Protokol Pesta Pernikahan Dilonggarkan Pengantin Boleh Tak Bermasker

SOLO—Pemerintah Kota (Pemkot) Solo terus memberikan kelonggaran-kelonggaran aktivitas dan pemanfaatan fasilitas umum.

Akhmad Ludiyanto
redaksi@koransolo.co

Salah satunya pada pesta pernikahan di gedung, pengantin, orang tua dan besan boleh tidak memakai masker. Hal tersebut disampaikan Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo saat memberi sambutan pada acara penyerahan bantuan perkerasan (paving block) dari Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) kepada Pemkot di SDN Purwodiningratan, Jebres, Solo, Sabtu (27/6).
Bersambung ke Hal 2 Kol. 1
Namun Rudy, sapaan akrab Wali Kota, tetap memberi syarat penerapan protokol kesehatan pencegahan persebaran Covid-19.
“Pesta pernikahan ini sudah kami buatkan acuan. Pengantin, orang tua dan mertua tetap berada di pelaminan tanpa masker. Tidak ada acara bedol manten, tidak boleh ada salaman. Begitu juga dengan hidangan, disajikan dengan piring terbang tetapi tidak boleh digeser [estafet] oleh tamu. Tamu diberi piring satu persatu oleh petugas. [Pelonggaran ini karena] pernikahan adalah momen sekali seumur hidup bagi pasangan,” ujarnya.
Sementara itu, pelonggaran ini diatur dengan surat dengan surat edaran (SE) Wali Kota Solo Nomor 067/1210 tentang Perubahan Kedua Atas Pedoman Teknis Pelaksanaan Penanganan Covid-19, tertanggal 26 Juni 2020.
Dalam SE itu disebutkan, Pemkot melakukan pelonggaran kegiatan fasilitas tempat ibadah, tempat hiburan, rumah makan/restoran/kafe, pusat perbelanjaan/mal, pusat kuliner, gedung pertemuan, dan hotel.
Ketentuannya, sebelum melaksa­nakan kegiatan, pengelola kegiatan/tasilitas tersebut mengirimkan proposal kepada Ketua Gugus Tugas Covid-19 Kota Solo. Jumlah pengunjung/peserta yang diperbolehkan mengikuti kegiatan itu maksimal 50 persen dari kapasitas lokasi.
Untuk pertemuan massal durasinya dibatasi maksimal dua jam. Semuanya harus mendapatkan persetujuan atas proposal tersebut dari Ketua Gugus Tugas Covid-19 Kota Solo.
Batas usia pengunjung juga dilonggarkan menjadi 15 tahun ke atas. Sebelumnya anak-anak yang dilarang ke pasar dan pusat perbelanjaan adalah yang ber­usia di bawah 5 tahun.
“Melarang anak-anak di bawah usia 15 tahun, ibu hamil, dan orang lansia untuk memasuki pasar tradisional, toko modem, pusat perbelanjaan, tempat hiburan, tempat wisata, dan tempat bermain.”
Pengelola kegiatan juga wajb menjalankan protokol kesehatan dengan menyediakan tempat cuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun, menyediakan alat pengecekan suhu tubuh, hand sanitizer, memakai masker, mengatur jarak aman minimal satu meter dan menolak pengunjung/pembeli/pelanggan yang tidak memakai masker.
Sementara itu, salah satu pelaku bisnis penyelenggara acara pernikahan, Anna Marita mengatakan pelonggaran ini akan mendorong geliat eko­nomi, khususnya di Kota Solo. “Pelonggaran ini tentu memperbesar harapan para pelaku bisnis terkait untuk bangkit dan berkembang lagi setelah terpuruk akibat sepinya acara di masa pandemi Covid-19,” ujar pemilik Samara Dana Wedding Organizer ini.
Jateng Salip Jabar
Sementara itu kasus positif Covid-19 di Jawa Tengah (Jateng), Sabtu (27/6), menempati urutan keempat setelah, Jawa Timur (Jatim), DKI Jakarta, Sulawesi Selatan.
Kasus Covid-19 di Jateng menyalip jumlah kasus positif di Jawa Barat (Jabar). Jumlah kasus positif Covid-19 terbanyak se-Indonesia yakni Provinsi Jatim dengan total 11.176 pasien. Disusul DKI Jakarta dengan 10.994 pasien, Sulawesi Selatan 4.615, Jateng 3.294 kasus positif, serta Jabar dengan 3.064 pasien.
Jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia per Sabtu bertambah 1.385 orang. Dengan demikian sampai saat ini Indonesia tercatat memiliki 52.812 kasus orang terpapar virus corona.
Dari angka tersebut, sebanyak 21.909 telah dinyatakan sembuh. Jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia yang dinyatakan sembuh per hari ini bertambah 576.
Sementara jumlah pasien meninggal tambah 37, sehingga totalnya menjadi 2.720 orang. Adapun wabah Covid-19 ini telah menyebar ke 448 kabupaten/kota di 34 provinsi se-Indonesia.
Juru bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, dalam jumpa persnya, mengatakan jumlah orang dalam pantauan (ODP) saat ini sebanyak 40.541. Sementara total pasien dalam pengawasan (PDP) hingga saat ini ada 13.522.
Dengan total kasus positif Covid-19 tersebut, Indonesia tercatat berada di nomor 28 negara terdampak se-dunia. Adapun angka kematian akibat penyakit ini adalah 10 orang per satu juta penduduk.
Melihat jumlah kasus positif yang terus meningkat, Achmad Yurianto, tak hentinya meminta masyarakat menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Salah satunya memakai masker setiap kali keluar rumah atau berinteraksi dengan orang lain.
Yuri menambahkan penerapan new normal semestinya tidak membuat masyarakat mengabaikan risiko penularan Covid-19. Apalagi belakangan ini jumlah kasus di Indonesia bertambah 1.000 pasien per hari. (JIBI/Solopos.com/Chelin Indra Susmita)