Seribuan Orang Tolak RUU HIP

SRAGEN—Seribuan orang dari berbagai ormas Islam di Sragen dan Soloraya berkumpul di seputaran Alun-alun Sasana Langen Putra Sragen, Jumat (26/6).

Tri Rahayu
redaksi@koransolo.co

Mereka menyerukan penolakan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) dan Partai Komunis Indonesia (PKI) dari Indonesia.
Para pimpinan ormas yang tergabung dalam Forum Umat Islam Sragen (FUIS) menuntut penegak hukum untuk mengusut tuntas perseorangan, lembaga, atau partai politik yang mengusung RUU tersebut. Massa aksi tak hanya berkumpul di alun-alun, tetapi juga menyebar di trotoar selatan dan utara sepanjang Jl. Raya Sukowati Sragen.
Mereka membawa atribut bendera Merah Putih, bendera ormas, dan membentangkan spanduk berisi penolakan RUU HIP dan komunisme dari Indonesia.
Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sragen Dodok Sartono mendapat kesempatan pertama untuk orasi dan menyatakan sikap Muhammadiyah sebagai bagian dari FUIS. Dodok mengajak seluruh elemen umat Islam di Sragen bersama-sama menyelamatkan NKRI dan Pancasila dari upaya kudeta komunisme.
“Akhir-akhir ini umat Islam mendapat pelajaran berharga dari para legislator yang dipilih rakyat. Pertama, munculnya RUU HIP yang menunjukkan dampak pemilu Indonesia di mana warga tidak memilih orang yang mewakili umat Islam, tetapi memilih berdasarkan uang Rp50.000-Rp100.000,” ujarnya.
Kedua, indikasi legislator yang mengajukan RUU HIP karena keinginan dan kepentingan. Dodok meminta masyarakat memilih orang yang benar-benar baik jalannya. Dia menginginkan orang yang mengusung RU HIP diusut tuntas,
Ketiga, MPRS No. 25/1966 yang membubarkan PKI masih berlaku. Dodok menilai keberadaan RUU seolah-olah menghilangkan agama dalam berbangsa dan bernegara serta memeras Pancasila yang awalnya trisila menjadi eka sila.