”Tindak Oknumnya, Bukan Merobohkan Tugunya!

SRAGEN—Seorang warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) asal Masaran, Sragen, Sugiyamto, menyatakan keberatan bila tugu PSHT dirobohkan atau dibongkar karena tugu tersebut menjadi simbol kebesaran PSHT. Mestinya yang ditindak itu oknum pembuat kerusuhannya bukan tugu yang sebuah benda mati yang tidak bersalah apa-apa.
Penjelasan tersebut diungkapkan Sugiyamto yang juga legislator DPRD Sragen saat berbincang dengan Koran Solo di Sragen, Sabtu (27/6). Penjelasan itu juga sebagai respons atas pernyataan Kapolres Sragen AKBP Raphael Sandhy Cahya Priambodo yang berencana merobohkan 206 tugu perguruan silat di Sragen.
“Saya minta dengan sangat kepada semua elemen yang ikut rapat di Sekretariat Daerah (Setda) kemarin [Jumat, 26/6] bisa berpikir jernih. Tugu itu merupakan sombol kebesaran perguruan pencak silat yang dibangun secara swadaya dengan biaya tinggi. Bila ada permasalahan antarperguruan mestinya yang ditindak itu oknumnya bukan tugunya. Oknum keributan dipanggil dan diproses secara hukum bukan tugu yang berupa benda mati jadi yang tidak bersalah jadi sasaran,” ujar Sugiyamto.
Dia menyatakan semua masalah itu mestinya berpijak pada hukum. Dia mengatakan proses hokum dihormati karena hal itu bagian dari demokrasi. Dia mengatakan munculnya permasalahan itu sebenarnya ketika ada hajatan warga yang disertai dengan hiburan kemudian ada oknum yang membuat keributan. Kalau seperti itu, Sugiyamto bertanya apa kemudian penyelenggara hiburan dilarang atau senimannya yang dilarang? Mestinya pokok permasalahan ada pada oknumnya. “Kalau rencana itu dibiarkan, saya khawatir bukan hanya tugunya yang dirobohkan tetapi padepokan juga bisa dirobohkan,” ujarnya.
Sugiyamto yang menerima aspirasi dari bawah menyampaikan warga PSHT tetap berkomitmen untuk mempertahankan tugu tersebut. Dia meminta proses hukum harus berjalan. Dia mengatakan pembangunan tugu itu bisa menelan dana Rp8 juta-Rp10 juta bahkan ada yang tugunya besar bisa menghabiskan Rp25 juta. “Hampir mayoritas warga menghendaki tugu tidak dibongkar,” katanya. (Tri Rahayu)