Takut Makan Korban, Singkirkan Benang Layangan di Jalan

SOLO—Sri Yuli Maya Wijayanti, 40, warga Sum­ber, Banjarsari, Solo, mem­peroleh apresiasi dari masya­rakat seusai aksinya meng­amankan benang layangan di Jl. Ahmad Yani atau di sebelah barat Simpang Em­pat Gembongan, Selasa (23/6) sore.
Belasan meter benang la­yangan yang melintang di ruas jalan raya itu berhasil diamankan wanita berambut merah itu.
Maya sapaan akrabnya, kepada Koran Solo, Kamis (25/6), mengatakan sempat ingin menangis seusai mengetahui kabar seorang pemuda asal Sumber, Banjarsari, meninggal dunia seusai kecelakaan tunggal diakibatkan benang layangan menyayat lehernya. Selang beberapa hari, seorang perempuan warga Sumber kembali menjadi korban luka-luka akibat benang layangan.
”Kedua korban berasal dari Sumber, sedangkan saya warga Sumber. Saya sedih mendengar kabar itu. Jangan sampai ada korban lagi karena benang layangan,” ujar Maya.
Hingga akhirnya, saat Maya bekerja di wilayah Gembongan, temannya melihat benang layanan melintang di Jl. Ahmad Yani. Tanpa berpikir panjang bahkan tanpa memedulikan pakaian yang Maya pakai, ia langsung berlari mengambil benang itu.
”Saya spontan saja saat itu, kalau soal video memang teman saya sering mengambil gambar di setiap aktivitas,” imbuh Maya.
Ia menjelaskan benang layangan itu berwarna merah muda sepanjang belasan meter. Ia langsung menggulung benang itu di tengah median jalan. Ia tidak mengetahui sejak kapan benang layangan itu melintang di kabel itu. Namun, ia baru mengetahui sekitar pukul 15.00 WIB saat benang itu terbawa angin.
”Benang itu saya tarik-tarik tidak bisa, panjang sekali benangnya. Sampai tangan saya panas. Lalu saya minta tolong mas-mas di sekitar situ untuk mengamankan benangnya. Saat itu tidak ada alat untuk memotong, tapi ini sudah kami amankan agar tidak melintang. Saya ikatkan di pohon peneduh sampai aman,” ujar Maya. (Ichsan Kholif Rahman)