Isi Aplikasi Cared+ Harus Jujur

JOGJA—Pelancong maupun warga DIY yang telah menginstal aplikasi pendataan diri Cared+ diminta untuk mengisi data pribadi mereka dengan jujur. Sebab, data tersebut vital untuk diketahui gugus tugas dalam upaya mitigasi jika kasus positif Covid-19 terjadi di suatu tempat. Aplikasi Cared+ tidak hanya memberikan informasi mengenai data pribadi pelancong maupun warga DIY yang berkunjung ke sebuah tempat baik itu objek wisata maupun tempat-tempat umum. Di dalamnya, juga terdapat sejumlah menu yang berkaitan dengan upaya antisipasi penularan Covid-19.
Kepala Kepala Dinas Kominfo DIY Rony Primanto Hari menjelaskan aplikasi Cared+ merupakan paspor digital bagi individu yang akan berkunjung ke objek wisata atau tempat umum, kafe, restoran, dan lain-lain. Dalam pengisiannya ada 10 buah pertanyaan yang harus dijawab. Pertanyaan sebanyak 10 buah tersebut, lanjut Rony, didasarkan kepada standar pertanyaan protokol pencegahan penularan Covid-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Pertanyaan seputar aspek kesehatan tersebut biasanya juga ditanyakan oleh petugas kesehatan saat menjumpai pasien yang ingin melakukan screening apakah mereka sudah terpapar Covid-19 atau tidak.
”Aplikasi tersebut tidak hanya melulu soal scan QR Code. Tapi ada beberapa pilihan. Seperti screening pribadi apakah seseorang punya indikasi terpapar Covid-19, informasi mengenai rekomendasi kesehatan, peta persebaran OTG, ODP, maupun PDP di sekitar kita, bahkan tips tips kesehatan agar terhindar dari penularan Covid-19,” terang Rony, Rabu (24/6).
Lebih lanjut, terkait dengan prosedur penggunaan aplikasi Cared+ sendiri, sebelum menjawab pertanyaan seputar aspek kesehatan, pengguna aplikasi Cared+ akan diminta melakukan registrasi dengan menggunakan akun Facebook maupun e-mail pribadi pengguna. Setelah proses registrasi selesai dilakukan, pengguna aplikasi akan dimintai untuk menjawab 10 pertanyaan.
Selanjutnya, setelah menjawab 10 buah pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi kesehatan si pengguna, aplikasi akan mengarahkan pengguna ke home aplikasi Cared+. Setelah itu, pengguna akan diminta untuk melengkapi data pribadi pengguna. Di antaranya, nama, jenis kelamin, tanggal lahir, nomor telepon pribadi, dan domisili. QR code yang tertera di home aplikasi Cared+ berisikan data pribadi si pengguna yang nantinya akan digunakan oleh pengelola objek wisata maupun tempat-tempat umum yang telah menerapkan scan QR Code aplikasi Cared+. Data tersebut akan dimiliki oleh pengelola tempat-tempat umum dalam melakukan pemantauan mobilitas pengunjung di tempatnya masing-masing.
Tujuan pendataan melalui aplikasi Cared+ adalah dalam rangka untuk mengantisipasi jika ternyata pada jam jam tertentu ada pengunjung yang mengunjungi sebuah tempat, beberapa hari kemudian diidentifikasi sebagai PDP Covid-19. Tracing kemudian dilakukan oleh gugus tugas penanganan Covid-19. Berdasarkan data dari aplikasi Cared+, upaya tracing bisa dengan mudah dilakukan. ”Si A ini akan ketahuan dia sudah kemana saja. Kemudian, bisa di tracing siapa saja sih yang mengunjungi tempat tersebut? Kami bisa memberikan pemberitahuan atau peringatan.
‘Tolong masyarakat yang mengunjungi tempat A pada jam A untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.’ Entah melalui WhatsApp atau SMS,” ungkap Rony.
Aplikasi tersebut diwajibkan untuk dimiliki oleh pelancong ketika berada di Jogja. Jika pelancong sudah tidak berada di Jogja aplikasi bisa dihapus. ”Seperti di Malioboro itu kan prosesnya masih agak lama, setelah seseorang mengisi aplikasi setelah scan barcode masih harus mengisi data pribadi. Kalau yang datang banyak bagaimana? Masak harus satu satu ngisi. Nanti akan terjadi kerumunan,” ujar Rony. (Catur Dwi Janati/Harian Jogja/JIBI)