Sragen Galakkan Razia Masker Menghafal Pancasila & Diminta ke Kantor Satpol PP

Tri Rahayu

SRAGEN—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen menggalakkan razia masker di pasar tradisional. Sebanyak 40 orang anggota tim gabungan menggelar operasi/razia warga yang tidak mengenakan masker di Pasar Bunder Sragen, Sabtu (27/6).
Waginem sedikit gugup saat melihat rombongan petugas berseragam memasuki pasar. Perempuan berusia 58 tahun itu bergegas memanfaatkan hijab warna hijau yang dipakainya sebagai penutup mulut dan hidungnya. Sekilas petugas melihat perempuan asal Gempol, Sambirejo, Sragen itu sudah mengenakan masker.
Bersambung ke Hal 2 Kol. 4
Tanpa sengaja Waginem yang belanja aneka sayuran itu melewati dua orang petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sragen yang tengah berburu orang yang tak pakai masker. Salah satu petugas Satpol PP, Indarwati, mencurigai ibu itu dan seraya menghentikan langkahnya. “Maaf, Bu. Bisa tanya-tanya sebentar ya?” sapa Indarwati sopan.
Wagiyem semakin gugup dan terpaksa harus menjawab sapaan ramaah itu. Ia ditanya mengapa tak memakai masker? Indarwati yang didampingi Joko Pinarmo itu juga menanyakan identitasnya, alamatnya, dan menuangkan dalam selembar kertas kecil. Wagiyem tak bisa menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
“Saya sudah biasa ke pasar ini. Tadi terburu-buru sehingga maskernya tertinggal di sepeda motor. KTP tidak bawa juga,” aku Wagiyem.
Joko Pinarmo yang memperhatikan jawaban yang aneh itu kemudian meminta Wagiyem untuk bernyanyi. Wagiyem menggeleng. Joko meminta menghafal Pancasila. Wagiyem juga tidak bisa.
Joko juga meminta membaca surat Alfatihah, ternyata Wagiyem juga mengaku tidak bisa. Akhirnya Wagiyem mendapat secarik kertas berisi undangan untuk datang ke kantor Satpol PP pada Selasa (30/6) pukul 09.00 WIB.
Tim gabungan tidak berhenti berkeliling dari los ke los, dari gang ke gang. Mereka kembali menemukan seorang laki-laki yang membeli kacang hijau dengan mengenakan helm dengan kaca ditutup untuk menutupi mukanya.
“Hlo, Bapak enggak pakai masker?” tanya Joko kepada warga asal Kampung/Kelurahan Kroyo, Karangmalang, Suratman, 59.
“Tadi terburu-buru saat tanam kacang hijau kehabisan bibit. Kemudian lari ke pasar beli bibit kacang hijau. Helm ini kan bisa jadi masker,” ujar Suratman mengelak.
Alasan Suratman tak diterima petugas. Identitas Suratman diminta untuk dicatat. Suratman diberi sanksi untuk menghafalkan lima sila Pancasila karena terbukti tak pakai masker. “Pancasila, satu Ketuhanan yang Maha Esa. Kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradap. Ketiga, per…Persatuan Indonesia. Keempat, ke…ke…Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Kelima, ke.. ke… Kedailan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” ujarnya sembari dipancing petugas untuk menghafalnya.
Bukan hanya Suratman, petugas juga menjumpai seorang pedagang asal Sawangan, Purwosuman, Sidoharjo, Didik Kusniyadi, 36, yang santai makan soto. Didik mengaku lupa membawa masker karena terburu-buru jualan berat ke pasar. Didik juga diminta menghafal sila Pancasila. Didik tidak hafal meskipun dipancing dengan kata-kata oleh petugas. “Kedua, ke..kemajuan…Kemanusiaan…Yang Adil dan Beradab…,” kata Didik. Sila keempat dan kelima tak hafal sama sekali. “Lima, Keadilan sosial bagi Kemanusiaan…Bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” katanya.
Didik juga diberi secarik kertas untuk mengambil KTP di Satpol PP. Pada bagian belakang kertas itu ditulisi perintah untuk menghafalkan lima sila Pancasila. “Besok kalau ambil KTP harus hafal Pancasila dulu,” seletuk Joko Pinarmo.
Selain itu, petugas razia masker menemukan seorang pedagang makanan ringan yang juga salah satu Ketua RW Talangrejo, Kroyo, Karangmalang, Sragen, Widodo, 48, tidak mengenakan masker. Widodo agak malu-malu karena biasa memberi imbauan untuk memakai masker kepada warganya tetapi justru lupa membawa masker saat jualan. “Iya, tadi habis antar lauk pauk ke rumah simbah lalu langsung ke pasar. Ya, memang tidak bawa masker,” kata Widodo.
Widodo pun dihukum meng­hafalkan lima sila Pancasila. Widodo menghafal lima sila itu di luar kepala dan cepat. Ia juga diminta datang ke Satpol PP untuk mengambil KTP.
18 Orang Terjaring
Operasi yang berjalan selama satu jam tersebut hanya menjaring 18 orang pengunjung dan pedagang yang tidak mengenakan masker dengan berbagai alasan. Alasan mereka ada yang tertinggal di motor, ada yang tertinggal di rumah karena terburu-buru, dan seterusnya.
Tim gabungan itu berasal dari Satpol PP, TNI, Polri, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen. Razia masker tersebut dipimpin Kepala Satpol PP Sragen Heru Martono.
“Target satu jam selesai. Tim dibagi menjadi empat. Masing-masing bergerak dari pintu timur, barat, utara dan selatan. Dua tim di pintu utama cukup berjaga di dua pintu itu. Sedangkan dua tim di pintu selatan dan utara nanti bergerak hunting pedagang dan pengunjung yang tidak pakai masker,” jelas Heru saat memberi pengarahan sebelum razia dilakukan.
Tim bergerak jalan kaki dari Kantor Satpol PP Sragen menuju Pasar Bunder Sragen yang berjarak sekitar 200 meter. Heru memerintahkan bila menemukan warga yang tidak membawa masker supaya disita KTP yang bersangkutan dan supaya mengambil ke Kantor Satpol PP Sragen. Mereka bergerak sesuai arahan Heru. Heru pun memantau langsung ke lapangan dengan berkoordinasi dengan Lurah Pasar Bunder Sugino.
“Hasilnya hanya 18 orang yang diketahui tidak mengenakan masker. Padahal jumlah pedagangnya mencapai 2.000-an orang belum lagi jumlah pengunjungnya. Jadi hasil operasi masker ini luar biasa. Saya berani pastikan 99% pengunjung dan pedagang di Pasar Bunder Sragen sudah sadar mengenakan masker. Nah, saya tidak tahu dipasar lain seperti apa sehingga perlu ada tindak lanjut,” jelas Heru.
Dari pihak DKK pun menyampaikan kepada Heru bahwa pasar bukan menjadi klaster dalam persebaran Covid-19. Heru cukup puas dengan hasil operasi masker karena rencana tersebut tidak bocor.
Heru sudah berkoordinasi dengan lurah pasar dan ternyata lurah pasar pun baru tahu kalau ada razia masker. “Kesadaran pedagang di Pasar Bunder cukup tinggi tetapi kadang maskernya hanya sebagai hiasan di leher. Saya harus terus mengingatkan supaya maskernya dipakai setiap hari,” kata Lurah Pasar Bunder Sugino.