Kemendikbud Siapkan Modul Belajar Mandiri BANYAK SISWA TERKENDALA JARINGAN INTERNET

JAKARTA—Kemendikbud akan menyediakan modul-modul yang memudahkan siswa yang terpaksa belajar sendiri atau minim panduan dari guru. Modul-modul tersebut akan dibuat menarik sehingga bisa mengurangi kebosanan anak.

redaksi@koransolo.co

”Ini tentunya bukan satu-satunya solusi, tetapi bagian dari upaya untuk membantu anak bisa belajar,” ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbang dan Perbukuan) Totok Suprayitno melalui keterangan resminya, Rabu (24/6). Totok menyebutkan modul disiapkan dengan pendekatan project based learning atau activity based learning. Dengan begitu, siswa tidak hanya memahami konsep sebatas yang tertuang di buku teks.”Tetapi dapat memandu anak bagaimana cara belajar dan memahaminya lebih mendalam” tambah Totok.
Kemendikbud akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk pendistribusian modul-modul cetak yang dapat membantu siswa yang harus belajar dari rumah, khusus untuk daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Kemendikbud juga mendorong dilakukannya asesmen awal bagi siswa-siswi di masa tahun ajaran baru nanti.
Dengan begitu, guru terbantu dalam mengetahui kondisi dan kemampuan belajar setiap siswa usai masa belajar dari rumah. Hal ini penting untuk memitigasi melebarnya kesenjangan kemampuan siswa, khususnya antarkelompok sosial ekonomi maupun antardaerah. “Panduan dan instrumennya sedang kami siapkan agar bisa digunakan guru melakukan asesmen,” ujar Totok.
Totok mengungkapkan pula, siswa yang berdomisili di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) ternyata masih belajar penuh dari sekolah di tengah masa pandemi virus corona atau Covid-19. Hal itu terungkap dalam survei dalam jaringan (daring/online) yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 13 – 22 Mei 2020. Survei tersebut tercatat memiliki jumlah responden sebesar 38.109 siswa dan 46.547 orang tua di seluruh jenjang pendidikan di seluruh provinsi di Indonesia.
Totok Suprayitno menjelaskan bahwa hasil survei itu, baik di wilayah 3T maupun non-3T, menunjukkan sebanyak 96,6 persen siswa belajar sepenuhnya dari rumah. Selain itu, ditemukan fakta bahwa hampir 90 persen orang tua mendampingi anaknya belajar dari rumah di semua jenjang pendidikan.
“Saya kira ini hal yang positif ketika orang tua tergerak untuk mendampingi anaknya. Meskipun ada keluhan yang menonjol, di antaranya orang tua tidak paham materi ajar,” ujarnya. Namun, dia mengatakan bahwa sebanyak 0,1 persen siswa yang berdomisili di wilayah 3T yang tidak terdampak Covid-19 masih belajar penuh dari sekolah. Alasannya, tidak ada yang mendampingi para siswa belajar dari rumah. Di samping itu, Totok menjelaskan jaringan internet yang tidak memadai menjadi salah satu alasan sehingga sejumlah siswa melakukan pembelajaran dari rumah dan di sekolah secara bergantian.
Survei juga menunjukkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi. “Masih banyak guru yang hanya memberikan penugasan mengerjakan soal-soal saja. Hal ini dikhawatirkan akan membuat anak kehilangan konsep inti dari kurikulum yang seharusnya dikuasai lebih dulu,” tambah Totok.
Bila dilihat dari cara-cara siswa belajar dari rumah, baik di wilayah 3T maupun non-3T, maka sebagian besar siswa belajar dengan mengerjakan soal dari guru, sedangkan pembelajaran interaktif dilakukan oleh kurang dari 40 persen siswa. (bisnis.com/JIBI)