Kecanduan Makan Mi Instan

redaksi@koransolo.co

Viral kisah pria asal Bogor harus menerima kenyataan tidak bisa makan mi instan seumur hidupnya. Kondisi radang kerongkongan yang diidapnya pun mendapat sorotan dari banyak netizen.
Saat dikonfirmasi detikcom, Tomy membenarkan cerita tersebut. Dia mengisahkan, sekitar 13 hingga 14 tahun lalu, saat masih kuliah, pria berusia 32 tahun ini mengaku tidak mengatur pola makan sebagaimana mestinya. Bahkan, tiga kardus mi bisa ia konsumsi hanya dalam tiga pekan.
“Dalam waktu seminggu, gue bisa menghabiskan setengah kardus mi instan baik itu kuah atau goreng. Bahkan, rekor yang pernah gue alami adalah tiga kardus dalam waktu tiga minggu,” tulis Tomy dalam postingan di akun Facebook miliknya, Sabtu (20/6).
Pada awal 2020 ia mulai merasa ada yang aneh dengan kerongkongan dan lambungnya. Bahkan, saat buang air besar (BAB) fesesnya berwarna hitam pekat dan tercium aroma darah keluar dari mulutnya.
Di rumah sakit, dia melakukan berbagai macam serangkaian pemeriksaan oleh dokter. Hingga akhirnya dokter menyatakan Tomy mengalami radang kerongkongan yang sudah cukup parah dan berisiko menjadi kanker kerongkongan bila pola makannya tidak dijaga. Salah satu pantangannya adalah tidak diizinkan makan mi instan lagi selama seumur hidup.
Menanggapi kasus itu, dokter Denny Handoyo Kirana, SpOnk-Rad, dari Siloam Hospitals MRCCC Semanggi dan telekonsultasi di dokterkankerku.com, menjelaskan ada beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang tidak boleh makan mi instan sementara seperti radang tenggorokan, radang usus, hingga kondisinya membaik terlebih dulu. Namun bagaimana dengan orang yang dinyatakan pantang makan mi instan atau makanan lain seumur hidup?
“Ada kasus yang seumur hidup nggak boleh makan makanan tertentu adalah kalau pertama orang itu alergi, ada orang yang alergi pada zat tertentu di dalam mi instan, atau alergi pada kopi. Kalau orang tahunya kan lebih ngetren orang alergi pada seafood, kalau makan kan dia badannya bisa gatel, merah-merah,” ungkapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (24/6).
“Beberapa kandungan di dalam mi instan juga ada yang bisa berisiko bikin orang itu alergi. Jadi kalau makan mi instan dia bisa langsung sakit tenggorokan misalnya, atau habis makan mi instan dia diare, sudah jelas dia nggak boleh makan. Kalau makan itu lagi, maka reaksinya akan makin terulang dan semakin parah nantinya,” lanjut dr Denny.
Selain itu, dr Denny menjelaskan ada beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang dipantang untuk mengonsumsi mi instan, kopi, atau makanan instan lain seumur hidupnya. Hal ini berkaitan dengan gangguan pada pencernaan.
“Kondisi gangguan pada pencernaan, tadi kan misalnya tentang kopi, kopi dan beberapa makanan instan lain memiliki tingkat keasaman, apalagi kan kopi ada yang jenisnya robusta, arabica, kopi tertentu itu kadar asamnya sangat tinggi. Jadi orang yang memiliki gangguan pencernaan misalnya sakit maag atau kondisi lain namanya irritable bowel disease itu jelas nggak boleh konsumsi kopi, khususnya yang kopi jenis arabica,” jelas dr Denny.
“Mi instan juga sama, orang yang punya gangguan sakit maag, atau irritable bowel disease sebaiknya menghindari mi instan,” pungkasnya.
Mengapa Mi Instan Bikin Ketagihan?
Rasa yang khas dan cara memasak yang praktis jadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta mi instan. Akan tetapi, hati-hati kalau Anda sudah ketagihan mi instan. Jika dikonsumsi secara berlebihan, mi instan sangat berisiko bagi kesehatan.
Sebelum mengatasi akar masalahnya, coba cek tanda-tanda di bawah ini. Jika kondisi-kondisi berikut sesuai dengan keadaan Anda, itu berarti Anda sudah ketagihan mi instan.
1. Sering muncul keinginan makan mi instan padahal sudah makan dan tidak sedang lapar.
2. Ketika akhirnya makan mi instan, Anda makan berlebihan. Misalnya sampai dua porsi atau lebih.
3. Merasa bersalah setelah makan mi instan, tapi akan tetap makan lagi setiap ada kesempatan.
4. Mencari-cari alasan untuk makan mi instan.
5. Mencoba menutup-nutupi ketagihan ini dari orang lain, misalnya dari orang tua atau pasangan.
6. Tak mampu mengendalikan diri meskipun tahu (atau pernah merasakan) bahaya kebanyakan makan mi, misalnya berat badan bertambah. (Jeda.id)