke Jabodetabek menjadi 25%.
Puncak gelombang corona episode 2 ini bakal terjadi usai 31 Mei. Puncak itu jauh lebih rendah dari puncak kurva corona episode 1 di Jabodetabek yang diprediksi terjadi pada Mei dengan 8.000 kasus. (detik/Bisnis)