Tempat Isolasi jadi Pasar Rakyat

Taufiq Sidik Prakoso

KLATEN—Masih ingat dengan kisah perantau asal Klaten, Abdullah Almabrur, 42, yang mengisolasi diri di pinggir Kali Kecu, Dukuh Ngaran, Desa Mlese, Ceper, Klaten dan dimuat Koran Solo, April lalu?
Lokasi bantaran sungai tersebut saat ini ramai karena menjadi pasar tradisional pada hari-hari tertentu. Seperti yang terlihat, Minggu (28/6). Rumpun bambu menaungi kawasan bantaran Kali Kecu dari sengat matahari. Berlantai tanah, kawasan bantaran itu bersih dari sampah daun.
Riuh warga membuat kawasan itu ramai. Mereka menunggu pesanan makanan datang dari para pedagang yang berjualan di kawasan itu.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 4
Di tepian sungai, para pemancing menanti joran yang dipasang melengkung pertanda umpan dimakan ikan.
Ada pula yang sekadar duduk di bawah gazebo menikmati suasana adem di kawasan sungai yang berbatasan dengan wilayah Gatak, Kecamatan Ngawen tersebut.
Kawasan bantaran sungai itu disulap menjadi Pasar Rakyat. Pasar Rakyat menjadi agenda rutin warga di bantaran Kali Kecu selama lebih dari sebulan terakhir. Pasar rakyat muncul setelah kawasan bantaran itu bersih dari tumpukan sampah.
Adalah Abdullah Almabrur, 42, salah satu warga setempat yang menginisiasi pembersihan kawasan bantaran sungai itu. Kegiatan tersebut dia awali saat menjalani isolasi mandiri lantaran baru pulang dari perantauan.
Pada pertengahan April lalu, Almabrur pulang kampung ke Dukuh Ngaran dari perantauan di Pekanbaru. Pulang di tengah pandemi Covid-19, Almabrur wajib isolasi mandiri.
Cara dan lokasi isolasi mandiri yang dia pilih pun tak biasa, tinggal seorang diri di dalam tenda di tepi Kali Kecu selama 14 hari. Mengisi kesibukan selama isolasi mandiri, Almabrur membersihkan bantaran sungai. Kegiatan itu dia lakukan setelah ada sahabatnya yang mengompori.
“Saya terketuk dari salah satu teman namanya Mas Danang [pegiat lingkungan di Klaten]. Kamu itu ngapain, kalau hanya di sini [bantaran sungai] tidur dan mendengarkan musik. Itu ada kali mbok dibersihkan,” kata Almabrur menirukan kalimat yang diucapkan Danang, Minggu.
Almabrur mulai tergerak membersihkan bantaran sungai seorang diri. Bermodal sapu dan parang, Almabrur membersihkan tumpukan sampah daun dan membuat tangga dari bambu. Aksi bersih-bersih sungai itu tak terhenti setelah isolasi mandiri rampung.
Justru kegiatan bersih-bersih sungai kian masif. Almabrur menggerakkan seluruh anggota keluarganya membersihkan bantaran sungai tersebut. Warga pun ikut tergerak membantu membersihkan kawasan sungai yang berada di belakang perumahan warga serta makam.
“Kemudian kami bergerak ke pemancingan. Kami menaburkan lele 15 kg ke sungai dari hasil gotong-royong biar mereka [warga] senang dengan sungai. Sebelum memancing itu kami ajak untuk membersihkan sungai dan bantaran,” kata Almabrur.
Kondisi kawasan bantaran yang sebelumnya penuh sampah dan daun menjadi bersih lengkap dengan gazebo. Kawasan sungai ramai kedatangan pemancing serta anak-anak yang bermain di alur sungai. Saat malam, kawasan itu tetap ramai oleh pemancing atau warga yang datang sekadar nongkrong diterangi sekitar 10 lampu.
Hingga tercetus ide mengembangkan pasar rakyat setelah ada warga yang berniat berjualan di kawasan itu.